K.H. Abd. Wahab Turcham: Ulama dan Pendidik

 “Mengajarlah sampai mati.”

~ Kyai Wahab.

 

Oleh Imam Safii

Santri Pesma Al Midroor

foto-pendiriRaut wajahnya memancarkan rasa teduh. Tutur katanya halus dan senantiasa ramah. Itulah profil K.H. Wahab Turham.

Predikat ulama memang sudah layak disandang oleh ustadz Wahab. Sebab sudah lama masyarakat menyebut beliau sebagai kyai. Wawasan keagamaan beliau sangat luas dan kemampuan baca kitab kuning sangat tinggi. Hari-hari beliau di rumah selalu digunakan untuk membaca kitab.

Kyai yang satu ini memang benar benar ulama tipikal NU. Selain punya minat tinggi terhadap ilmu agama, juga sangat tekun membaca kitab kuning. Hampir semua waktunya hanya dimanfaatkan untuk mengajar dan membaca kitab, terutama setelah usianya mulai udzur. Maka sangat pas jika sementara kalangan menyebut ia sebagai tokoh pendidikan.

Kiai Wahab memang dikenal sebagai kiai yang sangat mencintai ajar-mengajar. Seluruh hidupnya digunakan untuk mengajar, bahkan di akhir usia beliau yang lebih dari 80 tahun itu namanya masih tercantum sebagai guru SMA KHADIJAH untuk mata pelajaran Faroid. Jika secara formal beliau mulai mengajar pada tahun 1940, maka berarti lebih dari 50 tahun kyai Wahab berstatus sebagai guru.

Kepedulian kyai Wahab dalam dunia pendidikan juga dibuktikan dengan prakarsa beliau mendirikan madrasah di Tebuireng dan mendirikan Taman Pendidikan Puteri di Surabaya. Bukan hanya itu. Ternyata beliau pernah menjadi Sekretaris Lembaga Pendidikan Maarif NU cabang Surabaya, ketua Lembaga Pendidikan Maarif NU cabang Surabaya, juga Rektor Universitas Sunan Giri Surabaya, dan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Prinsip kyai Wahab dalam kaitannya dengan mengajar ini sungguh patut dicontoh, yaitu “mengajarlah sampai mati. Prinsip ini konon diterima oleh ustadz Wahab dari guru beliau.

Beliau dikenal sebagai pendiri Taman Pendidikan Puteri Khadijah yang sampai saat ini tetap eksis di jl. Smea Kawasan Wonokromo Surabaya. Taman pendidikan ini dulu pernah menjadi lembaga pendidikan Islam yang sangat populer dan favorit. Sedemikian favoritnya sampai identik dengan kemajuan lembaga pendidikan Islam di Surabaya. Bahkan setiap orang yang datang ke Surabaya bila ingin tahu profil pendidikan puteri Islam yang maju niscaya akan berpaling ke taman Pendidikan Puteri Khadijah.

PENDIDIKAN BELIAU

K.H. Abd. Wahab Turcham, demikian nama lengkap beliau, dilahirkan di Surabaya pada tanggal 5 Januari 1915, bertepatan dengan tanggal 17 Shafar 1327 H. Ayah beliau bernama Ahmad Turcham, sedang ibu beliau bernama Marwiyah. Beliau memiliki seorang saudara kandung bernama Hj. Fatimah. Beliau pernah menimba ilmu di beberapa tempat, yaitu:

  1. Pondok pesantren yang diasuh oleh K. Basuni
  2. Madrasah Tarbiyatul Aitam bertempat di jalan Genteng Besar Surabaya
  3. Madrasah Nahdlatul Wathon berempat di jalan Kawatan Surabaya
  4. Pondok Pesantren Tebu Ireng yang diasuh oleh K. Hasyim Asyari

KENAPA PENDIDIKAN PUTERI?

Ada beberapa alasan kenapa ustadz Wahab tekun mengelola pendidikan puteri.

Pertama, adanya anggapan masyarakat bahwa pendidikan puteri tidak perlu tinggi, cukup SD atau SMP. Lagi pula, bila ada keluarga ada laki-laki dan ada perempuan, maka yang ditinggikan pendidikannya adalah yang laki-laki saja. Seorang putri memiliki citra kurang baik dalam sebuah keluarga. Karena itu, ustadz Wahab berkeinginan mengubah budaya itu dengan cara mendirikan pendidikan khusus puteri. Sebab, dengan adanya sekolah pendidikan putri yang berkualitas, masyarakat akan tertarik memasukkan anak putrinya ke TPP itu.

