K.H. Cholil Nawawi-Sidogiri

K.H. Cholil Nawawi-Sidogiri (1925-1977)

Istiqamah dalam Belajar dan Mengajar

 

Sekilas Pondok Pesantren Sidogiri

Adalah seorang pemuda perantau dari Cirebon Jawa Barat yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sidogiri, ketika masih berupa hutan belantara, 258 tahun yang silam.

K.H. Cholil Nawawi-Sidogiri

sidogiri.net

Pemuda itu bernama Sulaiman, putra pasangan Sayyid Abdurrahman bin Umar baSyaiban dan Syarifah Khadijah, seorang putri keraton keturunan dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Konon, selama 40 hari Mbah Sayyid (nama akrab Sayyid Sulaiman) berperang melawan jin dan para dedemit. Ditemani salah seorang santrinya, Aminullah, asal pulau Bawean, beliau akhirnya sukses mendirikan sebuah pesantren kecil yang diberi nama Sidogiri.

Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini keberadaan tanahnya sangat baik dan menyimpan keberkahan-keberkahan.

Menurut penjelasan dari as-Syaikh al-Karim al-Maghfurlah K.H. Hasani bin Nawawi bin Noerhasan, bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan atas dasar taqwallah seperti halnya masjid di-ta’sis. Allah Subhanahu wata’ala berfirman; “Sesungguhnya masjid itu dibangun atas dasar taqwa”.

Jika kita menelaah periode kepemimpinan para pengasuh pondok pesantren Sidogiri dari masa ke masa, dari sekian banyak figur teladan yang dimiliki oleh pondok tersebut, maka kita akan menjumpai satu figur istimewa yang terkenal dengan keistiqamahannya dalam belajar dan mengajar. Beliau adalah Kiai Cholil Nawawi, tokoh yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan pasca periode kepemimpinan Kiai Abdul Djalil yang wafat pada tahun 1947.

Kelahiran Figur Istimewa

Sekitar tahun 1925 M/1343H Nyai Nadzifah, istri Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, K.H. Nawawie Noerhasan, melahirkan seorang bayi lelaki. Atas saran Mbah Cholil Bangkalan, kiai dan auliya’ dari Bangkalan, bayi itu kemudian diberi nama Muhammad Cholil.

K.H. Cholil Nawawi-Sidogiri

sidogiri.net

   Keistimewaan Kiai Cholil memang sudah tampak sejak kecil, hingga sebagian orang pun meyakininya sudah menjadi wali sejak kecilnya itu.
Sehari sebelum Mbah Cholil Bangkalan wafat, Mas Cholil (panggilan akrab Kiai waktu kecil) berteriak-teriak, “Medura kiamat, Medura kiamat (Madura kiamat, Madura kiamat)”. Ucapan itu diteriakkan Mas Cholil berkali-kali, sehingga didengar oleh abahnya, Kiai Nawawie, yang waktu itu sedang mengajar.
“Ana apa, Lil (ada apa Lil)?” Kiai Nawawie bertanya. “Medura kiamat, Ba (Madura kiamat, Abah),“ kata Mas Cholil, mengulang. Kiai Nawawie baru mengerti perkataan Mas Cholil pada keesokan harinya, ketika sampai berita kepadanya bahwa Mbah Cholil Bangkalan wafat. Ulama adalah pilar dunia yang dapat menahan murka Allah untuk menurunkan adzab pada manusia. Karena itu, wafatnya seorang ulama besar sekelas Mbah Cholil bisa disebut sebagai kiamat.

Masa-masa Belajar

Dalam menjalani masa-masa belajar, Kiai Cholil mengembara dari satu pondok ke pondok yang lain. Selain mengaji kepada Kiai Abdul Djalil, Kiai Cholil juga pernah ngaji di Pesantren Sarang, Jawa Tengah, saat pesantren itu diasuh oleh Kiai Zubair, ayahanda K.H. Maimun Zubair.

          Saat mondok di sana, di samping mengaji, secara sembunyi-sembunyi ia mengisi bak mandi Kiai Zubair. Selang beberapa lama, hal itu diketahui, Kiai Zubair berkata kepada Kiai Cholil, “Mas, sampeyan wangsul mawon, sa aken liane (Mas, kamu pulang saja, kasihan yang lain).”
Maksud kata “kasihan” tersebut karena hampir di setiap sisi ia unggul, sementara santri lainnya tertinggal jauh. Bahkan pada masalah yang tak terkait dengan pelajaran secara langsung, seperti kerja mengabdi kepada guru, ia mengungguli yang lainnya.

