Kemakmuran Untuk Dunia

Oleh : Ari Pratiwi

Mahasiswa doktoral di Islamic Economics and Finance, TRISAKTI, Jakarta

Globalisasi dianggap sebagai Tata Dunia Baru (New World Order), yang memandang dunia sebagai tidak memiliki batas, transparan, di mana semuanya bisa masuk, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi bagi berlangsungnya kompetisi secara drastis dalam situasi dan kondisi apa pun. Garis antara perdagangan domestik dan internasional akan semakin kabur dan seluruh proses globalisasi akan mengarah pada terbentuknya sebuah “desa dunia”.

Globalisasi membawa perubahan struktural dalam negara bangsa yang mempengaruhi pengaturan hubungan manusia, organisasi sosial, dan bahkan pandangan hidup (worldview) secara mendasar. Globalisasi tidak beku, bahkan sebaliknya, ia merupakan proses berkelanjutan yang dinamis. Dunia sebagai system yang terdiri dari beberapa sub system, diperlukan proses interaksi dan integrasi dari semua sub system, diantaranya: pasar, negara-bangsa, serta teknologi pada derajat yang tak pernah disaksikan sebelumnya. proses interaksi dan integrasi yang dilakukan demi mencapai tujuan dari sebuah system dunia yaitu kesejahteraan social, merupakan proses belajar dari setiap subsystem. Selayaknya proses belajar, akan membawa manusia menjadi yang lebih baik (evolusi) dengan mempelajari kesalahan dan kebaikan yang sudah dilakukan selama ini. Dengan konsep interaksi dan integrasi, maka konsep ekonomi yang selama ini selalu dipenuhi dengan kompetisi dan substitusi akan berubah menjadi pelengkap[1] (complementarities) antar subsystem. Dengan demikian, sangatlah dimungkinkan setiap individu, perusahaan, dan negara-negara berpartisipasi aktif, bekerja bersama di bumi Allah untuk mewujudkan tujuan bersama. Yang kemudian, tujuan itu akan dapat tercapai dengan cakupan yang lebih luas, lebih cepat, lebih dalam, dan lebih murah dari sebelumnya.

Dengan pola pikir interaksi, integrasi dan evolusi, dalam konteks ekonomi, globalisasi ‘mengurangi peran batas-batas nasional dan secara bertahap menyatukan pasar nasional yang terpisah ke dalam pasar global tunggal’. Jika ini terjadi, maka segala pembuatan keputusan dalam kaitan kebijakan ekonomi nasional akan lebih berorientasi global ketimbang sekedar lingkup nasional.

Efek Globalisasi

Globalisasi berpengaruh pada bidang politik, budaya, teknologi, dan ekonomi. Yang paling dominan tentu bidang ekonomi. Dengan ekonomi yang meng-global memunculkan tantangan dan perubahan yang serius terhadap pembangunan di negara-negara non-industri. Hal ini juga merupakan tantangan dan peluang baru yang memaksa negara-negara untuk membuat dan beradaptasi dengan perubahan sembari membangun kebijakan untuk memungkinkan integrasi ekonomi nasional ke pasar global. Hal ini juga berpengaruh terhadap integrasi yang serbacepat di antara negara-negara karena liberalisasi perdagangan dan transaksi keuangan serta privatisasi ekonomi lokal. Hal ini ditandai dengan adanya tarif ekspor yang rendah sebagai indikasi integrasi pasar internasional untuk memungkinkan membuat produk yang lebih efisien.

Bagi negara-negara sedang berkembang, globalisasi yang tidak terkelola akan berpengaruh pada efek yang tidak diinginkan kepada rakyatnya, pembangunan yang timpang, dan kesenjangan pendapatan. Jika itu terjadi, maka akan cenderung menimbulkan prasangka dan ketidakadilan, sehingga hanya sedikit pihak yang merasakan ‘kemakmuran’ sementara mayoritas masyarakat hidup dalam kemiskinan. Hal ini berarti lebih banyak kesenjangan antara negara maju dan berkembang. Negara-negara berkembang juga sangat tergantung pada pasar global sebagai penyebab kerentanan terhadap tekanan eksternal dan kendala terhadap perkembangan bangsa. Sumber daya yang ada hanya digunakan untuk meningkatkan produksi untuk ekspor yang akan bermanfaat bagi mereka yang terlibat dalam sektor perdagangan yang justru akan menciptakan lebih banyak kesenjangan dalam masyarakat di negara-negara berkembang.

Globalisasi dalam Islam

Konsep Tauhid (kesatuan) yang terdiri dari prinsip-prinsip etika dan moral diperlukan dalam membimbing manusia untuk mencapai kebahagiaan di kedua dimensi spiritual dan materialistis. Seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini merupakan umat yang tunggal (ummatan wahidah), dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS 21:92). Islam mendorong pemeluknya untuk bertindak dalam semangat ‘bersama-sama mengembangkan’ sebagai strategi dan ‘bersama-sama berbagi hasil’ sebagai aspirasi utama dalam melakukan semua kegiatan sehari-hari, termasuk melawan ancaman dan memperoleh keuntungan dari globalisasi dan meminimalkan kerugian dari globalisasi (sebagai ummatan-wahidah).

