Kekuatan dan Energi Taubat

Oleh: Umar Hasyim

Guru di Ponpes al-Asy’ariyah

Kalibeber Wonosobo

Khilaf dan lupa merupakan 2 hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang manusia, bahkan seakan menjadi identitas bagi manusia. Maka tak heran jika dalam bahasa Arab, manusia diartikan sebagai Naas (pelupa).Para filosof pun menyebut manusia sebagai Hayawan Nathiq(hewan yang berakal) karena dibekali nafsu yang menjadi akar dari dosa, serta akal yang berfungsi sebagai filter dari segala tindakan.

Dalam kehidupannya, sulit bagi individu melepaskan diri dari perbuatan maksiat maupun dosa. Kalaupun dia terbebas dari perbuatan maksiat, belum tentu dia terbebas dari kehendak untuk bermaksiat. Dan kalaupun dia terbebas dari kehendak untuk melakukan maksiat, maka belum tentu dia terbebas dari setan yang tiada bosan menggempur hati manusia dengan berbagai cara hingga membuatnya lupa untuk selalu mengingat Allah.

Menyikapi hal ini, tampaklah rahmat Allah dengan adanya solusi atau cara yang dapat ditempuh seorang hamba agar terlepas dari dosa dan kembali menuju jalan-Nya.Solusi itu tak lain adalah Taubat.

Taubat adalah tahapan paling awal yang harus dilampaui seorang hamba dalam proses pendekatan diri kepada Allah. Ia merupakan media dalam rangka mengukur sejauh mana keseriusan seorang hamba dalam menggapai ridha-Nya.

Perintah, anjuran, hingga keutamaan bertaubat sudah banyak disinggung, baik dalam Al-Qur’an maupun hadits, seperti firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (taubat yang semurni-murninya).” (Q.S. At-Tahrim: 08). Juga dalam sabda Nabi: “Orang yang mau bertaubat dari dosa itu bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (H.R. Ibnu Majah).

Dalam aplikasinya, taubat bisa dibilang antara mudah dan susah.Dianggap mudah karena dalam prosesnya hanya berpegang pada 3 komponen, yakni penyesalan, permohonan ampun, dan penghentian akan dosa yang telah diperbuat. Di sisi lain, dianggap susah karena membutuhkan tekad yang kuat dalam melaksanakan 3 komponen tersebut.

Dalam potongan ayat pada surat at-Tahrim di atas, Allah berfirman dengan redaksi Taubatan Nashuha. Meski kata Nashuhaoleh para mufassir diartikan dengan taubat semurni-murninya atau ikhlas karena Allah, yang berimplikasi munculnya rasa penyesalan serta i’tikad untuk menghentikan perbuatan dosa yang telah lalu, namun sesungguhnya kataNashuhamemiliki keterkaitan dengan kata Nashaha.Kata Nashaha dalam kamus al-Munawwir memiliki beragam makna, diantaranya menasihati, tulus, murni, dan bersih. Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa taubat nashuha selain taubat yang tulus dan murni, juga taubat yang memberikan dampak berupa nasihat bagi orang sekitar.Makna taubat sebagai nasihat yakni aktivitas taubat yang dilakukan diharapkan dapat memberikan nasihat atau inspirasi bagi orang lain untuk segera bertaubat dan bersungguh-sungguh menuju ridha Allah.

Dalam sebuah riwayat, dikisahkan ada seorang anak kecil yang hendak bepergian menuntut ilmu.Sebelum berangkat dia diberi bekal makanan dan uang oleh ibunya sebesar 200 dirham, dan tak lupa sang ibu memberikan nasihat untuk selalu bertaqwa kepada Allah dan menghindari ucapan dusta.

