Keutamaan Iman kepada Rasulullah SAW

Oleh : Ust. Abdul Fattah

Rasulullah SAW bersabda:

طُوْبَى لِمَنْ رَاٰنِى وَاٰمَنَ بِى وَطُوْبَى {سبع مرات} مَنْ لَمْ يَرَانِى وَاٰمَن بِى.

Artinya: “Beruntunglah bagi orang yang melihatku dan beriman kepadaku, dan beruntunglah (Rasulullah mengulangi 7 kali) bagi orang yang tidak melihatku tetapi ia beriman kepadaku”.

 

KETERANGAN

Sababul Wurud

Ath-Thayalisi dan ‘Abd bin Humaid meriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa ia berkata, ”Rasulullah SAW ditanya oleh seseorang, ‘Bagaimana pendapat engkau tentang orang yang beriman kepada engkau tetapi ia tidak pernah melihat engkau?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Mereka adalah saudara-saudaraku dan mereka akan bersama denganku. Beruntunglah orang yang beriman kepadaku sedangkan mereka belum pernah melihatku’.” Sebagaimana dalam hadits  tersebut di atas.

Derajat dan Perawi Hadits

Imam al-Hakim menyebutkan bahwa hadits ini adalah shahih. Dalam kitab “At-Tarikh” Imam al-Bukhari dan Imam Ahmad meriwayatkannya. Begitu juga Ibnu Hibban dan Imam al-Hakim meriwayatkan dengan lafadz (yang artinya): ”Beruntunglah bagi orang yang pernah melihatku dan beriman kepadaku (di sebutkan hanya satu kali), dan beruntunglah bagi orang yang tidak melihatku tetapi ia beriman kepadaku (disebutkan sebanyak 7 kali). Dan At-Thayalisi dan ‘Abd bin Humaid meriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW mengulanginya sampai 3 kali. Wallahu ‘alam.

Syarah Hadits

  1. Hadits di atas menunjukkan keutamaan keimanan kepada Rasulullah SAW baik keimanan yang dialami oleh generasi pertama dari umat Nabi SAW seperti para shahabat Nabi maupun oleh generasi terakhir.

images-1Salah satu komponen iman dalam Islam adalah sudah barang tentu wajib mengimani Nabi dan Rasulullah SAW. Rasulullah merupakan figur yang terpenting dalam kehidupan ber-Islam dan harus yakin dengan seyakin-yakinnya dengan benar bahwa Muhammad SAW adalah seorang Nabi dan utusan Allah yang tidak pernah berbuat syirik kepada Allah juga sebagai penutup para nabi dan rasul. Tidak ada nubuwwah lagi setelah beliau. Rasulullah juga sebagai imam para muttaqin. Beliau merupakan sosok yang menjadi suri tauladan dalam segala aktivitas menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Habibullah adalah gelarnya, beliau juga diimani dengan segala mukjizat yang telah dikaruniakan oleh Allah kepadanya.

Iman kepada Rasulullah SAW sudah lahir semenjak jaman kerasulan beliau. Bahkan sebelum menjadi rasul, beliau sudah menjadi orang yang dipercaya dengan gelar al-amin. Prestasi besar sudah beliau capai pada usia yang relatif muda berupa mencegah terjadinya perang lantaran perebutan penghormatan untuk memindah Hajar Aswad ke tempat semula setelah renovasi Ka’bah. Memang harus kita akui bahwa Rasulullah figur yang sangat disegani oleh semua kalangan.

  1. Hakekat Iman

Secara etimologis iman berasal dari kata “Aamana-yukminu-iimaanan” yang berarti “tashdiq” artinya pembenaran. Ini adalah kesepakatan ahli lughah/bahasa. Hal ini berkenaan dengan firman Allah dalam surah al Hujurat ayat 14 yaitu:

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam kalimat “katakanlah kamu belum beriman”, tetapi “katakanlah kamu telah tunduk (Islam), pada poin ini pentinglah untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan antara mukmin dan muslim. Islam adalah menunjukkan kepatuhan terhadap ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Apabila kepatuhan dalam memperlihatkan kepatuhan tersebut dibarengi dengan pembenaran dalam hati, maka saat itulah baru disebut iman. Seseorang dikatakan mukmin dengan sebenar-benarnya, apabila ia mengimani Allah dan Rasul-Nya tanpa sedikitpun dalam hatinya ada keraguan. Pernyataan ini berdasarkan firman Allah dalam surah al-Hujurat ayat 15 yaitu (yang artinya):

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad)  dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka Itulah orang-orang yang benar.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa iman yang sesungguhnya adalah iman yang konsisten dan tidak bercampur dengan keraguan sedikit pun. Bahkan tak sebatas itu, ia menuntut adanya aplikasi perbuatan dengan sarana fisik manusia.

