Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
KETIKA ADIK MALAS BELAJAR | LAZIS AL HAROMAIN

Ketika Adik Malas Belajar

KETIKA ADIK MALAS BELAJAR

Oleh : Ulinnuha

                Semula Nabila merupakan anak yang berprestasi. Namun sejak ayahnya di-PHK dan belum mempunyai pekerjaan yang tetap, ia membantu ibunya untuk membuat kue yang dititipkan di warung-warung yang hasilnya dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sejak saat itu ia mulai malas belajar karena kondisinya sudah terlalu lelah bila akan belajar. Lain halnya dengan Nizal yang seharian berada di sekolah Fullday, ketika disuruh belajar ia seringkali mengatakan pada mamanya, “Aku tadi sudah belajar di sekolah Ma. Sekarang disuruh belajar lagi, capek aku, Ma!”

***

Fenomena di atas sering kita jumpai dalam kehidupan di sekitar kita. Anak yang malas belajar tampak tak bersemangat, kurang tertarik pada berbagai hal di sekolah, dan mudah putus asa. Lantas hal apa saja yang bisa membuat anak untuk malas belajar? Apakah lingkungan yang tidak mendukung atau kesalahan dari orangtua yang salah dalam memotivasi anak? Atau bisa jadi anak malas untuk belajar dikarenakan memang di dalam dirinya tidak ada semangat untuk belajar?

Kebiasaan para orangtua pada umumnya adalah suka memberikan pesan yang berisi kritikan, omelan, dan pelampiasan kemarahan orangtua, sehingga membuat anak memiliki beban dan menjadikan anak malas untuk belajar

Berikut beberapa hal yang bisa membuat anak malas belajar :

  1. Penyebab Ekstern (dari luar)
  2. Sikap Orang tua yang yang kurang tepat di antaranya:
  • Orangtua memberikan target dan standar yang tidak sesuai

Pada umumnya orangtua mengharapkan agar anaknya bisa mencapai target yang telah ditentukan oleh orangtuanya. Target yang diberikan bisa jadi berada di bawah atau di atas kemampuan anak. Kalau target yang diberikan jauh di bawah dari kemampuan anak, ia akan malas untuk belajar, karena merasa sudah bisa. Begitu pula sebaliknya, ketika target yang diberikan jauh di atas kemampuan anak, maka si anak juga akan malas untuk belajar karena merasa terbebani dan merasa tidak mampu

  • Tidak ada komunikasi yang baik dengan anak

Kebiasaan para orangtua pada umumnya adalah suka memberikan pesan yang berisi kritikan, omelan, dan pelampiasan kemarahan orangtua, sehingga membuat anak memiliki beban dan menjadikan anak malas untuk belajar.

KETIKA ADIK MALAS BELAJAR

inspireclinic.wordpress.com

Misalnya ketika orangtua melihat hasil nilai ulangan anak yang berada di bawah nilai rata-rata (jeblok). Dan kebetulan pula si anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain. Kira-kira tahu pesan apa yang disampaikan orangtua kepada anak? Pasti begini pesan yang diberikan, “Kamu sih tidak mendengarkan kata Ibu? Kamu kebanyakkan main hingga lupa belajar, akhirnya ya begini nilainya jelek! Ibu kecewa sama kamu! Ibu kan sudah capek-capek mencari uang untuk kamu.”

Kira-kira bagaimana respon yang muncul dari sang anak? Cerita sekilas tadi merupakan gambaran komunikasi kepada anak yang sangat tidak efektif. Sebaiknya para orangtua mencari penyebab mengapa anak malas belajar. Barangkali si anak memang mempunyai permasalahan dengan materi pelajaran yang belum dikuasainya.

  • Bersikap ‘Cuek’ (kurang peduli) atau bersikap permisif (serba boleh)
  • Terlalu protektif (melindungi secara berlebihan), sehingga rasa ingin tahu dan kesempatan belajar anak menjadi terbatas
  • Terlalu otoriter

Tanpa sadar banyak para orang tua yang melakukan sikap otoriter kepada anaknya. Maksudnya sih bagus memberikan pesan kepada anak, namun efek yang ditimbulkan malah membuat anak malas untuk belajar. “Pokoknya kamu besok harus rangking satu!” “Seharusnya kamu itu lulus dengan nilai bagus! Kan sudah Ayah masukkan ke lembaga BIMBEL!”

Masih banyak pesan-pesan lainnya yang membuat anak malas untuk belajar. Si anak seakan-akan harus dipaksa untuk menuruti kemauan orangtuanya. Akhirnya hal yang terjadi adalah anak akan melakukan kemauan orangtuanya dengan setengah hati, karena ia sendiri tidak menyukainya.

  1. Orang tua yang bermasalah

Masalah yang terjadi pada orang tua akan berimbas pada anak, karena menyebabkan ‘rasa aman’ anak terganggu. Jika berkepanjangan, dapat menghilangkan keinginan berprestasi anak. Mereka cenderung mengabaikan sekolah dan malas belajar.

  1. Lingkungan yang kurang mendukung

Misalnya, kondisi rumah yang padat penghuninya, dekat dengan warnet, atau di rumah tersedia WIFI, HP, dan lain-lain

  1. Beban sekolah yang terlalu banyak
  1. Intern (dari diri anak itu sendiri)
  2. Rasa percaya diri yang rendah

Rasa ‘tak berharga’ sering menjadi penyebab lemahnya motivasi belajar anak. Anak menganggap mereka tak berdaya, tak mampu menguasai lingkungan dan tak mungkin sukses.

  1. Keterlambatan perkembangan.

Keterlambatan perkembangan fisik dapat menjadi penyebab anak malas belajar, karena mereka memandang dirinya rendah baik secara fisik, psikologis dan sosial, sehingga pesimis dan kurang semangat untuk belajar. Selain itu kelainan fisik seperti gangguan pendengaran, atau fungsi saraf pusat juga bisa membuat anak tak ulet, mudah kehilangan minat belajar dan mudah frustasi.

PENCEGAHAN DAN PENANGANAN

Mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan anak malas belajar merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua. Permasalahan yang terjadi perlu digali agar bisa mencari solusi yang tepat sehingga dapat menumbuhkan semangat belajar pada anak. Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan

  • Bersikap tepat, dengan memberikan kepecayaan, perhatian dan penghargaan pada anak
  • Sesuaikan harapan dengan kemampuan anak
  • Memahami gaya belajar anak, karena masing-masing anak mempunyai gaya belajar yang berbeda. Ada yang visual (dengan media yang menarik dilihat), auditori (belajar dengan mendengarkan musik), maupun kinestetik (misalnya belajar berhitung sambil menempelkan lambang dan jumlah bilangan yang sesuai)
  • Pemilihan metode / strategi belajar yang tepat

Misalnya mengenalkan cara belajar aktif dengan mengajak anak memecahkan aneka ’teka-teki‘ di lingkungan, dengan mempertanyakan dan mencari jawaban bersama.

  • Posisi Belajar

Bila anak belajar sambil tidur-tiduran, maka lambat laun ia pasti akan tertidur. Bila anak belajar sambil tiduran, maka secara psikologis, tubuh akan mengartikan bahwa anak tidak siap dan serius untuk belajar. Tubuhnya akan merespon bahwa buku atau pelajaran tidak terlalu penting untuk dipelajari. Kembali ke sifat pikiran bawah sadar, pikiran akan mengartikan bahwa belajar adalah kegiatan yang menyiksa dan membosankan. Lebih baik untuk tidur. Oleh karena itu, usahakan anak belajar di atas meja belajar dengan pencahayaan yang cukup, supaya konsentrasi dan mood dalam belajar anak terjaga.

  • Mengubah persepsi, dengan membantu mengubah cara pandang anak pada diri dan lingkungannya. Misalnya “Insya Allah aku bisa”, “Aku anak yang pintar dan bertanggung jawab.”
  • Memberi penguatan (hadiah, pujian) yang efektif
  • Memotivasi anak dengan menunjukkan melalui cerita maupun buku bacaan tentang semangat belajar Rasulullah beserta sahabatnya sehingga berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan dapat menguasai dunia. Di samping itu perlu juga menunjukkan akibat orang yang malas belajar.
  • Membiasakan anak berdo’a agar terhindar dari sifat lemah dan malas sebagaimana do’a yang diajarkan Rasulullah yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas”….

 

Wallaahu a’lam.