K.H. Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari

MUTIARA DARI BANJAR
K.H. Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari
1334 H/1909 M- 1410 H/1989 M

Disematkan Padanya Julukan: “Tuan Guru Bangil”
syarwaniSetiap ahad ketiga bulan shafar terlihat pemandangan istimewa dikota Bangil, saat itu ribuan umat islam dari pulau Kalimantan, khususnya suku Banjar berbondong bondong menyeberangi lautan luas dan membanjiri kota kecil di Jawa Timur, bukan hanya masyarakat biasa, bahkan para pembesarnya pun baik kalangan ulama maupun kalangan pejabat ada diantara mereka, tidak tanggung tanggung ketika hari itu tiba, dari mulai para Bupati disejumlah daerah tingkat II Kalimantan Selatan hingga orang nomor satu dipemda provinsi tersebut yaitu Gubernur Kalimantan selatan menyempatkan diri turut mengunjungi Bangil kota Bordir.
Tidak ketinggalan kaum muslimin pecinta ulama dan aulia diseluruh Indonesia banyak yang datang dari luar pulau turut larut pada hari itu meskipun mereka bukan dari etnis Banjar. Barangkali fenomena kecintaan yang begitu besar hingga membuat ribuan orang dari satu pulau menyeberang lautan untuk ikut menghadiri haul tokoh putra daerahnya dipulau lain. Hanya ada terhadap sosok “Tuan Guru Bangil” julukan bagi Alm. KH. Muhammad Syarwani Abdan bin Haji Muhammad Abdan bin Haji Muhammad Yusuf bin Haji Muhammad Shalih Siam bin Haji Ahmad bin Haji Muhammad Thahir bin Haji Syamsuddin bin saidah binti Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Keseriusan dan Semangat Tinggi
Beliau dilahirkan pada tahun 1334 H/1915 M dikampung Melayu Ilir Martapura. Sejak kecil ia memiliki semangat yang tinggi untuk belajar ilmu agama dan sangat serius serta tekun belajar sehingga sangat disayangi oleh para gurunya ketika masih berdomisili di Martapura. Guru beliau adalah pamannya sendiri yaitu KH. Muhammad Kasyful Anwar , Qadhi haji Muhammad Thaha, KH. Ismail Khatib Dalam Pagar dan banyak lagi yang lainnya.
Saat beliau berumur 16 tahun, pamannya Syekh Muhammad Kasyful Anwar seorang alimul ‘Allamah (seorang yang sangat luas dan mendalam ilmu agamanya) hingga Tuan Guru Syeikh Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani Al-Banjari (Abah Guru Sekumpul) pernah menyebutnya sebagai seorang Mujaddid (pembaharu), oleh pamannya ini beliau dibawa pergi ke Tanah Suci Mekkah bersama saudara sepupunya yaitu Syeikh Muhammad Sya’rani arif yang dikemudian hari juga dikenal sebagai seorang ulama besar di Martapura. Selama berada di Tanah Suci kedua pemuda ini dikenal sangat tekun mengisi waktu dengan menuntut ilmu ilmu agama. Keduanya benar benar memanfaatkan waktunya dengan mendatangi majelis-majelis ilmu para ulama besar Mekkah pada waktu itu. Diantara guru guru beliau yaitu; (1) Sayyid Amin Kutby, (2) Sayyid Alwi Al-Maliki, (3) Syeikh Umar Hamdan, (4) Syeikh Muhammad al-Araby, (5) Sayyid Hasan Al-Masysyath, (6) Syeikh Abdullah Al-Bukhari, (7) Syeikh Saifullah Daghestani, (8) Syeikh Syafi’i asal Kedah, (9) Syeikh Sulaiman asal Ambon, dan (10) Syeikh Ahyad asal Bogor.

Mendapat Kepercayaan Mengajar di Masjidil Haram
Ketekunan dan kecerdasan mereka sangat menonjol hingga dalam beberapa tahun saja keduanya sudah dikenal di kota Mekkah hingga keduanya di juluki “Dua Mutiara dari Banjar”. Tak mengherankan jika keduanya dibawah bimbingan Sayyid Muhammad Amin Kutby bahkan sempat mendapatkan kepercayaan mengajar selama beberapa tahun di Mesjidil Haram. Selain mempelajari ilmu-ilmu syariat ia juga mengambil bai’at tarekat dari para masyayikh (guru) disana, diantaranya bai’at Tarekat Naqsyabandiyah dari syekh umar Hamdan dan Tarekat Samaniyah dari Syeikh Ali bin Abdullah Al-Banjari.

