Keajaiban Sholat Tepat DI Awal Waktu

KEAJAIBAN SHALAT TEPAT DI AWAL WAKTU

Lelaki yang satu ini –sebut saja namanya Udin—profesi awalnya adalah sopir angkot. Setiap hari dia menyupir angkot dengan sistem setoran ke majikan. Setor karena angkotnya punya orang lain.

Nah suatu hari, majikannya bangkrut. Karena semakin mahalnya harga bensin. Akhirnya Udin jadi tidak punya mata pencaharian. Angkot majikannya sudah dijual. Karena Udin bukan tipe orang yang gampang putus asa, akhirnya dia mencari pekerjaan lain. Dipilihlah becak sebagai jalan ikhtiarnya. Karena hanya berprofesi sebagai tukang becak, kehidupannya pun sangat sederhana kalau tidak mau dikatakan kurang. Dia tinggal bersama tiga putri dan seorang istrinya di sebuah rumah kontrakan yang mungkin cuma layak disebut kamar.

KEAJAIBAN SHALAT TEPAT DI AWAL WAKTU

www.ummi-online.com

Tidak ada yang istimewa dari kehidupan sehari-harinya. Pagi-pagi pergi dari rumah mencari penumpang, sore pulang. Setiap hari seperti itu. Namun setelah dicermati, tenyata ada satu hal yang membuat Udin berbeda dari abang becak lainnya, bahkan dari kebanyakan kita. Udin selalu menjaga shalat di awal waktu, dan selalu dia lakukan di Masjid. Di manapun dia berada selalu menyempatkan bahkan memaksakan shalat di awal waktu. Setiap mendekati waktu shalat, jika tidak ada penumpang, dia akan mangkal di tempat yang dekat dengan masjid. Iya mendekati masjid.

Pokoknya dia tidak pernah ketinggalan shalat wajib awal waktu bahkan selalu berjamaah di masjid. Dan tenyata itu sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Ternyata istri dan ketiga putrinya pun begitu, mereka selalu shalat di awal waktu, meskipun berada di rumah. Dan cerita Udin pun mengalir:

***

Suatu hari ketika Udin sedang mangkal di salah satu hotel berbintang di Bandung, ada seorang ibu turun dari mobil Merci bersama seorang asisten tiba-tiba mendekatinya dan meminta untuk diantar ke salah satu tempat perbelanjaan di kawasan alun-alun kota Bandung.

“Enggak salah Bu naik becak?” kata Udin.

“Enggak Bang, jalanan macet, biar mobil disimpan di hotel aja, sekalian sopir saya istirahat,” jawab si Ibu.

Maka diantarlah si Ibu tadi ke pusat perbelanjaan yang dia minta. Udin pun mengayuh becak masih dalam keadaan kaget. Ketika mendekati alun-alun Bandung, terdengarlah suara adzan dzuhur dari Masjid Raya Jawa Barat.

Udin langsung membelokkan becak ke pelataran parkir Masjid. Si Ibu pun heran dengan apa yang ia lakukan.

“Bang, kok berhenti di sini?” tanya si Ibu.

“Iya Bu, udah adzan. Allah udah manggil kita buat shalat. Saya mau shalat dulu. Ibu turun di sini aja, tokonya udah dekat kok, di belakang masjid ini. Biarin Bu, GAK USAH BAYAR.”

“Tanggung Bang, lagian saya takut nyasar,” kata si Ibu.

“Kalau Ibu mau saya antar, saya shalat dulu, ya, Bu.”

Setelah selesai shalat Udin pun kembali menuju becaknya. Ternyata si Ibu dan asistennya masih menunggu di becak. Di antarlah si Ibu tadi ke pusat perbelanjaan di belakang Masjid Raya. “Bang tunggu di sini ya, ntar antar lagi saya ke hotel,” kata si Ibu.

“Iya Bu, tapi kalau Ibu balik lagi ke becak pas adzan Ashar, ibu tunggu dulu di sini. Saya jalan kaki ke masjid.”

Singkat cerita, si Ibu kembali ke becak jam 15.30. Kemudian mulailah dia bertanya di mana Udin tinggal. Si Ibu penasaran dengan kebiasaan Udin, demi shalat di awal waktu berani meninggalkan penumpang di becak, tak peduli dibayar atau tidak. “Bang, saya pengin tahu rumah Abang,” kata si Ibu.

“Waduh emangnya kenapa, Bu?” tanya Udin kaget.

“Saya pengin kenal sama keluarga Abang,” kata si Ibu.

“Jangan Bu, rumah saya jauh. Lagian di rumah saya enggak ada apa-apa.”

