Jihad

JIHAD

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

” مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ “

“Barang siapa terbunuh karena membela hartanya, maka dia mati syahid; barang siapa terbunuh membela agamanya, dia syahid; barang siapa terbunuh membela darahnya (dirinya), dia syahid; dan barang siapa terbunuh membela keluarganya, maka dia mati syahid.”

 

ARTI KALIMAT

  1. ( دُونَ ) : Arti asalnya: di bawah. Namun di sini memiliki arti “karena membela atau mempertahankan“. Sebab orang yang membela atau mempertahankan sesuatu berharga miliknya, dia akan melindunginya dari apapun yang dapat melenyapkannya dari hak miliknya dengan menaruhnya di belakang atau di bawah dirinya.
  2. ( مَالِهِ   ) : Sesuatu yang berharga berupa materi.
  3. ( شَهِيدٌ ) : Orang yang mendapat kesaksian mati dengan baik, selamat, dan masuk surga dari Allah Subhanahu wata’ala dan malaikat-Nya. Orang yang meninggal dalam keadaan mendapat syahadah ini ada dua:
  1. Syahid dunia dan akhirat, yaitu orang yang gugur di medan pertempuran melawan orang-orang kafir dengan tujuan agar kalimat Allah dan agama-Nya tetap jaya di muka bumi. Dengan syarat tidak mundur dari gelanggang pertempuran, kecuali mundur untuk menyusun kekuatan dan strategi lalu menyerang kembali.
  2. Syahid akhirat saja (di dunia tidak), yaitu orang yang terbunuh atau mati karena tujuan membela atau mempertahankan haknya (selain agama, sebagaimana tiga hal dalam hadits ini). Dengan syarat terzhalimi dan melawannya bukan sekedar mau membunuh orang tersebut, akan tetapi dengan niat untuk mencegahnya dari perbuatan maksiat yang sedang dilakukannya serta mengikuti perintah syara’ yang menyerukan untuk membela kebenaran. Golongan ini mendapatkan sejenis pahala orang yang gugur di medan perang melawan orang kafir (golongan pertama), namun hukum-hukum syahadah di dunia tidak berlaku baginya.

Dari beberapa riwayat hadits yang ada, terkait orang yang mendapat predikat syahadah akhirat saja ini, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqalani menghitung banyaknya mencapai dua puluh (20) golongan.

Ada jenis syahadah ketiga, yaitu syahadah dunia saja, tapi palsu, sehingga orang yang mendapat predikat ini mati su’ul khatimah, tidak selamat, otomatis masuk neraka –waliyadzu billah. Mereka zhahirnya bertempur melawan orang kafir, akan tetapi niat dan tujuan di dalam hatinya salah. Semisal bertujuan agar mendapat gelar seorang  pemberani,  menyembunyikan sifat nifaq (kemunafikan), tidak sabar menahan luka perang sampai bunuh diri dan sebagainya. Sebagaimana diceritakan dalam beberapa riwayat hadits shahih.

  1. دِينِهِ  ) : Agama yang diridhai oleh Allah, yaitu agama Islam, bukan yang lain. Sebab sejak terutusnya Nabi Islam Sholallohu ‘alaihi wasallam seluruh agama selain Islam tidak diakui oleh Allah dan tidak sah untuk diberlakukan di muka bumi, karena sudah kadaluarsa bersamaan dengan sepeninggal para nabinya. Al-Qur’an surat Ali Imran: 18 menyatakan,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

  1. (   دَمِهِ  ) : Darah. Yang dimaksud adalah nyawa di dalam tubuh yang dihembuskan dan digerakkan oleh peredaran darah yang stabil dan normal.
  2. (   أَهْلِهِ   ) : Keluarga mahram, baik laki-laki maupun perempuan.
JIHAD

www.citizenwarrior.com

PERAWI HADITS

Hadits ini dengan teks sedemikian rupa, menyebutkan empat hal yang dapat mengantarkan seseorang mencapai predikat syahadah, hanya diriwayatkan oleh shahabat Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail bin Abdil Uzza  al ‘Adawi, salah seorang dari sepuluh shahabat yang mendapat kabar  masuk surga, ketika di dunia.

PENGORBIT HADITS

Cukup banyak dari kalangan para pakar hadits terkemuka yang ikut andil mengorbitkan hadits ini, sehingga Imam Ibnu Hajar al ‘Asqalani mengatakan: Hadits ini dengan menggunakan teks di atas, telah diorbitkan oleh Ashhabus Sunan (para pakar pemilik kitab Sunan ) seperti: Imam at-Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa’i, al-Baihaqi, serta Ahmad bin Hanbal –rahimahumullah.

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam memberi spirit dan motivasi kepada ummatnya agar menjaga empat hal di atas dengan baik. Yaitu harta benda, agama, jiwa, dan hubungan keluarga. Sehingga manakala untuk menjaga dan mempertahankan hal-hal di atas tersebut harus mengorbankan nyawa, maka sebagai gantinya adalah kedudukan syahadah dari Allah kelak di akhirat

STATUS DAN DERAJAT HADITS

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ (tergolong hadits marfu’) yang dihukumi shahih oleh Imam at-Tirmidzi. Terlebih lagi potongan seperempat awal dari hadits ini (    مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ   ) yakni tanpa tiga perempat potongan yang lain, telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, sehingga hadits ini menjadi kuat untuk dijadikan hujjah dan dalil. Sebab secara akal, kemuliaan dan kehormatan agama, jiwa dan keluarga atau istri bagi seorang muslim melebihi harta benda.

