Keharusan Mahasiswa Menjadi Sosok yang Inklusif dan Inspiratif

Oleh: Muhammad Fairuzzuddin Zuhair

Mahasiswa Prodi. Matematika, Fak. Sains dan Teknologi UNAIR

Santri Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah

Mahasiswa harus memiliki integritas yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja seusianya. Berbagai pengalaman menantang menjadi bekal tersendiri bagi para mahasiswa dalam memperoleh nilai-nilai kepemimpinan. Tidak ada syarat yang menyulitkan untuk menjadi pemimpin, cukup inklusif dan inspiratif.

Akhir-akhir ini, sering dijumpai pemimpin yang hanya berbekal kemampuan berkomunikasi dan manajerial yang bagus tanpa disertai ruh kepemimpinan. Dengan modal yang seadanya dia berhasil menjadi seorang pemimpin. Kondisi seperti ini harus diberhentikan dan dicari solusinya.Seorang pemimpin harus inklusif, yaitu pemimpin yang membaur dengan yang dipimpin untuk memberi arahan dan keteladanan secara langsung yang dengan itu  dia akan  mengemban amanah  lebih inspiratif dalam setiap langkah. Hal ini tentu membuat orang di sekitarnya akan merasa lebih nyaman dan merasa dia pantas mejadi pemimpin.

Melihat realita yang ada ternyata banyak dari pemimpin khususnya dikalangan mahasiswa belum memperlihatkan hal yang demikian. Tidak ada pembimbingan dan keteladanan darisekitarnya. Terkadang sikapnya bertolak belakang dengan apa yang ia katakan. Hal ini akan berdampak buruk, bisa jadi dia menularkan perilaku yang tidak baik.

Berbekal dengan idealisme yang kuat, mahasiswa sebagai pemeran utama bonus demografi tentu diharapkan mempunyai pandangan yang lebih luas. Mereka secara langsung terlibat dalam pembangunan. Oleh karena itu, dibutuhkan nilai-nilai kepemimpinan yang inspiratif guna mencari solusi yang lebih segar dalam memecahkan permasalahan yang ada.

Apabila melihat siapa sosok pemimpin yang pantas untuk menjadi kiblat dalam hal kepemimpinan adalah Nabi Muhammad SAW. Alphonse De Lamartine, Paris:1854 mengatakan bahwa Muhammad adalah filsuf,orator, rasul, legislator, pemimpin tentara, negosiator ulung, pembaharu, pemimpin keagamaan, pendiri lebih dari 20 wilayah negara berasas agama.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam menjalani kehidupansangatlah sulit, berbagai masalah sering menghadang, tetapi sikapnya yang jujur memudahkan segala urusannya. Sebagai pemimpin pribadi masing-masing, setiap mahasiswa yang sudah memahami makna pemimpin inklusif pasti akan memperlihatkan teladan yang baik misalnya menghindarimenyontek pada saat ujian  karena sadar menyontekmerupakan perilaku yang sangat tidak terpuji tetapi dianggap remeh. Minimal dengan memberikan teladanseperti itu, mereka telah mengambil langkah awal untuk mengurangi perilaku mencontek teman sekelasnya. Setelah itu, mahasiswa yang memiliki nilai-nilai kepemimpinan perlahan mengajak teman-temannya untuk lebih giat belajar lagi. Kalau perlu dibuatkan kelompok belajar, dan dalam setiap pertemuan ditekankan lagi bahwa setiap pribadi harus jujur. Disinilah peran mahasiswa untuk menginspirasi teman-temannya, mulai dari hal yang sangat sederhanauntuk melakukan perubahan.Lahirnya pemimpin yang inklusif dan inspiratif diharapkan mampu membawa mahasiswa untuk mengambil semua peran utama dalam menunjang pembangunan nasional yang berdasar kepada moral dan pendidikan.