Si Ibu terus memaksa. Akhirnya setelah menunggu si Ibu shalat jamak Dzuhur dan Ashar di hotel, mereka pun pergi menuju rumah Udin. Tapi kali ini Udin pakai becak, sementara si Ibu mengikuti di belakangnya dengan mobil Merci terbaru.

Setibanya di rumah kontrakan Udin, si Ibu kaget, karena rumahnya sangat kecil. Tapi kok berani tidak dibayar demi shalat? Mungkin karena penasaran si Ibu bertanya, “Bang kok berani enggak dibayar?”

“Rezeki itu bukan dari pekerjaan kita, Bu, rezeki itu dari Allah. Saya yakin itu. Makanya kalau Allah memanggil kita harus datang. Haiyya ‘allal Fallaah … kan jelas Bu. Marilah kita menuju kemenangan, kesejahteraan, kebahagiaan. Saya ikhtiar udah dengan narik becak, hasilnya gimana Allah. Yang penting kitanya takwa ke Allah. Ya kan Bu?” kata Udin. “Saya yakin janji Allah di surat At-Thalaq ayat 2-3,” kata Udin. Si Ibu pun terdiam sambil meneteskan air mata.

Setelah dikenalkan dan ngobrol dengan keluarga Udin, si Ibu pun pamit, sambil meminta Udin mengantarkannya kembali minggu depan.

“Insya Allah saya siap Bu,” kata Udin. Si Ibu pun pamit sambil memberi ongkos becak ke istrinya Udin. Setelah si Ibu pergi ongkos becak yang dimasukan ke dalam amplop dibuka oleh Udin. Ternyata isinya satu juta rupiah. Udin dan keluarganya pun kaget dan bersyukur atas apa yang telah Allah berikan melewati si Ibu tadi.

***

Seminggu kemudian Udin mendatangi hotel tempat si Ibu menjanjikan. Setelah bertanya ke satpam, Udin tidak diperbolehkan masuk. Satpam enggak percaya ada tamu hotel bintang lima janjian sama seorang tukang becak. Udin tak memaksa, dia kembali ke becaknya.

Karena penasaran Udin tak masuk-masuk ke lobby hotel, akhirnya si Ibu keluar, dan melihat Udin sedang tertidur di becaknya.

“Bang, kenapa enggak masuk?” tanya si Ibu sambil membangunkan Udin.

“Ga boleh sama satpam Bu,” jawab Udin.

“Bang, kan kemarin Abang yang ngajak saya jalan-jalan pake becak. Sekarang giliran saya ngajak Abang jalan-jalan pake mobil saya,” kata si Ibu.

“Lah, Ibu ini gimana sih, katanya mau saya anter ke toko lagi?” kata Udin.

“Iya mau diantar, tapi bukan ke toko Bang,” kata si Ibu.

Setelah diajak naik mobil Mercinya si Ibu, Udin pun menolaknya, karena dia merasa kebingungan. “Mau dibawa ke mana saya Bu? Udah saya pake becak saya aja, ngikut di belakang mobil Ibu. Engga pantes saya naik mobil sebagus itu,” kata Udin. “Lagian becak saya mau ditaruh di mana?”

Namun setelah dibujuk oleh sopir dan asisten si Ibu, Udin pun mau ikut naik mobil. Becaknya dititip di parkiran belakang hotel. Berangkatlah mereka dari hotel. Masih dengan rasa penasaran Udin pun bertanya, “Mau ke mana sih, Bu?”

Di salah satu kantor Bank Syariah, mereka pun berhenti. “Bang, pinjam KTP-nya ya,” kata asisten si Ibu.

“Waduh apalagi nih?” pikir Udin. “Buat apa, Neng? Koq saya diajakin ke Bank, trus KTP buat apa?” tanya Udin heran.

Akhirnya asisten si Ibu menjelaskan, bahwa ketika minggu lalu mereka diantar Udin belanja, si Ibu mendapatkan sebuah pelajaran.Pelajaran hidup yang sangat mendalam. Di mana seorang abang becak dengan kehidupan yang pas-pasan tapi begitu percaya kepada janji Allah. Sementara si Ibu yang merupakan seorang pengusaha besar dan suaminya pun pengusaha, selama ini kadang ragu pada janji Allah. Seringkali, akibat kesibukan mengurus usaha, belanja, meeting dan lain-lain, dia menunda-nunda shalat. Bahkan tidak jarang lupa shalat.

“Nah sejak minggu lalu setelah pulang dari Bandung, Ibu mulai mengubah kebiasaannya. Dia selalu berusaha shalat awal waktu,” jelas asisten itu.

