Itsar, Tetap Memberi Meski Sulit Sekali

 

Oleh:

Ust. Masyhuda Al-Mawwaz

images (1)Bersedekah, memberikan harta kepada orang lain, berapapun nilainya, tidaklah mudah, karena berlawanan dengan salah satu sifat dasar manusia yang sangat irit (Qatuur) dan pelit (manuu’), serta harus melawan tujuh puluh setan yang terus berusaha menjegal langkah bersedekah. Apalagi jika memberi itu di kala kita sendiri dalam keadaan susah.

Adalah sang kekasih yang barangkali hati belum berhasil mencintainya sepenuh hati, Baginda Rasulullah SAW, sebagai manusia yang paling baik akhlaknya dan tidak pernah menolak jika dimintai sesuatu,[1] beliau mampu melakukan hal yang sangat berat tersebut. Beliau masih mampu memberikan sesuatu kepada orang lain meski beliau sendiri sedang membutuhkan atau bahkan bisa dengan lapang dada memberi meski tidak memiliki apapun yang dapat diberikan.

Dalam bahasa Al-Qur’an, kondisi tetap memberi meski dalam kondisi sulit sekali ini disebut dengan Itsar, atau mendahulukan orang lain. Sikap Itsar ini tentu tidak akan muncul kecuali dari seseorang yang dalam hatinya telah tertanam dan tumbuh subur kedermawanan. Selain mudah mendahulukan orang lain, jiwa yang dermawan cenderung akan sangat menghindari karena risih jika harus berebutan sesuatu peluang rizki dengan sesama teman atau saudara. Ia cenderung akan bersikap mengalah dan memberikan kesempatan kepada sesama. Sebaliknya seseorang yang tidak dermawan, maka ia tidak akan pernah mendahulukan orang lain, justru bisa jadi ia akan terpeleset melakukan kesalahan dengan menyerobot hak orang lain, atau bisa jadi ia tidak akan mampu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk beroleh sesuatu seperti dirinya.

Sikap Itsar Rasulullah SAW bisa kita saksikan dalam riwayat berikut ini:

Sahl bin Saad ra bercerita:

[Seorang wanita datang membawa hadiah sebuah kain bergaris yang pinggirnya terhias pintalan-pintalan benang. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, saya telah menenun kain ini sendiri secara khusus dengan tanganku agar engkau memakainya!” Rasulullah SAW pun menerima (hadiah itu karena) memang ketika itu beliau membutuhkan. Tidak (lama kemudian) beliau hadir di hadapan kami dengan mengenakan kain itu sebagai sarung.  Seseorang lalu berkata (meminta): “Wahai Rasulullah, berikanlah kain itu untuk saya pakai!” Rasulullah SAW pun mengiyakan. Nabi SAW lalu duduk sebentar di majlis dan kemudian kembali ke (hujrah) untuk melipat kain itu dan mengirimkannya kepada orang tersebut.

Orang-orang pun menegur orang tersebut: “Kamu telah berbuat kurang baik, karena meminta kain itu padahal telah mengerti bahwa beliau tidak pernah menolak orang yang meminta.” Orang itu menjawab: “Sungguh aku tidak meminta kecuali agar kain itu kelak menjadi kafanku ketika kematianku.”

images (3)

Sahl memberikan kesaksian: “Di kemudian hari kain itu memang benar-benar menjadi kafannya.”][2]

Hadits ini juga menjadi dalil tentang diperbolehkannya mempersiapkan kain kafan untuk diri kita sendiri serta juga disyariatkannya mengambil berkah (tabarruk) dari atsar atau bekas orang-orang shaleh.

Umar bin Khatthab ra bercerita:

[Seseorang datang meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW. Beliau SAW lalu bersabda: “Aku tidak memiliki apapun (yang bisa diberikan), tetapi silahkan kamu membeli (apapun yang kamu butuhkan) atas namaku. Nanti jika sudah ada sesuatu, maka aku pasti membayarnya. Umar ra berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa engkau memberinya? Bukankah Allah tidak memaksa kecuali sesuai kemampuanmu?!” Ucapan Umar ra ini membuat Rasulullah ra tidak senang, sehingga seorang Anshar berkata:

يَارَسُوْلَ اللهِ أَنْفِقْ وَلَا تَخَفْ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا

“Wahai Rasulullah, berinfaklah, dan jangan khawatir kemiskinan dari Tuhan Pemilik Arasy.

