K.H. Abdul Manan Dipomenggolo- Tremas Pacitan Sosok Peletak Pondasi Peradaban di Pesantren

Oleh: Irwan Sani. S.E., M.Pd.I.

Santri Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain Pujon Malang

 

Fenomena Kemuliaan Kiai dan Pesantren

            Pesantren dengan para kiai pengasuhnya menjadi salah satu fenomena tersendiri di negeri ini. Ia bagaikan air laut; semakin diselami, semakin banyak keindahan dan “kekeramatan” yang dijumpai. Banyak kisah, inspirasi, atau fenomena yang tak mungkin ditemukan di luar pesantren dan kiainya.

            Bagi masyarakat Indonesia, para kiai merupakan seorang yang istimewa. Tidak hanya keturunan mereka berasal dari garis keturunan yang istimewa, tetapi karena ketinggian ilmu dan wawasan keagamaan yang mereka miliki membuat mereka begitu disegani dan dihormati. Meski demikian, tak banyak yang tahu tentang sisi lain kehidupan para kiai yang mendapatkan posisi tinggi di hati masyarakat luas. Tidak banyak yang mengetahui tentang hal-hal inspiratif di kehidupan para kiai. Berawal dari ketidaktahuan masyarakat luas terhadap hal-hal inspiratif yang ada di kehidupan para kiai itulah, biografi ini kami tulis.

            Banyak kiai fenomenal yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Mereka berjuang mensyiarkan agama Islam di bumi Nusantara dengan cara-cara yang santun. Sehingga, mereka akhirnya banyak mendapatkan simpati dari masyarakat. Tidak mengherankan jika mereka kemudian menjadi idola dan panutan, yang segala ucapan maupun tingkah lakunya menjadi sorotan masyarakat luas. Pesantren-pesantren yang mereka asuh pun dipenuhi dengan santri yang datang dari berbagai daerah. Para santri tersebut ingin mengaji dan menuntut ilmu kepada mereka. Dan, dengan senang hati, mereka pun menerima santri-santri tersebut. Mereka dengan ikhlas mengajari para santri membaca al-Qur’an, membaca kitab kuning, dan mempelajari ilmu-ilmu agama.

            Satu dari sekian banyak Kiai-kiai fenomenal tersebut, lahirlah seorang tokoh yang sangat luas wawasan keilmuannya. Beliau adalah K.H. Abdul Manan Dipomenggolo Tremas. Beliau adalah seoang Kiai yang mendirikan pesantren Tremas Pacitan sekaligus merupakan kakek dari Asy-Syeikh Muhammad Mahfudz at-Turmusi. Namanya memang tidak setenar cucunya, tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa ia adalah generasi pertama orang Indonesia (waktu itu bernama Nusantara) yang belajar di Mesir, tepatnya di Universitas al-Azhar, Kairo. Beliau merupakan orang yang membuka jaringan ulama Nusantara dan Mesir. Setelahnya, banyak generasi penerus yang kemudian pergi menuntut ilmu ke Mesir, Mekkah, dan Madinah.

            Kiai Abdul Manan memiliki nama kecil Bagus Darso. Ayahnya Raden Ngabehi Dipomenggolo adalah salah seorang Demang Desa Semanten, Pacitan. Sejak kecil ia sudah dikenal memiliki kecerdasan dan tertarik dalam permasalahan agama. Karena itu, ketika usianya beranjak dewasa, ia kemudian dikirimkan oleh ayahnya ke pesantren terkemuka di masanya yakni Pesantren Tegalsari Ponorogo di bawah bimbingan Kiai Hasan Besari. Di pesantren ini, Bagus Darso terlihat menonjol dibandingkan teman-temannya. Ia pun dengan mudah menguasai setiap pelajaran yang diberikan oleh gurunya.

Pencetak Generasi Emas Pesantren

            K.H. Abdul Manan Dipomenggolo, begitulah nama lengkapnya, merupakan sosok yang berjasa besar bagi peradaban pesantren dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Beliau merupakan ulama yang menjadi salah satu pionir terbentuknya jaringan ulama Nusantara. Karena dari beliaulah lahir beberapa generasi emas pesantren, yang hingga kini kontribusianya masih dirasakan oleh umat ini, yaitu pondok Tremas dan pondok al-Fattah Kikil.

