KALEIDOSKOP Daulah Abbasiyah (132H/750M – 656H/1258M)

Oleh Bahtiar HS., CIFP

Daulah Abbasiyah dibangun dari pemberontakan yang dipimpin Abul Abbas As-Saffah terhadap khalifah Daulah Umayyah, Marwan II. Dinamakan Abbasiyah karena daulah ini didirikan oleh keluarga keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Shallallahu alahi wasallam. As-Saffah berarti “yang banyak menumpahkan darah”, di mana dalam kenyataannya Abul Abbas memang membunuh semua keturunan Bani Umayyah tanpa tersisa, kecuali satu orang saja yang lolos bernama Abdurrahman Ad-Dakhil. Jauh hari, Rasulullah Shallallahu alahi wasallam sudah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya:

يخرج رجل من أهل بيتي عند انقطاع من الزمان وظهوره من الفتن يقال له السفاح

“Akan datang seorang laki-laki dari keluargaku ketika berakhirnya suatu waktu dan tampaknya fitnah. Dia disebut as-Saffah.”

Daulah Abbasiyah merupakan kekhalifahan Islam paling lama dengan rentang waktu tak kurang dari 500 tahun dengan 37 khalifah dari Abul Abbas (750-754M) hingga Al-Musta’shim (1242-1258M). Itu pun masih ada penerus kekhalifahan Abbasiyah di Kairo Mesir, pasca penaklukan Baghdad oleh pasukan Mongol, dengan 18 khalifah mulai Al-Mustanshir II (1261M) hingga Al-Mutawakkil III (1508-1517M) selama hampir 300 tahun. Wilayah kekuasaan daulah ini meliputi seluruh wilayah kekuasaan Daulah Umayyah kecuali Andalusia / Spanyol.

***

Sejarawan membagi masa kekhalifahan Abbasiyah menjadi 5 periode, yakni: Periode Persia (97 tahun), Periode Turki (98 tahun), Periode Bani Buwaih / Persia II (110 tahun), Periode Bani Seljuk / Turki II (139 tahun), dan Periode khalifah bebas dari pengaruh lain (64 tahun). Namun hanya pada periode pertama sajalah Daulah Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya. Khalifah benar-benar menjadi sentral kekuatan politik dan agama. Kemakmuran dan ketenteraman masyarakat juga terwujud. Demikian juga terjadi kemajuan di berbagai bidang kehidupan. Periode-periode berikutnya, kekhalifahan melemah hingga ditaklukkan Mongol.

Abul Abbas memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Hasyimiyah, dekat Kufah (Irak kini). Namun, ia hanya 4 tahun memerintah sebagai khalifah pertama Daulah Abbasiyah. Penggantinyalah, Abu Ja’far al-Manshur (754-775M) yang kemudian membina kekhalifahan Abbasiyah sehingga makin kuat dan kokoh. Ia juga memindahkan pusat pemerintahan pada 762M ke istana Madinat as-Salam di sebuah kota yang dibangunnya dan kemudian dinamakan Baghdad, dekat Ctesiphon, bekas ibu kota Persia.

Pada masa al-Manshur inilah seluruh penghalang pemerintahan disingkirkan, termasuk Abu Muslim al-Khurasani, panglima perang Abbasiyah ketika menggulingkan Umayyah. Al-Manshur ingin memastikan hanya keluarga Abbasiyah yang tertinggi dalam urusan negara dan kedaulatan atas khalifah akan tidak diragukan lagi.

As-Saffah dan Al-Manshur telah berhasil meletakkan dasar negara yang kuat, sehingga memungkinkan ketujuh khalifah sesudahnya membawa Daulah Abbasiyah ke puncak kejayaan. Muhammad bin Manshur al-Mahdi menggantikan ayahnya, Al-Manshur, yang wafat saat haji ke Makkah. Baghdad berkembang pesat sebagai kosmopolitan pada masa al-Mahdi. Kota itu menarik pendatang dari berbagai tempat termasuk Arab, Irak, Suriah, India, bahkan Spanyol. Di sana tinggal orang Kristen, Yahudi, Hindu, Zoroaster, di samping Muslim sendiri yang berkembang sangat pesat. Baghdad menjadi kota terbesar di dunia di samping Tiongkok.

Sepeninggal al-Mahdi, kekhalifahan diserahkan kepada Musa bin al-Mahdi al-Hadi. Ia hanya memerintah setahun lamanya. Ketika wafat, al-Hadi digantikan saudaranya bernama Harun al-Rasyid. Pada masa inilah Daulah Bani Abbasiyah mencapai puncak kejayaan (The Golden Age of Islam) hingga khalifah sesudahnya, Al-Ma’mun bin Harun al-Rasyid. Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Khalifah benar-benar membangun dan memajukan kesejahteraan sosial, pendidikan, perdagangan, kebudayaan, kesusastraan, dan kesehatan. Tak kurang terdapat 800 orang dokter pada masa ini. Masa inilah dibangun Baitul Hikmah sebagai pusat perguruan tinggi, perpustakaan terbesar di dunia, dan penelitian.