Ada juga hadits Rasulullah SAW, “Allah tidak melihat penampilan fisik atau sifat atau kekayaan kalian, tetapi Dia hanya akan melihat pada apa yang ada di hati dan perbuatan yang telah kalian lakukan”. Oleh karena itu, dalam Islam, globalisasi adalah menghormati warisan sosial dan tradisional, karena konsepnya adalah kesatuan atau universalitas Islam dan sistem dengan beragam perbedaan (tapi bersatu) untuk mencapai peradaban global.

rinda-widiana.blogspot.com

rinda-widiana.blogspot.com

Muslim sangat dianjurkan untuk bekerja sama dan saling membantu dalam pembangunan dan kedaulatan ekonomi untuk memastikan bahwa Muslim tidak akan tertinggal dalam menghadapi tantangan dan dampak globalisasi ekonomi. Negara-negara Islam secara keseluruhan memiliki faktor-faktor utama produksi yang diperlukan untuk industrialisasi dan pembangunan: sumber daya alam, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan (enterpreneurship). Sehingga diperlukan kerjasama antara Negara-negara Islam yang sudah maju untuk dapat saling membantu perkembangan ekonomi saudaranya yang kurang untuk kepetingan bersama.

Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash: 77) Di ayat lain Allah berfirman, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Q.S. Al-Jumu’ah: 10) Nabi SAW sendiri pernah bersabda: “Sungguh kefakiran dekat dengan kekafiran.”

Organisasi Kerjasama Islam (OKI) telah dikembangkan sejak tahun 1969 dengan 59 anggota di dalamnya. OKI memiliki banyak agenda di mana pada bidang ekonomi, rencana 10 tahun ke depan adalah bagaimana umat Islam mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam pembangunan dan kemakmuran, mengingat melimpahnya sumber daya dan kapasita ekonomi. Beberapa inisiatif dari program 10 Tahun OKI di antaranya, pertama, mengembangkan dan memperluas perdagangan elektronik di antara negara-negara anggota OKI dan memperkuat kegiatan di bidang data dan pertukaran keahlian antar anggota. Kedua, mendukung Islamic Development Bank (IDB) dengan membentuk dana khusus untuk membantu mengatasi dan mengurangi kemiskinan, memberikan kesempatan kerja, dan membantu pembiayaan dengan memastikan peningkatan yang substansial dalam modal dasar, ditempatkan, dan modal disetor IDB, sehingga memungkinkan untuk memperkuat perannya dalam menyediakan dukungan keuangan dan bantuan teknis kepada anggota OKI. Ketiga, memperkuat perusahaan-perusahaan muslim, mendesak IDB untuk mengembangkan mekanisme dan program yang bertujuan untuk bekerja sama dengan sektor swasta dan mempromosikan peluang investasi dan perdagangan intra-OKI.

Kesimpulan

Di dunia Islam saat ini, umat gagal untuk mengembangkan kepercayaan dan saling bekerja sama, menjadi peserta pasif dan bukan aktif dalam bidang ekonomi, kurangnya daya saing yang “sehat” di antara negara-negara, ketergantungan pada Barat dalam memperoleh barang dan jasa, jumlah berlimpah sumber daya alam tetapi gagal untuk memanfaatkan sumber daya itu, gagal mematuhi konsep ukhuwah Islamiyyah dan umatan wahidah, konflik antara negara-negara Muslim, dan utamanya kurangnya solidaritas di antara mereka. Masing-masing negara muslim malah tampak lebih memilih memperkuat hubungan dengan Barat dan bukan dengan negara-negara Muslim lainnya. Bersikap pasif terhadap tekanan dan ancaman boikot ekonomi dan keuangan dari Barat. Semua membuat kita dibagi menjadi potongan-potongan kecil, lemah, dan membuat kita semakin tergantung pada mereka.

OKI perlu mengambil bagian membawa para anggota dengan cara mereka untuk mencapai kemakmuran bersama. Untuk itu diperlukan komitmen penuh dalam melakukan simbiosis mutualis antara negara maju dan negara berkembang. Bergandengan tangan, dengan menyediakan produk dan para intelektual yang dapat saling-tukar bersama-sama. Sedikit demi sedikit perlu mulai melepaskan ketergantungan kepada selain anggota OKI. Paradigma globalisasi keumatan harus memprioritaskan perdagangan dan pembangunan pertama-tama dalam komunitas dunia Muslim dengan tidak mengecualikan masyarakat dunia. Pada saatnya, akan tumbuh umat dalam masyarakat dunia dan pada akhirnya tumbuh masyarakat dunia dengan sendirinya.

Memiliki kekuatan produk, kebersamaan (persatuan) di negara-negara Muslim dan cara yang tepat untuk melakukan bisnis, mudah-mudahan akan membawa kita pada kemakmuran bagi kita semua. Hal mana semua itu bisa dicapai dengan komitmen penuh dari perspektif ekonomi dan politik dari semua negara Muslim, baik negara maju maupun berkembang.

[1] Lihat surat An Naba ayat 6 – 16