Keutamaan Saling Membangunkan untuk Shalat Malam

Keutamaan Saling Membangunkan untuk Shalat Malam

 

Oleh

Masitha Achmad Syukri

 

Kesempurnaan agama Islam benar-benar hadir dalam setiap ranah kehidupan, tak terkecuali kehidupan suami istri dan/atau kehidupan rumah tangga/keluarga. Islam mengajarkan berbagai banyak kebaikan dalam bentuk amalan-amalan yang dapat mendatangkan rahmat Allah bagi sepasang suami istri dan/atau keluarga. Liputan rahmat Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala pada suatu keluarga tentu saja akan dapat menghadirkan ketenangan, kenyamanan, dan kedamaian pada keluarga tersebut. Salah satu amalan yang dapat mendatangkan rahmat Allah tersebut adalah shalat malam di saat orang lain pulas dalam tidur mereka.

Allah telah mempersiapkan pahala yang besar bagi orang-orang yang bangun malam dan melaksanakan shalat Tahajjud dan menjadikan ibadah shalat malam tersebut sebagai ibadah yang paling utama setelah shalat wajib. Shalat malam dapat mendekatkan diri seorang hamba dengan Tuhannya, menghapus dosa, mencegah dari perbuatan dosa, dan menghilangkan penyakit dari badan. Bahkan, orang yang selalu mengerjakan shalat malam akan masuk surga tanpa dihisab. Itu semua adalah salah satu keistimewaan atau kemuliaan yang diberikan Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala kepada umat Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam.

Keutamaan Saling Membangunkan untuk Shalat Malam

majalahembun.com

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Abdullah bin Amr Rodhiyallohu ‘anh bahwa Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada sebuah kamar yang bagian luarnya bisa dilihat dari dalam dan bagian dalamnya bisa dilihat dari luar.” Abu Malik Al-Asy’ari berkata, “Untuk siapa kamar itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Untuk orang yang berbicara dengan perkataan yang baik, orang yang memberi makan, dan orang yang bangun malam tatkala manusia yang lain sedang tidur.”

Dengan mengingat sekian banyak keutamaan dan kenikmatan balasan Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala bagi orang yang melalukan shalat malam tersebut, tentu sangat disayangkan jika hal itu tidak dilakukan oleh sepasang suami istri. Pada mulanya, bisa jadi berat melakukannya. Dilakukan seorang diri saja sudah terasa berat, apalagi kemudian dianjurkan untuk membangunkan pasangannya (baca istri/suaminya). Seringkali yang terjadi adalah suami bangun lebih dulu, kemudian shalat dan segera kembali tidur karena mengantuk atau kepayahan setelah seharian bekerja. Atau sebaliknya, istri bangun lebih dulu, kemudian shalat dan segera kembali tidur karena mengantuk atau kepayahan setelah seharian mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dengan kata lain, masing-masing hanya memikirkan diri sendiri dalam beribadah di malam hari tersebut. Bahkan, bisa jadi salah satunya beranggapan bahwa sudah seharusnya pasangannya berusaha sendiri untuk bisa bangun dan shalat di malam hari.

Jika seseorang membangunkan istrinya, kemudian mereka berdua shalat atau masing-masing shalat dua rakaat, mereka berdua akan dicatat (sebagai) bagian dari kaum laki-laki yang mengingat Allah dan kaum perempuan yang mengingat Allah

Akan tetapi, betapa indahnya ajaran Islam terkait dengan ajaran untuk saling membangunkan untuk shalat malam bagi suami-istri. Ada pelajaran bagi suami-istri tentang kepedulian dan kebersamaan dalam usaha mengingat dan beribadah kepada Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala di malam hari. Upaya tersebut akan menghantarkan mereka dimasukkan pada golongan orang-orang yang memperbanyak dzikir kepada Allah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anh dan Ubay bin Ka’ab Rodhiyallohu ‘anh, bahwa Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seseorang membangunkan istrinya, kemudian mereka berdua shalat atau masing-masing shalat dua rakaat, mereka berdua akan dicatat (sebagai) bagian dari kaum laki-laki yang mengingat Allah dan kaum perempuan yang mengingat Allah.”

Selain itu, upaya untuk saling membangunkan tersebut juga akan menghantarkan mereka memperoleh rahmat Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala. Abu Dawud meriwayatkan hadits yang bersumber dari Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anh bahwa Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah menurunkan rahmat-Nya kepada seseorang (suami) yang bangun di keheningan malam dan melakukan shalat. Lalu ia membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, ia memercikkan air ke wajah istrinya. Allah juga menurunkan rahmat-Nya kepada seseorang (istri) yang bangun di keheningan malam dan melakukan shalat. Lalu ia membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya.”

Rahmat Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala akan meliputi suami-istri yang senantiasa saling membangunkan untuk beribadah di malam hari. Betapa tidak, mereka berdua telah berusaha tunduk bersujud memohon kecintaan Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala di saat orang lain terlelap dalam tidur. Bersama mereka bermunajah kepada Dzat yang telah mempertemukan mereka dalam ikatan kuat atas dasar kasih sayang untuk membangun dan menjaga biduk rumah tangga. InsyaAllah, rahmat Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala tersebut akan mengekalkan pula tautan cinta kasih di antara mereka. Oleh karena itu, perlu dibangun komitmen bersama antara suami-istri untuk saling membangunkan dan beribadah shalat tahajjud di malam hari.

Selain itu, hal tersebut juga bisa menjadi teladan dan pesan para orang tua kepada putra-putri mereka yang hendak menikah ataupun yang sudah menikah agar mereka saling membangunkan pasangan mereka dalam menegakkan shalat malam. Semoga dengan itu, Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala akan senantiasa menjaga rumah tangga mereka serta merawat cinta kasih di antara mereka dengan curahan rahmat-Nya.

Wallahu’alam.