K.H. Sya’roni Ahmadi Kudus

Pendakwah Ulung dan Guru Masyarakat

           

K.H. Sya’roni Ahmadi Kudus adalah ulama yang menguasai limu agama secara interdisipliner. Pendakwah ulung dan guru masyarakat yang terkenal sangat alim.

Salah satu Kiai sepuh yang dimiliki NU yang masih tersisa adalah K.H. Sya’roni Ahmadi dari Kudus, Jawa Tengah. Kini, di usianya yang ke-85, putra menantu Almaghfurlah K.H. Arwani Amin, pendiri Pesantren Yanbu’ul Quran, ini masih tetap mengisi pengajian tiap Jumat usai jama’ah Shubuh di Masjid al-Aqsha Menara Kudus. Pengajian kitab Tafsir Showi yang dibaca Kiai kharismatik ini sangat diterima dan bahkan digemari tidak hanya kalangan Nahdliyin, namun juga oleh warga Muhammadiyah.

Hal tersebut terbukti dari banyaknya pengunjung dari berbagai daerah di sekitar Kudus, semisal Jepara, Pati, Rembang, dan Demak. Selain itu, juga banyak rombongan menggunakan bus pariwisata dari seantero Jawa-Madura yang ketika rombongan ziarah Walisongo sengaja mengatur jadwal agar sampai di kota Kudus pada Jumat dini hari. Mereka dengan khusyu’ mendengarkan siraman dan uraian tafsir Jalalain tersebut bersama Mustasyar PBNU dengan panggilan akrab Mbah Yai Sya’roni ini.

Tafsir al-Jalalain adalah tafsir ringkas yang ditulis oleh dua orang al-Hafidz, yaitu al-Hafidz al-Mahalli dan al-Hafidz as-Suyuthi. Mereka berdua digelari dengan Jalaluddin, oleh karena itu dinamakan al-Jalalain, yaitu tafsir dari Jalaluddin al-Mahali dan Jalaluddin as-Suyuthi. Karena Jalaluddin al-Mahali wafat sebelum menyelesaikan tafsirnya tersebut, maka diselesaikan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi.

 

K.H. Sya’roni Ahmadi Kudus

talimulquranalasror.blogspot.com

Kelahiran dan Pendidikan

            Kiai Sya’roni lahir dari keluarga santri dengan ekonomi yang pas-pasan. Anak ketujuh dari delapan bersaudara. Telah ditinggal ibunya ketika berusia 8 tahun, dan ditinggal ayahnya pada usia 13 tahun. Jadilah Sya’roni kecil yatim-piatu.

Meski begitu, sejak masih anak-anak, Sya’roni sangat rajin belajar terutama ilmu agama, mulai al-Qur’an sampai tasawuf. Sya’roni kecil juga rajin mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kota Kudus. Pada usia 11 tahun, beliau sudah hafal 100 bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik. Dan pada usia 14 tahun, sudah hafal al-Qur’an.

Pendidikan formalnya diperoleh dari Madrasah Diniyah Mua’wanah di Ma’ahid Lama asuhan K.H. Muchit. Setelah itu belajar al-Qur’an (al-Qira’ah as-Sab’iyyah) ke Pesantren Yanbu’ul Qur’an asuhan K.H. Arwani Amin Kudus. Kemudian berguru kepada K.H. Turaikhan al-Juhri, K.H. Turmudzi, dan K.H. Asnawi Kudus.

Interaksi yang sangat intens dengan guru-guru yang alim menjadikan Kiai Sya’roni sebagai sosok ulama yang menguasai ilmu agama secara interdisipliner. Semua bidang keilmuan dikuasainya, baik ilmu tafsir, fiqh, ushul al-fiqh, qawaid fiqhiyyah, nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, dan sebagainya.

Dakwah dan Tradisi Santri

            Setelah sekian lama belajar, Kiai Sya’roni mulai berdakwah di masyarakat dalam usianya yang sangat muda. Dalam melaksanakan dakwah Islamiyah ini, Kiai Sya’roni menggunakan dua model. Pertama, yakni model dakwah di masjid-masjid atau di sebuah rumah warga yang dijadikan tempat untuk mengaji; kedua, adalah pengajian umum atau tabligh akbar.

Metode pertama ini biasanya dipakai dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Pengajian yang dilakukan sudah ditetapkan jadwalnya dan proses pengajarannya pun dilakukan secara berkesinambungan. Sedang model kedua biasanya dipakai untuk berdakwah di luar daerah. Hal ini karena di samping masalah waktu yang tidak memungkinkan untuk berdakwah dengan model pertama juga terkadang karena permintaan dari penduduk setempat.