Kedua, ustadz Wahab bercita-cita seorang putri mempunyai karier. Karenanya, dengan pendidikan yang berkelanjutan (tidak hanya SD/SMP) wanita mendapat bekal untuk meniti karier.

Ketiga, pentingnya memberikan bekal pendidikan putri. Karena seorang putri akan mendidik anan-anaknya. Sebab, jika pendidikannya rendah, maka di dalam mendidik dan mendorong anaknya supaya maju akan terhambat. Karena itu, putri perlu berpendidikan tinggi.

SIFATSIFAT TERPUJI

Yang paling rinci memberikan kesan-kesan mengenai sifat-sifat ustadz Wahab yang baik adalah K.H. Zakky Ghufron. Menurut catatan beliau, paling tidak ada tujuh sifat ustadz Wahab yang patut kita teladani, yaitu:

  1. Ustadz Wahab adalah seorang guru yang dekat dengan muridnya. Beliau mengenal tiap-tiap murid hingga mendetail, bahkan sampai ke masalah keluarga murid itu. Sehingga dengan demikian terjalin kemesraan antara siswa dan guru.
  2. Ustadz Wahab adalah seorang yang keras hati. Kalau marah, pada tempatnya. Yang unik, menurut K. Zakky Gufron, bila Ustadz Wahab marah, biasanya beliau hanya mengangkat telunjuknya, dan seketika itu pula para siswa diam.
  3. Ustadz Wahab selalu berpakaian rapi, bersih, dan necis. Namun menurut H. Yahya Hasyim, beliau sangat sederhana dalam menata pakaian. Kalau digabungkan, maka menjadi sederhana, tetapi rapi, bersih, dan necis.
  4. Sangat menghargai orang. Pengalaman K. Zakky Gufron adalah, kendati pak Zakky adalah murid Ustadz Wahab, tetapi beliau tetap memanggil pak Zakky “Bapak”.
  5. Ustadz Wahab selalu menghadiri undangan kendati yang mengundang adalah anak-anak muda. Ustadz Wahab tak segan-segan menghadiri acara mereka.
  6. Tidak ingin merepotkan orang lain. Misalnya ketika sakit, beliau tidak mau apabila biaya perawatannya ditanggung orang lain, termasuk muridnya.
  7. Kehendak kuat. Kehendak beliau sangat sulit diganggu gugat. Biasanya kalau Ustadz Wahab akan memutuskan sesuatu, beliau pikir dahulu kemudian diputuskan. Dan putusan itu sangat sulit sekali diganggu, kecuali telah terlihat benar tidaknya.

HIDUP BERSAHAJA

Yang sukar ditiru dari Ustadz Wahab adalah kesahajaan dalam hidup. Sampai dengan wafatnya beliau tak memiliki rumah. Beliau menempati rumah peninggalan orang tua. Rumah yang kecil di jalan Peneleh gang IX itu juga tak dilengkapi dengan peralatan yang mewah. Semuanya sederhana. Dra. Maryam A. Halim menyebut ustadz “fakir miskin” ketika memberikan sambutan pada tahlilan memeringati tujuh hari kematian Ustadz. Bukan hanya harta yang tidak punya, istri dan anak anak pun Ustadz Wahab tak memiliki.

Tetapi ini ada hikmahnya. Dengan begitu, menurut H. Yahya Hasyim, Ustadz Wahab dapat mencurahkan perhatiannya pada pengembangan TPP KHADIJAH. Seluruh hidup Ustadz Wahab adalah untuk TPP KHADIJAH. Tentang mengapa Ustadz Wahab tidak menikah, menurut dr. Muhamad, Ustadz pernah bermimpi bertemu dengan seorang bidadari dengan segala kesempurnaannya. Versi lain mengatakan bahwa Ustadz Wahab pernah melihat bidadari dalam keadaan terjaga (bukan mimpi). Karena memang ada doa dan kaifiyahnya untuk bertemu bidadari ini. Menurut Ustadz Wahab, setiap orang yang pernah melihat bidadari, maka muncul kemalasan untuk menikah.

Sebagai seorang ulama, cukup banyak yang layak diteladani dari Kiai Wahab. Selain profilnya yang ikhlas dan rendah hati, beliau juga mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengajar. Kiai Wahab wafat pada jam 17.00 hari Minggu, 31 Desember 1995. Ia menderita komplikasi penyakit kencing manis, ginjal, dan tekanan darah tinggi. Kiai Wahab sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya. Beliau dimakamkan di pemakaman Tembok Surabaya. Semoga semua amal baik beliau diterima oleh Allah I.

Wallahu a’lam.