Mendengar ini, Rasulullah SAW tersenyum dan kelihatan sekali di wajah beliau (ada rasa senang) karena ucapan sahabat Anshar ini. Kemudian beliau SAW bersabda: “Seperti inilah yang diperintahkan kepadaku.][3]

Abdullah bin Luhayy al-Himyari bercerita:

[Aku bertemu dengan Bilal ra, sang muadzdzin Rasulullah SAW di Halab (Aleppo) dan bertanya: “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang nafkah Rasulullah SAW!” Bilal ra lalu menjelaskan: “…lalu jika seorang muslim yang miskin datang, maka beliau SAW memberikan perintah kepadaku agar pergi mencari pinjaman, lalu membeli makanan dan pakaian untuk diberikan kepadanya…][4]

Sikap Itsar Rasulullah SAW juga diteladani oleh para sahabat beliau. Salah satunya adalah kisah seseorang yang datang (bertamu) kepada Nabi SAW. Ia berkata: “Sungguh saya sangat lapar.” Nabi SAW lalu mengirim orang untuk datang kepada salah seorang isteri. Isteri beliau memberikan jawaban: “Demi Tuhan yang mengutusmu dengan benar, tidak ada yang saya miliki kecuali air.” Kembali beliau mengirim orang untuk bertanya kepada isteri beliau yang lain.. dan semua mengatakan hal yang sama. Nabi SAW lalu bersabda: “Siapakah orang yang mau menyuguh tamuku ini? Semoga Allah merahmatinya.” Salah seorang dari Anshar bangkit (dan menyatakan kesediaan): “Saya wahai Rasulullah.”

Lelaki Anshar itu kemudian mengajak tamu Rasulullah SAW tersebut pulang ke rumahnya. Ia berkata kepada isterinya: “Apakah di sisimu ada sesuatu (makanan)?” Isterinya menjawab: “Tidak, kecuali hanya makanan untuk anak-anakku.” Ia berkata: “Kalau begitu, bujuk mereka dengan sesuatu (hingga lupa makan. Pent), dan ketika tamu kita masuk, maka segera padamkan lampu, perlihatkanlah kepadanya bahwa kita sedang makan….!” Mereka pun duduk bersama tamu yang sedang makan.

images (2)

Keesokan harinya mereka datang kepada Nabi SAW, dan beliau bersabda: “Sungguh Allah bangga dengan perlakuan kalian berdua kepada tamu kalian tadi malam.”[5]

Perilaku Abu Thalhah ra (berbeda dengan Abu Thalhah ra pemilik kebun kurma Bairuha’)  ini pun dipuji dan diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ…

“…dan mereka mendahulukan (orang lain) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka sendiri dalam keadaan sangat membutuhkan…”[6]

Jadi para sahabat ra, sebagai generasi terbaik umat manusia yang pernah menghuni bumi ini, di antara akhlak mereka adalah tidak menjadikan harta sebagai rebutan. Justru hati mereka begitu lapang untuk mendahulukan orang lain yang membutuhkan agar meraihnya meski sebenarnya diri mereka sendiri membutuhkannya. Kisah dalam perang Yarmuk (13 H/636 M) di mana tiga orang sahabat (Harits bin Hisyam ra dan sang keponakan yaitu Ikrimah ra (bin Abu Jahal), dan seorang lagi) yang sedang menderita luka parah saling menolak untuk meminum seteguk air demi mendengar rintihan kehausan temannya sehingga mereka semua wafat sebelum meneguk air tersebut, kiranya harus terus diingat dan dijadikan target pencapaian makna ukuhuwwah islamiyyah yang sebenarnya.

Jadi itsar, mendahulukan saudara dalam urusan dunia, juga di antara wujud komitmen sangat tinggi terhadap persaudaraan, kebersamaan, dan kejamaahan.

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]H.R. al-Bukhari no: 6034 dari Jabir ra

[2]H.R. al-Bukhari no:1277/2093

[3]Lihat  Wasa’il Wushul ilaa Syama’il ar Rasul SAW Imam An-Nabhaani, hal 247, Cet. Darul Minhaj, 1430 H

[4]Lihat Hayatush Shahabat bab Kaifa Kaanat Nafaqatunnabiyy SAW hal 349, cet. Darul Kutub al-Imiyyah, 1428 H

[5]H.R. Muslim no:2054, Kitab al-Asyribah bab (32) Ikraamid Dhaef wa Fadhl Iitsaarihi

[6]Q.S. al-Hasyr: 9