            Pernyataan ini muncul pada acara silaturrahmi dan Halal Bihalal kesejahteraaan Keluarga Besar Al-Maghfurlah K.H. Abdul Manan di aula pondok Tremas Pacitan. Acara ini dihadiri dzurriyah (keturunan) K.H. Abdul Manan Dipomenggolo. Mereka berasal dari beberapa keluarga, di antaranya dari Pacitan, Madiun, Salatiga, dan Semarang.

Sosok Peletak Pondasi Peradaban Pesantren

            K.H. Burhanuddin HB, Ketua kesejahteraan keluarga besar K.H. Abdul Manan Dipomenggolo mengatakan, Kiai Abdul Manan merupakan sosok yang berjasa besar dalam membangun pondasi peradaban pesantren. Beliau adalah sosok yang pertama kali merintis dan mengembangkan pesantren, sehingga lahirlah pondok Tremas dan pesantren Kikil.

            Dalam buku Jauh di Mata Dekat di Hati; Potret Hubungan Indonesia-Mesir terbitan KBRI Kairo, disebutkan bahwa pada tahun 1850-an di komplek Masjid Al-Azhar telah dijumpai komunitas orang Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Ruwak Jawi (hunian bagi orang Indonesia). Selain Ruwak Jawi, di Masjid ini juga terdapat tiga Ruwak lain, yakni Ruwak Atrak (Turki), Ruwak Syami (Suriah), dan Ruwak Maghorobah (Maroko).

Pelajar Pertama Indonesia yang Tinggal di Mesir

            Salah satu pelajar pertama Indonesia yang tinggal di Mesir dan tercatat di buku terbitan tahun 2010 ini adalah K.H. Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, kakek dari Syeikh Mahfudz At-Tarmasi. K.H. Abdul Manan tinggal di Al-Azhar sekitar tahun 1850 M. Selama di negeri Piramid tersebut, beliau berguru kepada Grand Syeikh ke-19, Ibrahim Al-Bajuri. Jadi wajar di tahun-tahun itu ditemukan kitab Fath al-Mubin, syarah dari kitab Umm al-Barahin yang merupakan kitab karangan Grand Syeikh Ibrahim Bajuri mulai dibaca di beberapa pesantren di Indoensia.

            Pengembaraan K.H Abdul Manan Dipomenggolo dalam menuntut ilmu di timur tengah kelak diikuti oleh generasi selanjutnya, yaitu K.H. Abdullah (Putra K.H. Abdul Manan Dipomenggolo), Syeikh Mahfudz At-Tarmasi, K.H. Dimyathi Tremas, K.H. Dahlan Al-Falaki Tremas (ketiganya kakak beradik, putra K.H. Abdullah) yang menuntut ilmu di Makkah.

Meletakkan Keharuman di Pondok Pesantren

            K.H. Abdul Manan Dipomenggolo telah berhasil meletakkan batu landasan sebagai pangkal berpijak ke arah kemajuan dan kebesaran serta keharuman pondok pesantren di Nusantara. Kegigihannya dalam mendidik putra-putranya sehingga menjadi ulama-ulama yang tidak saja menguasai kitab-kitab yang dibaca, lebih dari itu, juga berhasil menyusun berbagai macam kitab dan memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan dunia Islam, seperti Syaikh Mahfudz, seorang ulama besar Nusantara, Malaysia, dan Thailand yang pernah menjadi imam Masjidil Haram dan pemegang sanad Shahih al-Bukhari-Muslim.

            Maka sangat wajar bila nama K.H. Abdul Manan Dipomenggolo, pelajar Indonesia pertama di Al-Azhar Mesir dan pendiri Pesantren Tremas disebut sebagai peretas jejaring intelectual chains generasi ulama-ulama nusantara.

            Sebagai seorang Kiai, Kiai Abdul Manan dapat dikatakan sukses karena telah menelurkan generasi emas yang mampu mencetak generasi-generasi emas pula. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meneladani apa yang telah dilakukan oleh Kiai Abdul Manan. Tidak hanya sebatas di dunia pesantren saja, tetapi juga di bidang yang lain. Seorang pelukis, dosen, guru, profesor, pengusaha, dan sebagainya belum bisa dikatakan sukses jika belum bisa menularkan kesuksesan atau ilmunya kepada orang lain.

Wallahu a’lam bish-shawab.

[]