Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
“Kebersatuan ini bisa dimanfaatkan untuk mengatasi masalah yang dari dulu tidak selesai” | LAZIS AL HAROMAIN

“Kebersatuan ini bisa dimanfaatkan untuk mengatasi masalah yang dari dulu tidak selesai”

Reportase

Dr. Imron Mawardi, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur

3. Pak ImranTidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa kita rasakan saat ini adalah bagian dari buah kemandirian ekonomi suatu bangsa. Sejarah peradaban Islam pun juga mencatat demikian, sebelum kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi yang menyinari peradaban Islam di abad pertengahan, sejatinya umat Islam saat itu terlebih dahulu telah menata sendi perekonomian yang kuat. Nah, reportase kali ini akan mengulas mengenai kemandirian ekonomi umat Islam di tengah keterpurukan peradabannya. Apakah umat ini akan mampu mengulang kejayaannya kembali melalui kemandirian ekonominya? Berikut adalah petikan wawancara reporter Majalah Al-Haromain, Nuri Hermawan dan Anas Nur Fadilah dengan salah satu pengamat ekonomi dan keuangan syariah, yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur, Dr. Imron Mawardi, S.P., M.Si.

Seberapa pentingkah upaya mewujudkan kemandirian ekonomi umat Islam menurut pendapat Bapak?

Kemandirian ini merupakan salah satu aspek dari permasalahan kemiskinan yang ada di tengah-tengah kita, utamanya orang-orang kecil yang tidak bisa berusaha secara mandiri. Orang-orang kecil ini sangat bergantung, karena mereka tidak menjadi subjek tapi menjadi objek.

Boleh dikatakan bahwa selama ini pembangunan yang ada di Indonesia bukan pembangunan Indonesia. Kalau berbicara kemandirian dan kita sangat bergantung, maka kita akan selalu dilemahkan. Karena itu tidak bisa tidak, untuk menghilangkan kemiskinan, kita harus memandirikan penduduk kita, meski itu tidak mudah.

Bagaimana cara mengimplementasikannya di tengah masyarakat yang masih bergantung tersebut?

Sebenarnya banyak cara. Dulu bank dunia pernah meneliti pada orang-orang yang usahanya dalam sektor mikro. Mereka tidak punya kemampuan kalau berusaha sendiri. Oleh sebab itu, supaya bisa mandiri yakni dengan memberikan mereka akses keuangan. Nah dalam hal ini ada dua model, yakni dengan menciptakan lembaga keuangan untuk orang-orang miskin. Kalau di Indonesia seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), yakni upaya pemerintah dengan memberikan subsidi bunga. Selanjutnya ini juga yang bisa memandirikan mereka. Konsepnya yaitu mendirikan lembaga keuangan yang sebenarnya milik mereka yang dalam praktiknya ini model BMT. Nah ini keuangan syariah yang dikelola oleh mereka. Kalau kita bisa menerapkan konsep ini dan masyarakat memiliki akses ke lembaga-lembaga keuangan yang mereka miliki sendiri, hal ini akan membuat mereka mempunyai dua keuntungan, satu mereka memiliki akses keuangan, dan yang kedua keuntungan perputaran uang mereka dinikmati oleh mereka sendiri.

Kemudian usaha selanjutnya dengan memfasilitasi orang yang tidak berdaya agar bisa mandiri dengan cara kerjasama. Dalam hal ini kerjasama ada beberapa model, salah satunya dengan konsep koperasi. Misalnya ada orang yang memproduksi tempe hanya dalam skala kecil dan kemudian mereka dijadikan satu koperasi produksi tempe dan bisa produksi dalam skala banyak. Ini akan banyak keuntungan, selain harga bahan lebih murah, pasar bisa dicari bersama.

Selanjutnya model bapak-anak, misalnya di korea. Jadi ibaratnya seperti ini, misal pabrik sepeda motor, beberapa komponennya dikerjakan oleh anak asuh perusahaan inti yang mereka ini industri kecil. Dengan cara seperti ini, usaha kecil ini memiliki pasar yang jelas. Jadi mereka juga tidak menemui kesulitan pemasaran. Jadi pasar dan kulakan bahan ini urusan pabrikan, dan yang kecil sebagai pelaku untuk produksi.

Apa saja yang perlu dimiliki dan dilakukan oleh umat muslim?

