Kebahagiaan Sejati

Oleh:

Ust Abd Fatah

 

Nabi SAW bersabda:

اَلسَّعَادَةُ كُلُّ السَّعَادَةِ طُوْلُ الُعُمُرِفِي طَاعَةِ اللهِ.

Artinya: “Kebahagiaan sejati adalah panjang umur dalam taat kepada Allah.

 images (46)

Perawi Hadits

Diriwayatkan oleh al-Qudhai dalam “Asy-Syihab”, ad-Dailami di dalam “Al-Firdaus”, Ibnu Zanjawaih dan al-Khathib dari Ibnu Umar ra.

Menurut al-Iraqi, isnad hadits ini dhaif. Sedangkan menurut Asy-Syihab, hadits ini Gharib. Kata al-Khathib dalam sanadnya ada Ibrahim al-Baruzi, seorang yang perangainya kurang terpuji. Wallahu a’lam.

Sababul Wurud

Ibnu Umar ra berkata: “Rasullullah SAW pernah ditanya tentang kebahagiaan, maka beliau SAW menjawab, ‘Kebahagiaan sejati adalah panjang umur dalam taat kepada Allah SWT.’”

Penjelasan

images (45)Siapa saja yang diberi pertolongan oleh Allah dan diberi kekuatan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab berarti ia dimuliakan oleh Allah, di mana umurnya yang panjang telah dinikmatinya untuk taat kepada Allah dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat. Itu berarti, umurnya itu memberikan keuntungan baginya.

Kebanyakan orang awam menganggap bahwa kebahagiaan itu adalah mereka yang uangnya banyak, kendaraannya mewah, rumahnya besar, pangkatnya tinggi, hidup dalam gemerlapan, segala keinginan selalu terpenuhi, selalu menurutkan hawa nafsunya, dan sebagainya. Ternyata anggapan tersebut adalah salah besar. Itulah manusia yang tertipu, yang apabila tidak segera bertaubat kepada Allah, maka akan mendapatkan kesengsaraan yang berkepanjangan. Na’udzu billah min dzalik.

Ibnu Qayyim al-Jauzi dalam pesan-pesan spiritualnya menyatakan bahwa ciri-ciri kebahagiaan dan keberuntungan sejati adalah:

  1. Setiap kali seseorang yang bertambah ilmunya, maka bertambahlah sifat tawadhu’ dan kasih sayangnya.
  2. Amalnya selalu bertambah, begitu juga rasa takut dan waspadanya kepada Allah.
  3. Ketika umurnya bertambah tua, maka keinginannya terhadap dunia semakin berkurang.
  4. Setiap kali seseorang yang bertambah hartanya, maka bertambah pula kedermawanan dan pengorbanannya.
  5. Dan setiap kali bertambah pangkat/kedudukannya, maka bertambahlah kedekatannya kepada orang-orang/masyarakat dan bantuannya kepada mereka.

Maka perlu kita pahami bersama bahwa pada hakekatnya hidup ini adalah ujian dari Allah yang dengannya seseorang bisa meraih kebahagiaan yang sejati. Inilah orang-orang yang sukses, beruntung, dan lulus serta berhasil dalam hidupnya.

Sebaliknya bila kita gagal dalam menghadapi ujian hidup ini, maka kita akan mengalami kesengsaraan. Setiap kali bertambah ilmu kita, maka kita semakin sombong dan bangga diri. Setiap kali amal kita bertambah, maka semakin bangga dan meremehkan dan menghina orang lain. Setiap usianya bertambah, maka bertambahlah kedurhakaannya. Semakin hartanya bertambah, maka semakin bertambah pelit dan rakus. Dan semakin bertambah kedudukannya, maka semakin angkuh dan sesat.

download (38)

Mari kita perhatikan, bahwa kemuliaan, kehormatan, seperti kekuasaan, kerajaan, dan kekayaan, adalah cobaan dari Allah. Perhatikanlah firman Allah SWT tentang kisah Nabi Sulaiman As ketika melihat singgasana, beliau berkata, dalam Surat an-Naml: 40.

قالَ الَّذي عِندَهُ عِلمٌ مِنَ الكِتابِ أَنا آتيكَ بِهِ قَبلَ أَن يَرتَدَّ إِلَيكَ طَرفُكَ ۚ فَلَمّا رَآهُ مُستَقِرًّا عِندَهُ قالَ هٰذا مِن فَضلِ رَبّي لِيَبلُوَني أَأَشكُرُ أَم أَكفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّما يَشكُرُ لِنَفسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبّي غَنِيٌّ كَريمٌ

Artinya: “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al Kitab: ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: ‘Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.’”

Maka dari itu, poin penting nasihat ulama perlu kita cermati bersama antara lain:

images (47)

  1. Carilah kebahagiaan/kegembiraan yang berkesinambungan melalui ama-amal shalih, dan carilah eksistensi diri melalui apa yang seharusnya kalian lakukan sebagai makhluk yang terbaik.
  2. Gunakanlah dengan sebaik-baiknya waktu yang luang/kosong dengan berbagai amalan yang bermakna dan bermanfaat untuk membahagiakan diri dan orang lain.
  3. Latihlah diri kalian untuk menjadi kebahagiaan dan kegembiraan yang dirasakan secara berjamaah dengan cara memasukkan kegembiraan dalam keluarga, teman-teman, dan shahabat.
  4. Sangat mungkin seseorang merasa bahagia dengan apa yang sedikit yang ada di tangannya dan menjadikan sumber kebahagiaan yang berkepanjangan. Dan itu jika dia menghiasi dirinya dengan sifat ridha.

Demikian semoga bermanfaat dunia akhirat. Aamiin.

Referensi:

  1. Ila Abna’i wa Banati, 50 Syam’ah li Adha’ahdurubikum, Dr. Abdul Karim Bakkar.
  2. AlFawaid, Syaikh Ibnul Qayyim Al-
  3. Asbabul Wurud, jilid 2, Ibnu Hamzah al-Husaini al-Hanafi Ad-Dima