Selang beberapa lama, Kiai Cholil berangkat nyantri ke Makkah. Di Tanah Suci, Kiai Cholil mengaji kepada ulama-ulama besar, di antaranya Syaikh Amin Kutbi dan Syaikh Hasan Al-Yamani. Disebutkan, sewaktu di Makkah beliau mondok selama tiga tahun.

Pendidik Sejati nan Bersahaja

Kiai Cholil adalah sosok yang kesehariannya penuh dengan keteladanan. Di antara teladan istimewanya adalah keistiqamahannya yang sangat menonjol dalam hal belajar dan mengajar. Sedari kecil, kecintaannya pada ilmu sudah sangat kuat. Itu ditandai di antaranya dengan kepergiannya yang selalu tak pernah lepas dari kitab.

K.H. Cholil Nawawi-Sidogiri

sidogiri.net

Sementara dalam hal mengajar, para santrinya sangat merasakannya. Bagi mereka, hampir tidak pernah ada libur dalam majelis-majelis rutin bersama Kiai Cholil di sepanjang hidupnya.

          Mengenai ketekunannya tersebut, Kiai Cholil pernah menukil dawuh dari ayahnya, Kiai Nawawi Noerhasan, “Tekunlah belajar dan shalat berjama’ah, niscaya kau peroleh ilmu yang bermanfaat”. Rupanya, dawuh itu sangat membekas dan menjadi prinsip hidup Kiai Cholil. Tidak ada kamus berleha-leha, melepaskan waktu tersia-sia tanpa belajar.

Teringat akan dawuh itu pula, selain dalam hal ilmu, dalam hal shalat berjama’ah selama hidupnya bisa dikatakan ia tidak pernah meninggalkan shalat berjama’ah. Ketika hampir wafat pun, ia memaksakan diri shalat berjama’ah dengan bermakmum kepada seorang kiai lainnya, K.H. Abdul Halim.

Laksana Kitab Berjalan

          Kiai Cholil adalah sebuah kitab yang telah termanifestasi dalam tingkah laku. Demikian buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri menyebutkannya. Dengan kata lain, ia adalah kitab berjalan yang berhias perilaku yang penuh dengan keteladanan dalam gerak-geriknya sehari-hari. Akhlaq dan syari’atnya tepat berpadu dengan ilmunya.

Kiai Cholil termasuk seorang hafizhul Qur’an, orang yang hafal Al-Qur’an. Bila ia mengimami shalat berjama’ah, suaranya menyejukkan qalbu dan sangat menyentuh hati, hingga tak jarang membuat air mata orang yang bermakmum kepadanya menetes tanpa mereka sadari.

Kepergian Sang Teladan

Segala yang hidup akan kembali kepada-Nya. Tak ada yang mampu menebak kapan Malaikat Maut akan datang menjemput ajal. Tak ada pula orang yang dapat mengulur waktu dari jadwal yang telah ditentukan.
Di salah satu malam ganjil pada bulan yang amat mulia, Senin Pon 21 Ramadhan 1397 H atau 5 September 1977, Kiai Cholil wafat.

Beribu-ribu orang hadir untuk memberikan penghormatan kepada seorang yang pernah dikomentari oleh Rais Am NU K.H. Ahmad Shiddiq Jember, “Kiai Cholil itu wali karena istiqamahnya.” Dengan mata berkaca-kaca mereka mengenang dengan doa kepada sosok kiai tercinta.

Saat itu, keranda seperti berjalan di atas ujung jari, karena begitu banyak dan rapatnya orang yang memikul. Bahkan, tikar yang dibuat sebagai alas keranda menjadi rebutan ribuan jama’ah sampai habis tak tersisa. Semuanya berebut untuk mengambil, kendati secuil, barakah Kiai Cholil.

Wallahu a’lamu bisshawab.

 

Disadur dari berbagai sumber dengan beberapa tambahan oleh Irwan Sani, S.E, M.Pd.I., santri Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang.