Keteladanan Shalihin Menumbuhkan Kecintaan Kita

Oleh: M. Muhim Kamaluddin

Pengajar di TPQ As-Sakinah, Mojoagung, Jombang.

awan-cintaPada sebuah musim haji, khalifah bani Umayah, Sulaiman bin Abdul Malik berkunjung ke Makkah untuk berhaji. Pada saat melakukan thawaf, khalifah melihat Sayyid Salim bin Abdullah bin Umar bersimpuh di depan Ka’bah dengan khusyu’. Lisannya melantunkan al-Qur’an dan dzikir, matanya meneteskan air, sedangkan dadanya yang lebar bergoncang-goncang.

Sayyidina Salim bin Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu, ayahnya adalah periwayat hadits Nabi yang utama dan terkenal dengan kezuhudannya, sedangkan kakeknya adalah shahabat utama Nabi Muhammad shallallahu alahi wasallam. Maka tidaklah berlebihan apabila sayyidina Salim mewarisi sifat-sifat utama ayah dan kakeknya tersebut. Badannya tinggi besar, penampilannya sederhana, dan mudah sekali menangis apabila mengingat Allah. Yang diingat orang terhadap sayyidina Salim adalah kezuhudannya.

Usai thawaf dan shalat dua raka’at, khalifah berusaha menghampiri sayyidina Salim bin Abdullah. Orang-orang memberinya tempat, sehingga dia bisa duduk bersimpuh hingga menyentuh kaki Sayyidina Salim. Namun Sayyidina Salim masih larut dalam munajat dan dzikirnya.

Dengan sabar khalifah menunggu beliau berhenti sejenak dari bacaan dan tangisnya, sambil tak henti memperhatikan Sayyidina Salim. Ketika ada peluang, khalifah segera menyapa.

“Assalaamu alaikum wa rahmatullah wahai Abu Umar.”

“Wa’alaikassalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Sayyidina Salim.

“Katakanlah apa yang menjadi kebutuhan Anda, wahai Abu Umar, saya akan memenuhinya,” kata khalifah.

Sayyidina Salim tidak mengatakan apa-apa sehingga khalifah menyangka dia tidak mendengar kata-katanya. Sambil merapat, khalifah mengulangi permintaannya, “Saya ingin Anda mengatakan kebutuhan Anda agar saya dapat memenuhinya.”

Sayyidina Salim berkata, “Demi Allah, aku malu mengatakannya. Bagaimana mungkin, aku sedang berada di rumah-Nya, tetapi meminta kepada selain Dia?”

Khalifah terdiam malu, tapi dia tak beranjak dari tempat duduknya. Ketika shalat usai, sayyidina Salim bangkit hendak pulang. Orang-orang mengelilinginya untuk bertanya tentang hadits ini dan itu, dan ada yang meminta fatwa tentang urusan agama, dan ada pula yang meminta untuk didoakan, ada yang sekedar bersalaman atau memeluknya karena rindu akan sosok Sayyidina Salim bin Abdullah. Khalifah Sulaiman termasuk di antara kerumunan itu. Begitu mengetahui hal tersebut, orang-orang menepi untuk memberinya jalan. Khalifah akhirnya bisa mendekati beliau, lalu berkata, “Sekarang kita sudah berada di luar masjid, maka katakanlah kebutuhan Anda agar saya dapat membantu Anda.”

Beliau menjawab, “Dari kebutuhan dunia atau akhirat?”

“Tentunya dari kebutuhan dunia,” kata khalifah Sulaiman.

Beliau menjawab dengan lembut namun tegas, “Saya tidak meminta kebutuhan dunia kepada Yang Memiliki-nya, bagaimana saya meminta kepada yang bukan pemiliknya?”

Khalifah kembali merasa malu dengan jawaban tersebut. Khalifah kemudian berlalu sambil bergumam, “Alangkah mulianya kalian dengan zuhud dan takwa, wahai keturunan Al-Khattab. Alangkah kayanya kalian dengan Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah memberkahi kalian sekeluarga.”

***

Kezuhudan sayyidina Salim bin Abdullah begitu menakjubkan. Banyak ulama yang mendefinisikan arti zuhud dengan berbagai macam penjelasan, yang pada intinya zuhud bukan berarti anti-dunia, anti-kaya, akan tetapi arti zuhud secara umum menganggap kecil dunia karena melihat keutamaan akhirat yang jauh lebih baik dari dunia.

Suatu ketika, seorang murid dari Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki menjelaskan bahwa zuhud hanya terjadi apabila hati sudah bisa wara’ (menjaga diri dari hal-hal yang subhat, dan sangat menjaga diri dari perkara haram). Dan manusia bisa wara’ apabila manusia itu sudah bisa tawakkal. Dan tawakkal itu berhubungan dengan kerja keras. Apabila dirunut, zuhud adalah buah dari kerja keras.

Demikianlah sekelumit gambaran tentang sifat zuhud yang dimiliki oleh sayyidina Salim bin Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, yang terus terang amat sulit untuk kita lakukan. Namun, dengan mengenang kisah-kisah para ulama serta keteladanan mereka diharapkan akan timbul rasa cinta kepada mereka. Karena bekal kecintaan kita inilah yang kita harapkan akan mempertemukan kita dengan mereka yang kita cintai.

Sepantasnya kita bersyukur dan bergembira dengan sebuah hadits Rasulullah shallallahu alahi wasallam:

اْلمَرْأُ مَعَ مَنْ اَحَبَّ

“Seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintainya.”

Sayyidina Anas bin Malik begitu bergembira ketika mendengar hadits tersebut dan mengatakan, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Dan aku berharap bisa bersama mereka dengan modal kecintaanku atas mereka, meski belum mampu beramal seperti yang telah mereka amalkan.”

Dengan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad shallallahu alahi wasallam, sahabat-sahabat beliau, para pengikut mereka dari kalangan tabi’in atau generasi-generasi setelah mereka, kita berharap akan dibangkitkan bersama mereka, meski jauh bedanya antara amal kita dengan mereka. Meski jauh antara sifat zuhud yang mereka miliki dan kecintaan kita kepada dunia fana ini.

Namun, mustahil timbul rasa cinta tanpa mengenal yang dicintainya. Mengenal kekasih adalah jembatan pertama menuju cinta. Oleh karena itulah, para ulama salaf demikian antusias untuk membaca kisah-kisah generasi yang utama atau para ulama salafus shalih.

Dan diantara tanda kecintaan kepada sesuatu adalah dengan mengabadikan namanya. Menisbatkan nama yang ia cintai kepada anak-anak mereka. Cintanya Sayyidina Ali kepada Rasulullah dan para sahabat beliau, ia tunjukkan dengan memberi nama-nama anaknya Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan lain sebagainya.

Demikian pula kaum alawiyin mencintai Sahabat Nabi. Mereka memberi nama-nama anak-anak mereka dengan nama manusia-manusia utama, saking cintanya mereka kepada para sahabat dan keluarganya, sehingga nama-nama anak mereka pun mereka namakan dengan nama idola mereka. Mereka sangat berharap, dengan tafa’ul nama para shalihin, akan lahir pula orang-orang yang alim dan shalih seperti yang mereka idolakan.

Hal ini pula yang dilakukan oleh Habib Ahmad as-Syatiri. Beliau memberi nama putranya dengan nama Umar. Dan ketika habib Umar bin Ahmad dewasa, beliau menamakan salah satu puteranya dengan nama Abdullah. Dan ketika habib Abdullah bin Umar dewasa dan memiliki anak, beliau memberi salah satu puteranya dengan nama Salim. Dan kini kita mengenal Habib Salim bin Abdullah bin Umar Asy-Syatiri, sebagai salah satu ulama panutan kita. Yang kita mencintai beliau dan memasang foto beliau di rumah-rumah kita di antara jajaran foto para ulama.

Semoga dengan kecintaan kita kepada mereka, kita bisa dipertemukan dengan mereka di Surga meski amal kita tidaklah seperti amal mereka. Amiin.

[]