Saat pulang ke Jakarta, suaminya pun heran dengan perubahan si Ibu. Padahal dia juga punya kebiasaan yang sama dengan istrinya. Setelah diceritakan asal mula perubahan itu, suaminya pun menyadari, bahwa selama ini mereka salah. Terlalu mengejar dunia. Oleh karena itu, Ibu dan suaminya ingin menghadiahi Udin untuk berangkat haji. Mendengar akan DIBERANGKATKAN IBADAH HAJI, Udin pun kaget campur bingung.

Dengan spontan Udin MENOLAK hadiah itu. “Enggak mau Neng, saya enggak mau berangkat haji dulu. Meskipun itu doa saya tiap hari.”

“Loh kok enggak mau, Bang?” kata asisten kaget.

“Apa kata tetangga dan saudara-saudara saya nanti Neng, saat saya pulang berhaji. Kok ke haji bisa, tapi masih ngebecak? Memang berangkat haji adalah cita-cita saya. Tapi nanti setelah saya mendapatkan pekerjaan selain narik becak, Neng.”

Akhirnya asisten berdiskusi dengan si Ibu. Sambil menunggu mereka diskusi. Udin pun tidak henti-hentinya bertanya pada Allah. “Ya Allah pertanda apakah ini?”

Tidak lama kemudian si Ibu menghampiri Udin dan bertanya, “Bang, kan Abang bisa bawa mobil, bagaimana kalau menjadi supir di perusahaan saya di Jakarta?”

“Waduh … Jakarta ya, Bu? Ntar, keluarga saya gimana di sini? Anak-anak masih butuh bimbingan saya. Apalagi semuanya perempuan. Kayaknya enggak deh Bu. Biar saya pulang aja deh. Insya Allah kalau Allah ridha lain kali pasti saya diundang untuk berhaji.”

Akhirnya si Ibu membujuk Udin untuk mendaftar haji dulu. Berangkatnya mau kapan terserah, yang penting dia menjalankan amanat suaminya. Kemudian si Ibu menelpon suaminya, menjelaskan kondisi yang ada mengenai Udin. Setelah selesai mendaftar haji di bank, kemudian mereka pergi menuju sebuah dealer mobil.

“Kok masuk ke dealer mobil, Bu? Ibu mau beli mobil lagi? Mobil ini kurang gimana bagusnya?” kata Udin bingung. Sambil tersenyum si Ibu meminta Udin menunggu di mobil. Dia pun turun bersama asistennya. Selang setengah jam, si Ibu kembali ke mobil sambil membawa kuitansi pembayaran tanda jadi mobil.

“Nih Bang, barusan saya sudah membayar tanda jadi pembelian mobil angkutan umum. Pelunasannya nanti kalau trayek sudah diurus. Mobil angkutan umum ini buat bang Udin, hadiah dari suami saya,” kata si Ibu. “Jadi sambil menunggu keberangkatan Abang haji tahun depan, Abang bisa menabung dengan usaha dari mobil angkutan milik sendiri.”

Sambil meneteskan air mata tidak henti-hentinya Udin mengucap syukur kepada Allah.

“Ini bukan dari saya dan suami saya, ini dari Allah melalui perantaraan saya,” kata si Ibu. “Hadiah karena Abang selalu menjaga shalat di awal waktu. Dan itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya dan suami.”

Akhirnya mereka pun kembali ke hotel, setelah mampir lebih dulu di masjid untuk shalat Dzuhur berjamaah. Setelah makan siang, mereka pun berpisah. Udin pulang ke rumah dengan becaknya. Si Ibu langsung ke Jakarta.

“Mudah-mudahan kita semua bisa istiqamah menjaga shalat awal waktu, ya, Bang,” kata si Ibu.

Setelah itu kehidupan Udin semakin membaik. Dia sudah memiliki rumah sendiri, walapun menyicil. Yang tadinya dia seorang supir angkot dan abang becak, sekarang dia jadi pemilik angkot dan sudah berhaji.

Alhamdulillah sampai saat ini Udin masih terus menjaga sholat awal waktu, malah semakin yakin dengan janji Allah. Cerita ini merupakan KISAH NYATA, meskipun ada beberapa penambahan dan pengurangan dalam penuturannya. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, dan menjadikan kita semakin yakin dengan janji Allah.

Poin dari cerita ini adalah ketika Allah berkehendak, semuanya akan menjadi nyata. Mari kita jaga shalat di awal waktu, untuk mendapatkan keberkahan dari-Nya. Tentu jangan tinggalkan pula shalat dhuha dan tahajud-nya.

***

Disadur dari sebuah sumber terpercaya.

 

Oleh: Hasbi Maula