Saya kira hal-hal itu yang perlu dilakukan

Tantangan apa saja yang akan dihadapi untuk mewujudkan langkah tersebut?

Nah, tantangannya di sini adalah sifat tidak konsisten yang dimiliki bangsa ini. Selain itu, kurangnya komitmen. Memang bukan hanya pemerintah, orang kecil juga ada andil. Dalam hal ini, pemerintah sebenarnya sudah banyak program, tapi terlihat belum berpihak. Tantangan selanjutnya ada infrastuktur yang masih belum maksimal

Cara menghadapinya seperti apa?

Upaya bersama itu harus dilakukan. Saya lihat sekarang pemerintah sudah fokus mengatasi berbagai masalah itu. Misal dengan pengurusan izin usaha yang satu atap, murah, dan cepat. Kesemua itu sudah mengarah ke sana, tinggal butuh waktu.

Lalu, apakah peristiwa 411 dan 212 punya andil dalam mendorong kemandirian ekonomi umat?

Iya, ini kalau kita respon dari peristiwa itu sudah luar biasa. Misalnya sudah mulai dibentuk koperasi dan mini market berjaringan. Nah ini bisnis, intinya bisnis itu kan kolaborasi. Kalau kecil-kecil dan jalan sendiri bakal tidak kuat. Beda kalau sama-sama akan sangat kuat. Itu prinsipnya.

Berbicara 411 dan 212, ini momentum tepat. Saat kita menghadapi ancaman yang sama, berjuta-juta orang akhirnya bersatu. Nah, energi yang positif ini bisa dimanfaatkan jangan hanya pada satu isu itu, tapi pada isu yang lebih penting, yaitu kemiskinan. Kebersatuan ini bisa dimanfaatkan untuk mengatasi masalah yang dari dulu tidak selesai.

Bagaimana peranan lembaga keuangan Islam khususnya perbankan syariah dalam mendukung kemandirian perekonomian umat?

Tujuan kita ini kan satu: mensyariahkan ekonomi masyarakat dan memasyarakatkan ekonomi syariah. Dan inti dari ekonomi syariah adalah mencapai kemaslahatan. Nah, jadi ya kita ekonomi Islam sudah berpihak pada pihak yang tidak berdaya. Harapan saya ke depan, justru yang mempunyai peran yang besar untuk mencapai tujuan syariah adalah lembaga keuangan yang terjun ke bawah. Asal prudential ke sana lebih besar, memang risiko juga lebih besar, tapi risiko itu bisa diatur.

Tahun 2017 ini kira-kira bagaimana prospek ekonomi Indonesia, khususnya terkait umat Islam?

Ya, kalau kita lihat sekarang ini kan kita tengah menghadapi salah satu permasalahan global dan Indonesia masih berkontribusi dalam hal konsumsi. Sebenarnya ada gaya masyarakat muslim saat ini untuk menerapkan gaya hidup Islami. Nah ini potensi yang sangat besar. Misalnya produk fashion muslim yang tumbuh luar biasa. Selanjutnya ada kosmetik, yang sekarang ada yang sudah dikhususkan untuk wanita muslim. Ke depan saya yakin akan dikembangkan produk makanan halal. Ini kesadaran dari bersyariah. Ini adalah tren yang harus dinikmati kaum muslimin, jangan sampai kesadaran hidup Islami ini ditangkap oleh Cina misalnya. Ada tasbih buatan Cina. Harusnya muslim yang berperan untuk ini, karena kita tahu aturan yang kita perlukan.

Kira-kira Bapak seberapa yakin bahwa kemandirian ekonomi umat ini dapat terwujud?

Saya yakin bahwa dengan kesadaran gaya hidup Islam yang baik dan terus berkembang, ke depan juga akan memberikan kehidupan ekonomi [yang lebih baik] bagi kaum muslim.

[]

Biodata Singkat

Dr. Imron Mawardi, S.P., M.Si. saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur. Beliau putera daerah asli Tulungagung yang menyelesaikan studi S1 di Universitas Jember. Kemudian beliau melanjutkan studi S2 Ekonomi Islam di Universitas Airlangga Surabaya dan juga melanjutkan studi doktoralnya pada disiplin ilmu dan almamater yang sama. Kini selain menjadi staf pengajar pada Departemen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya, Pak Imron juga menjadi konsultan di bidang ekonomi sekaligus menjadi pengamat ekonomi dan keuangan syariah.