Pada masa al-Mu’tashim Billah bin Harun mulai banyak konflik dan perseteruan, baik internal maupun eksternal termasuk dengan Romawi. Tetapi secara umum, kondisi kekhalifahan masih stabil. Dan khalifah al-Mu’tashim Billah inilah yang terkenal menyambut seruan seorang wanita muslim yang dilecehkan tentara Romawi di Amoria dengan seruan yang terkenal: Waa Mu’tashimaah! Khalifah yang mendengar seruan warganya ini lalu mengirim ribuan pasukan yang konon ujungnya sudah sampai Amoria di wilayah Romawi tetapi yang paling belakang masih berada di istana khalifah di Baghdad. Peperangan pecah hingga 30.000 pasukan Romawi tewas dan 30.000 lainnya ditawan. Sang muslimah pun bisa dibebaskan. Ketika membebaskan wanita muslimah itu, khalifah al-Mu’tashim bertanya, “Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?”

Demikian kekhalifahan Daulah Abbasiyah periode pertama diteruskan hingga khalifah Ja’far al-Mutawakkil bin Al-Mu’tashim memerintah.

***

Selepas khalifah al-Mutawakkil mangkat pada 861M, Daulah Abbasiyah mengalami kemunduran. Dimulai dari khalifah al-Muntashir yang disinyalir terlibat pada pembunuhan ayahnya, al-Mutawakkil. Pada masanya, ia memberi tempat dan penghormatan pada dinasti Syiah. Dan dialah khalifah Abbasiyah pertama yang makamnya diketahui. Khalifah sebelumnya dirahasiakan agar tidak disembah-sembah umat.

Pada masa sesudahnya terjadi bunuh membunuh di antara khalifah dan berbagai konflik internal dan eksternal mewarnai pemerintahan. Kehidupan mewah para penguasa pun mencolok. Hal ini menjadikan tentara profesional asal Turki yang semula direkrut al-Mu’tashim berhasil mengambil alih kekuasaan. Khalifah tinggal boneka, sementara pemerintahan sesungguhnya di tangah tentara Turki ini. Wibawa khalifah merosot tajam, hingga disintegrasi terjadi dengan timbulnya tokoh-tokoh kuat di berbagai daerah yang kemudian memerdekakan diri.

Pada periode berikutnya, kalangan Syiah Bani Buwaih mampu merebut kekuasaan. Kedudukan khalifah lebih buruk lagi karena hanya dianggap pejabat yang digaji Bani Buwaih saja. Hubungan Syiah dan ahlu sunnah memburuk pada masa ini.

Untuk melumpuhkan Bani Buwaih, khalifah mengundang Bani Seljuk (Turki) yang akhirnya bisa mengambil alih kekuasaan. Posisi khalifah membaik, tetapi kemudian masing-masing propinsi memerdekakan diri dan terjadi konflik dan peperangan di antara mereka sendiri.

Pada periode kelima, praktis khalifah bebas dari intervensi bangsa mana pun sehingga kedudukannya kian kuat, tetapi hanya untuk wilayah Baghdad dan sekitarnya. Pada masa Khalifah al-Musta’shim Billah, Baghdad dihancurleburkan oleh Hulagu Khan bersama pasukannya dari Mongol hingga menjadi kota mati. Tamatlah daulah Abbasiyah di Baghdad dengan amat tragis.

***

Banyak hal telah dicapai oleh Daulah Abbasiyah dalam rentang kekuasaannya selama 500 tahun lebih. Keempat imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal) hidup pada periode pertama daulah ini. Para ahli hadits terkemuka juga hidup pada masa ini, seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan lain-lain.

Ilmu pengetahuan sangat berkembang dan melahirkan banyak ilmuwan muslim tingkat dunia, seperti: Al-Fazari (astronom muslim pertama penemu astrolobe), Al-Farghani (penulis ringkasan astronomi), Ar-Razy dan Ibnu Sina (ahli kedokteran), al-Haitsami (penemu optik), Jabir bin Hayyan (ahli kimia), al-Khawarizm (ahli matematika), al-Mas’udi (ahli kesusastraan), al-Farabi dan Ibnu Rusyd (ahli filsafat), al-Qusayri dan al-Ghazali (ahli tasawuf), dan sebagainya.

Susunan pemerintahan juga mulai dilengkapi dengan jabatan Wazir (perdana menteri) yang membawahi Raisul Diwaan (menteri departemen), Diwaanul Kitaabah (sekretariat negara) yang dipimpin oleh Raisul Kuttab (sekretaris negara), pembentukan tentara profesional, baitul maal, amirul umara’, organisasi kehakiman, dan lain-lain.

[]

Disarikan Bahtiar HS dari berbagai sumber.