  1. Keutamaan beriman kepada Rasulullah SAW

Allah SWT melalui Nabi dan Rasul-Nya Muhammad SAW telah memberikan penghargaan yang mulia bagi seorang muslim yang meskipun belum pernah bertemu dengan Rasulullah tetapi tetap mau mengimaninya. Hal ini menurut Mauqi’ Ya’sub, karena posisi Rasulullah bagi mereka sebagai hal ghaib, sementara bagi para shahabat, mereka mengimani Rasulullah yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat langsung bagaimana mukjizat Rasulullah, kebaikan dan keagungan akhlak beliau. Sementara generasi akhir seperti kita ini, Rasulullah sebagai hal yang ghaib; artinya tidak pernah bertemu/melihat pada beliau, akan tetapi kita mengimani beliau.

Oleh sebab itulah, Allah dan Rasulullah menghargai dan memujinya dengan kalimat ”Beruntunglah… beruntunglah… beruntunglah… sampai berulang-ulang. Dalam riwayat hadits di atas Rasulullah sampai mengulang tujuh kali tidaklah menandakan memberi batasan. Itu bukan berarti mereka mendapatkan keberuntungan tujuh kali, namun yang dimaksud adalah ungkapan ‘taktsir’ (hitungan banyak tanpa batas). Artinya adalah umat yang tidak pernah melihat Rasulullah tapi benar-benar mengimaninya secara konsisten dan konsekuen, maka hal ini menandakan betapa mulianya kita ini sebagai umat dan generasi yang melewati beberapa masa mulai dari generasi para shahabat, para tabi’in, taabi’it tabi’in, para ulama salafush shalih, dan tibalah sampai pada generasi saat ini yang kita alami .

images-2

Kesimpulan

Iman merupakan hal yang sangat krusial dalam Islam. Ia salah satu poin kunci. Dalam iman, terdapat berbagai komponen, salah satunya adalah beriman kepada Rasulullah SAW. Nabi Muhammad sebagai Rasulullah, sudah pasti menjadi salah satu objek yang diimani dalam hal ini.

Beliau merupakan manusia yang agung yang memiliki akhlak yang luar biasa. Sejak dini beliau sudah menjadi sosok manusia kepercayaan dan mendapat gelar al-amin, apalagi setelah menjadi Rasul. Wibawa yang begitu besar sehingga sangat dihormati oleh kawan maupun lawan. Beliau merupakan penghulu para nabi dan Imam para muttaqin. Begitu banyak hal yang patut dan seharusnya kita teladani dari segala apa yang beliau ajarkan dan contohkan.

Iman kepada Rasul, bagi para shahabat adalah hal yang sangat lazim. Mereka menyaksikan bagaimana kehidupan Rasulullah, bagaimana dakwah, akhlaq, perawakan, kelembutan, bahkan mukjizat beliau. Bagi mereka, Rasulullah merupakan sosok yang kongkrit. Jadi sangat wajar mereka begitu mengimani dan bahkan mencintai beliau.

Sementara generasi penerus yang dibatasi waktu yang cukup panjang tetap mengimani Rasulullah SAW, maka mereka pantas diberi penghargaan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal ini karena posisi beliau yang ghaib di mata mereka. Mereka tidak menyaksikan Rasulullah secara langsung, sementara mereka tetap punya iman. Karena itulah Nabi Muhammad SAW memberikan apresiasi yang baik terhadap mereka. Beruntunglah kita yang beriman kepada Rasulullah meskipun tidak menjumpai beliau. Namun insya Allah kita akan berjumpa dengan beliau berkah syafa’atnya dan rahmat, juga ridha Allah SWT.

Allahumma Aamiin.

[]

Referensi:

  1. Khasaish al-Ummah Muhammad, Dr. Muhammad Alawi al Maliki al Hasani.
  2. Shahih Imam al-Bukhari, Imam Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Hibban.
  3. Kitab at-Tarikh, Imam al-Bukhari.
  4. Al-Qur’anul Karim, terjemah, Q.S. al Hujurat: 14-15.