Terkumpul Padanya Ilmu: Syariat, Tarikat, Hakikat, Ma’rifat
Beliau dikenal sebagai seorang yang hafal Al-qur’an dan didalam dirinya terkumpul ilmu syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Namun demikian hal tersebut justru menjadikannya sebagai seorang alim yang semakin tawadhu’. Sepulang kepulangan beliau dari Mekkah ia menyelenggarakan mejelis-majelis ilmu dirumahnya. Waktu beliau banyak dihabiskan untuk mengajar, muthala’ah, dan ibadah. Dia lebih senang melayani secara mandiri dalam dunia pendidikan, dakwah, dan syiar Islam, di mana, muthala’ah, halaqah dakwah, ta’lim (mengajar), dan menulis (menghimpun) risalah menjadi aktivitas rutin beliau sehari-hari.
Selama menuntut ilmu di Mekkah meskipun dijuluki “Mutiara dari Banjar”, pernah mengajar di Masjidil Haram, namun beliau tetap rendah hati dan sederhana. Sehingga di awal-awal berdiamnya beliau di Kota Bangil, banyak orang yang tidak mengetahui siapa dia sebenarnya, kecuali sesudah diberitahu oleh Kyai Hamid yang merupakan Kyai Sepuh di Kota Pasuruan.
Selain muthala’ah dan membuka pengajian. Tuan Guru Bangil juga mendirikan pondok pesantren untuk ‘kaji duduk’ ilmu-ilmu agama yang diberi nama Pondok Pesantren “Datuk Kalampayan” pada tahun 1970. Santri-santrinya kebanyakan berasal dari Kalimantan, terutama dari Kalimantan Selatan.

Menguasai Secara Mendalam 14 Cabang Ilmu
Menurut Ustadz Subki, Tuan Guru Bangil alim dan menguasai secara mendalam 14 cabang ilmu (fan) dari ilmu-ilmu agama. Ilmu-ilmu yang dia kuasai tersebut terutama bidang fikih, hadits, ilmu hadits, ulumul Qur’an, tafsir, dan tasawuf. Dalam usia muda (di bawah 40 tahun) Tuan Guru Bangil banyak menggeluti ilmu fikih, tetapi pada usia 40 tahun ke atas beliau banyak bergelut di bidang tasawuf. Tasawuf yang banyak beliau pelajari adalah tasawuf Al-Ghazali.
Dalam bidang hadits, beliau sangat hati-hati dalam menggunakan sebuah hadits sebagai dalil, dilihat dulu bagaimana keshahihan hadits tersebut. Begitu juga dalam menyampaikan suatu hadits, beliau sangat hati-hati dan penuh adab. Dia tidak setuju kalau pidato di lapangan terbuka dengan membacakan atau menggunakan ayat Al-Qur’an maupun hadits, padahal tidak tepat dengan konteksnya.

Menulis Berbagai Risalah
Tuan Guru Bangil juga aktif menulis berbagai risalah agama berupa pelajaran dan pedoman praktis dalam memantapkan keyakinan dan amaliah beragama masyarakat. Satu di antara risalah beliau yang sangat terkenal, dicetak, dan beredar secara luas di tengah-tengah masyarakat adalah Kitab/buku yang berjudul Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah.
Kitab yang berjudul Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah atau (Simpanan Berharga, Masalah Talqin, tahlil dan Tawassul) adalah salah satu karya tulis Tuan Guru Bangil yang paling populer, karena pembahasan yang ada di dalamnya tentang masalah talqin, tahlil, dan tawassul.

Kewafatan Sang Mutiara Banjar
Setelah sekian banyak mencetak kader ulama dan melayani dalam dakwah, meningkatkan ilmu dan amal bagi murid-murid dan masyarakat luas, akhirnya pada malam Selasa jam 20.00 tanggal 11 September 1989 M bertepatan dengan 12 Shafar 1410 H, Tuan Guru Bangil wafat dalam usia sekitar 74 tahun .
Al ‘Alimmul Al’ Allamah Al Arif Billah Syekh Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari (Tuan Guru Bangil) kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga dari para habaib bermarga al-Haddad, dekat dengan makam Habib Muhammad bin Ja’far al-Haddad, di Dawur, Kota Bangil yang berjarak tidak jauh dari rumah dan pondok pesantren yang ia bangun. Makam Tuan Guru Bangil sering diziarahi oleh masyarakat Muslim dari berbagai penjuru daerah, terutama Kalimantan Selatan.

Wallahu Ta’ala A’lam Bisshowab.