Anak tersebut pun berangkat bersama sebuah rombongan. Di tengah perjalanan, muncullah segerombolan penyamun yang menghadang perjalanan rombongan tersebut dan merampas barang-barang berharga dari mereka. Banyak diantara mereka berbohong untuk melindungi hartanya.Namun sang anak dengan lugas dia menjawab bahwa dia memiliki uang sejumlah 200 dirham. Sontak perampok pun kaget akan jawaban anak tersebut, sehingga mereka langsung memeriksa barang bawaannya. Namun sayangnya, mereka tidak mendapati uang 200 dirham tersebut, sehingga mereka membawa anak itu pada pimpinan mereka.

Para perampok itu menceritakan kepada pimpinan mereka mengenai anak tersebut.Selanjutnya terjadilah tanya-jawab diantara mereka.

“Hai anak kecil, benarkah engkau memiliki uang 200 dirham?”

“Iya, benar,” jawab sang anak.

“Buktikan padaku jika engkau tidak berdusta,” desak sang pimpinan.

“Demi tuhanku, tidak akan keluar dusta dari mulutku,” sanggahnya.Kemudian dia menunjukkan 200 dirham yang ia miliki. “Ini adalah bukti bahwa dusta adalah haram bagiku.”

Pimpinan perampok itu heran dengan perilaku anak tersebut dan berkata, “Sungguh baru sekali ini aku menjumpai sosok yang jujur dan tegas sepertimu,Nak.Kenapa jalan ini yang kau pilih, padahal banyak orang lebih memilih berdusta untuk melindungi harta mereka?”

“Sesungguhnya aku sedang dalam perjalanan menuntut ilmu, dan ibuku berwasiat padaku untuk bertaqwa dan menghindari dusta selama menuntut ilmu,” jawabnya.

Pimpinan perampok itu takjub dengan apa yang dia alami saat itu.Dia pun mnyesali perbuatan yang dia lakukan.Kemudian dia memilih untuk bertaubat dan memerintahkan seluruh anak buah untuk mengembalikan semua harta yang telah dirampas kepada pemiliknya masing-masing.

Taubatnya sang pemimpin dari profesi merampoknya kemudian diikuti oleh semua anak buahnya, sehingga mereka benar-benar berhenti dari aktivitas merampok yang sebelumnya mereka lakukan.

Kisah tersebut mencerminkan kemunculan energi dan kekuatan taubat, dimana aktivitas taubat seseorang mampu menginspirasi orang sekitarnya untuk meninggalkan aktivitas dosa atau kemaksiatan.

Menggali dan menyebarkan energi taubat bukan berarti kita mengajak orang lain untuk segera bertaubat, melainkan bagaimana kita mencerminkan sebuah perilaku yang menginspirasi orang lain untuk bertaubat atau melakukan hal positif dengan menghindari dosa dalam setiap aktivitasnya. Secara nalar, kita dapat mengaplikasikan itu dalam lingkungan kita.Namun dapat dikatakan berat karena kunci utamanya adalahtekad yang kuat dalam menghindari setiap kejelekan atau perbuatan dosa di lingkungan kita.

Aktivitas menyebarkan energi taubat dapat kita mulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga kita sendiri dengan beberapa aktivitas sederhana,semisal jika sebelumnya kita tidak pernah membaca Al-Qur’an, mulailah membacanya setiap hari di rumah walau hanya 1 halaman. Jika kita sering berbohong dalam ucapan, maka mulailah berbuat jujur meski pahit pada awalnya. Jika kita dianggap orang yang paling hina dalam lingkungan kita, maka kita harus menunjukkan melalui perilaku kita bahwa orang hina bisa berubah menjadi orang mulia.

Jika dalam lingkungan terkecil energi dan kekuatan taubat dapat dirasakan manfaatnya, maka pada lingkup yang lebih luas Allah akan memberikan kemudahan untuk itu.

Kembali pada konsep awal taubat sebagai tolak ukur keseriusan seorang hamba dalam menggapai ridha Allah, maka tolak ukur taubat nashuha adalah sejauh mana keseriusan taubat yang dilakukan oleh seseorang sehingga dapat menyebarkan energi positif dan inspirasi bagi lingkungan sekitarnya untuk dapat mengikuti jejaknya.

Wallahu a’lam bish-shawaab.

[]