K.H. Sya’roni Ahmadi Kudus

siroj1722ojul.wordpress.com

Setelah sekian lama bergumul dengan ilmu dan pengajian-pengajian, kiai Sya’roni akhirnya menikah pada tahun 1962. Beliau menyunting seorang gadis bernama Afifah. Dari pernikahan itu beliau dianugerahi 8 anak, 2 anak laki-laki dan 6 anak perempuan.

Pada masa penjajahan Belanda, Kiai Sya’roni terlibat aktif dalam perang gerilya melawan penjajah. Kemudian tahun 1965, saat terjadi pemberontakan PKI, Kiai Sya’roni dengan tegas menolak ideologi komunisme. Saat itu Kiai Sya’roni memang dikenal sebagai tokoh yang sangat keras. Sikap ini menjadikannya target pembunuhan PKI, namun gagal.

            Berkat perjuangan Kiai Sya’roni, tradisi dan corak kehidupan masyarakat Kudus cukup agamis. Tradisi santri yang sekarang lekat dengan masyarakat Kudus, tidak bisa lepas dari jas-jasa beliau. Pengajian rumahan atau pengajian di masjid-masjid, seperti pengajian Ahad pagi, hingga kini masih rutin dijalankan. Kiai Sya’roni juga mampu merangkul semua kalangan, terutama kaum Nahdliyyin dan Muhammadiyah, untuk ikut serta dalam pengajiannya.

Kemanfaatan untuk Umat

            Kiai Sya’roni juga banyak berjasa dalam mengembangkan Madrasah-madrasah di kota Kudus, seperti Madrasah Banat NU, Muallimat, Qudsiyyah, Tsiwiq at-Thullab al-Salafiyah (TBS), dan Madrasah Diniyah Keradenan Kudus. Kiai Sya’roni juga tercatat sebagai penasehat Rumah Sakit Islam YAKIS dan menjabat Mustasyar NU cabang Kudus.

Kiai Sya’roni merupakan sosok figur yang bukan hanya pandai membaca kitab dan berpidato, namun juga beliau tergolong produktif dalam berkarya. Tercatat beliau kerap menulis, men-syarah dan menerjemah beberapa kitab yang digunakan untuk mengajar. Kitab-kitab tersebut banyak dikonsumsi oleh Madrasah-madrasah di Kota Kudus. Kitab-kitab karangan beliau berbentuk matan, terjemahan, dan syarah. Karya-karya tersebut antara lain:

  1. Faidl al-Hasany. Membahas Qira’ah as-Sab’iyyah. Terbagi dalam tiga juz.
  2. Al-Tashrih al-Yasir fi ‘Ilmi al-Tafsir. Mengulas tafsir al-Qur’an, mulai dari pembacaan, lafal-lafalnya, sanad, arti-arti yang berhubungan dengan hukum, dan sebagainya. Tebal 79 halaman, ditulis pada tahun 1972 M/1392 H.
  3. Al-Qira’ah al-Ashriyyah. Mengulas tata cara membaca kitab kuning. Terdiri dari tiga juz. Penyusunan kitab ini, menurut Kiai Sya’roni, bertujuan untuk memudahkan para santri atau siswa dalam mempelajari kitab kuning.
  4. Al-Faraid al-Saniyah. Mengulas doktrin ahlusunnah wal jama’ah. Penyusunan kitab ini, konon diilhami oleh kitab Bariqat al-Muhammadiyah ‘ala Tariqat al-Ahmadiyah milik K. Muhammadun Pondowan, Tayu, Pati. Kiai Sya’roni menulis kitab ini selama kurang lebih dua tahun.
  5. Tarjamah al-Ashriyyah. Membahas ilmu ushul al-fiqh, mengupas lafadz ‘amm dan khas, mujmal dan mubayyan, ijma’, qiyas, dan sebagainya. Disusun pada Ahad siang, 29 Juni 1986 M/21 Syawal 1406 H.

                        Sebuah nilai dakwah yang sangat mulia, kemanfaatan untuk umat, menebar manfaat yang akan selalu dikenang oleh para masyarakat yang rindu akan risalah nabawiyah, semoga menjadi sebingkai teladan bagi orang-orang yang hanya mengharap ridha Allah dan syafa’at dari Kanjeng Nabi Muhammad r, Aamiin.

Wallahu a’lam bisshawab.

  Disarikan dari beberapa sumber oleh:
Irwan Sani, SE, M.Pd.I.
Santri Ma’had Pengembangan dan Dakwah
Nurul Haromain Pujon Malang
irwansani14@gmail.com