URAIAN HADITS

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam memberi spirit dan motivasi kepada ummatnya agar menjaga empat hal di atas dengan baik. Yaitu harta benda, agama, jiwa, dan hubungan keluarga. Sehingga manakala untuk menjaga dan mempertahankan hal-hal di atas tersebut harus mengorbankan nyawa, maka sebagai gantinya adalah kedudukan syahadah dari Allah kelak di akhirat. Sebab seorang yang beriman kepada Allah sejak dia mengucapkan dua kalimat syahadat, dia menjadi terhormat, mulia serta terlindungi jiwa, harta keluarga dan agamanya. Di balik semua itu terdapat seruan berjihad untuk melawan kedzaliman, baik yang berbuat zhalim itu seorang muslim apalagi non muslim.

Demikian pula para pahlawan yang telah gugur mendahului kita dengan jerih payah mereka mempertahankan dan membela aset terbesar dan barang yang sangat berharga bagi orang pribumi, yaitu negara, sehingga mengorbankan nyawa, mereka tersebut kalau misalnya tidak tergolong pada golongan yang pertama penyandang syahadah dunia dan akhirat, maka bisa dipastikan mereka termasuk golongan kedua penyandang syahadah akhirat saja yang dapat menjamin mereka mati husnul khatimah dan masuk surga.

Seruan jihad di dalam hadits ini juga mengingatkan kita akan peristiwa dan insiden yang terjadi beberapa hari yang lalu saat gema takbir Idul Fitri 1436 H menggelegar di ufuk Tolikara, Papua. Ummat Islam minoritas di sana dizhalimi dengan dibakarnya masjid dan tempat-tempat mata pencaharian mereka. Hal ini mengundang kita sesama saudara untuk tidak ragu lagi berangkat berjihad membela dan mempertahankan aset-aset besar kita di sana. Dalam sebuah riwayat shahih al-Bukhari diceritakan dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anh  bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam  sembari bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu, manakala ada seseorang datang ingin mengambil hartaku?” Beliau menjawab: “Jangan kamu berikan hartamu kepadanya!” Dia bertanya: “Bagaimana kalau dia mau membunuhku?” Beliau menjawab: “Lawan saja dia!” Dia bertanya: “Bagaimana kalau dia sampai membunuhku?” Beliau menjawab: “Kamu mati syahid!” Dia bertanya lagi: “Bagaimana kalau saya yang membunuhnya?” Beliau menjawab: “Maka dia masuk neraka!“

Ulama’ berkata: masalah mempertahankan hak dan kebenaran dalam melawan kebatilan dan kezhaliman memang diperintahkan, akan tetapi upayakan menurut kebutuhan. Jadi misalnya jika bisa dihentikan dengan perkataan, maka cukup dengan perkataan. Jika tidak bisa dilumpuhkan kecuali dengan membunuhnya, atau malah diri sendiri yang terbunuh, maka diperbolehkan membunuhnya.

KANDUNGAN HADITS

Betapa banyak hal yang diisyaratkan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam di balik ketegasan sabda beliau ini, di antaranya adalah:

  1. Imam an-Nawawi berkata: di dalam hadits ini mengisyaratkan bolehnya memerangi atau bahkan membunuh orang yang ingin mengambil harta benda dengan tanpa hak, baik harta itu sedikit maupun banyak. Ini adalah pendapat mayoritas ulama’.
  2. Hukumnya wajib mempertahankan hak dan membelanya, baik berupa materi maupun non materi.
  3. Empat hal dalam hadits merupakan pilar-pilar seorang muslim mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, manakala keempat tersebut terjaga dengan baik.
  4. Kedudukan syahadah merupakan kedudukan sangat mulia di hadapan Allah Subhanahu wata’ala peringkat ketiga setelah kedudukan kenabian dan keilmuan, sebagaimana dijelaskan dalam sebagian riwayat hadits dari sayyidina Utsman bin ‘Affan Radhiyallohu ‘anh.
  5. Membela dan mempertahankan empat hal tersebut dari tangan-tangan zhalim, termasuk dalam kategori jihad, karena dipenuhi kepayahan dan kesengsaraan serta kesulitan yang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.
  6. Kewajiban berjihad kekal sepanjang masa.

Wallahu a’lam.

Al Maraji’ :

  1. Al-Asqalani: Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Asqalani asy-Syafi’i, Fathul Bari: 7 / 415 , 8 / 438, 15 / 484.
  2. ____, Aunul Ma’bud: 10 / 292.
  3. ____, Tuhfatul Ahwadzi: 4 /56.
  4. Al-Kasymiri: Muhammad Anwar Syah ibn Mu’adzdzim Syah al-Kasymiri, Al-‘Arf asy Syadzi: 3 / 154.
  5. Al-Munawi: Muhammad bin Abdur Ra’uf al-Munawi, Faidhul Qadir: 6 / 253.

 

Oleh  :  K.H. Fahd Abdurrahman
Pengasuh PP Al Imad Bangkalan
alraudloh@yahoo.com