Kembalilah Mendalami Ajaran Islam dengan Sungguh-sungguh

Oleh: Rita Hendrawaty Soebagio, Sp.Psi, M.Si.

Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA)

e0a81-muslimahHari ini kita disuguhkan dengan beragam pemikiran yang mengikis identitas sejati seorang muslimah. Beragam uapaya dan cara semakin hari terlihat semakin gencar, terlihat secara terang-terangan, dan masif.

Untuk menggali lebih dalam fenomena ini dan bagaimana upaya yang perlu dilakukan untuk membendung pemikiran-pemikiran yang perlu diwaspadai bagi para muslimah ini, reporter Majalah Al-Haromain berkesempatan mewawancarai Ibu Rita Hendrawaty Soebagio, Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA) sekaligus salah seorang Pengurus INSISTS Jakarta. Berikut petikan wawancaranya:

Secara sederhana, seperti apa idealnya seorang muslimah itu?

Muslimah ideal secara sederhana adalah seperti yang digambarkan oleh Allah  dalam Al-Quran. Dalam Surat An-Nisa ayat 34 disebutkan,bahwa wanita yang salihah adalah yang taat kepada Allah. Maka dengan demikian, dalam kedudukan sebagai apapun baik sebagai anak, istri, ibu, atau hamba Allah secara umum, perempuan terikat dengan berbagai aturan Allah yang akan menjaga harkat dan martabatnya sebagai seorang perempuan.

Bagaimana pandangan ibu mengenai bahaya pemikiran-pemikaran yang mengikis identitas seorang muslimah itu?

Berbagai gerakan pemikiran yang berakar di Barat telah mencabut fitrah perempuan dari akarnya. Atas nama pemberdayaan perempuan dan persamaan hak diantara laki-laki dan perempuan, perempuan semakin dijauhkan dari fitrahnya. Hal ini mau tidak mau juga turut mengikis jati diri sebagai seorang muslimah, terutama bagi mereka yang tidak cukup memahami kedudukan seorang perempuan dalam Islam. Banyak muslimah yang terperdaya oleh berbagai nilai yang ditawarkan Barat, yang tanpa disadarinya sebenarnya sedang menjauhkan dirinya dari fitrah yang sejati dan berujung pada gugatannya akan berbagai ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Menurut Ibu, siapa pelaku yang seringmembuat pemikiran tersebut?Akademisi, ulama, pemerintah, atau cendekiawan? Mengapa mereka demikian?

Pemikiran seperti kesetaraan gender pada dasarnya disebarkan oleh banyak kalangan secara sistematis. Para akademisi dan cendekiawan menyebarkan melalui berbagai konsep kajian wanita di perguruan-perguruan tinggi. Sementara itu para birokrat pemegang kebijakan membuat berbagai regulasi yang memberikan karpet merah tersebarnya konsep ini. Dan terakhir, tidak sedikit para Ulama yang kemudian menjadi pendukung konsep ini dengan memberikan penafsiran-penafsiran baru terhadap teks Quran dan Hadist demi memberikan legitimasi terhadap konsep kesetaraan gender.

Bagaimana cara pemikiran tersebut digunakan untuk melemahkan ketaatan seorang muslimah?

Karena pemikiran ini disebarkan dengan cukup sistematis, maka banyak muslimah yang terpapar konsep keseteraan gender dari berbagai kondisi. Berbagai media penyebaran menjadi alat terpaparnya muslimah dengan konsep ini. Dari level yang strategis seperti dalam bentuk perundangan ataupun kurikulum yang berbasis gender sampai pada media-media gaya hidup atau tontonan. Maka sekali lagi muslimah harus mampu untuk berpikir mendalam agar tidak terjebak dalam pemikiran yang disebarkan secera masif dan strategis.

Sebagai seorang muslimah, apa yang harusdilakukan untuk melawan dan membendung bahaya pemikiran tersebut?

Pada masa ini, seorang muslimah disamping harus memiliki pemahaman yang utuh tentang agama yang dianutnya yang meliputi seluruh cabang ilmu dari agama Islam. Tidak kalah pentingnya adalah muslimah juga memiliki bekal pengetahuan tentang berbagai konsep pemikiran yang berakar di Barat, sebagai bentuk mewaspadai berbagai nilai-nilai yang akan merusak dan mengikis identitasnya sebagai seorang muslimah yang taat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Jika harus melawan dengan pemikiran juga, lantas pemikiran apa yang tepat?

Disamping kembali mendalami ajaran Islam dari berbagai ulama yang lurus, saya kira konsep pemikiran yang digagas banyak para pemikir Islam bisa menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi problem dalam dunia pemikiran, khususnya yang menimpa para muslimah dengan gelombang konsep feminisme dan keseteraan gendernya. Islamic worldview yang dikenalkan tokoh cendekiawan muslim, Prof. Naquib Alatas, bisa memberikan bekal bagaiamana jati diri seorang muslim dalam bingkai adab yang lurus serta membangun sikap kritis dalam mencermati berbagai konsep yang datang dari Barat.

Selanjutnya, bagaimana peran lembaga atau pihak yang mempunyai peran sentral untuk melawan atau paling tidak mengurangi dampak dari pemikiran tersebut?

Lembaga-lembaga khususnya yang dimiliki oleh pemerintah ataupun organisasi keummatan memang diharapkan dapat mengatasi serangan konsep pemikiran yang tidak sesuai dengan nilai budaya dan agama.Namun sayangnya, saat ini tidak sedikit lembaga ini sudah terkena virus konsep pemikiran yang merusak. Dengan demikian tidak ada jalan lain selain terus membongkar pemikiran yang merusak ini dengan melakukan sosialisi kritik terhadap konsep yang merusak terhadap berbagai lembaga-lembaga strategis yang kita miliki.

Adakah saran untuk muslimah awam yang sering ikut arus pemikiran tersebut?

Untuk para muslimah, kembalilah mendalami ajaran Islam dengan sungguh-sungguh, sehingga dengan demikiankita memiliki kemampuan untuk mencermati berbagai fenomena yang terkait dengan peran dan posisi muslimah dalam kehidupan masyarakat. Muslimah bisa berkirprah dimanapun tanpa terseret arus pemikiran yang justru akan mencabut fitrah sebagai muslimah yang sejati.

Terakhir, bagaimana cara menyadarkan muslimah yang sudah termakan pola pemikiran tersebut?

Bagi mereka para pengusung konsep kesetaraan gender atau feminisme, cobalah kembali merenungkan makna dan hakikat sebagai seorang perempuan yang sesungguhnya, apakah jalan yang ditempuhnya benar-benar telah membuat dirinya atau perempuan lainnya benar-benar merasakan kebahagian yang sejati. Karena bagi kami, kebahagiaan sejati tetap ada dalam ketaatan dan keterikatan dengan Rabb sang penciptanya.

[]