Khauf Bukan Sekedar “Takut”

Oleh: Umar Hasyim

Mendengar kata “Khauf”, mungkin yang terbesit adalah sebuah kondisi yang ingin dihindari oleh setiap orang. Dalam kitab At-Ta’rifat, Al-Jurjani mendefinisikan Khauf sebagai gejala jiwa ketika bertemu dengan hal yang tidak disenangi atau kehilangan hal yang disenangi. Dalam kesempatan lain, Dr. Su’ad Hakim menjelaskan bahwa Khauf adalah rasa tidak nyaman dalam hati yang disebabkan munculnya hal yang tidak disenangi di masa mendatang. Pada intinya Khauf adalah sebuah ketakutan akan terjadinya hal yang tidak diinginkan di masa depan.

Dalam dunia tasawwuf, Khauf merupakan salah satu tingkatan yang harus ditempuh oleh seorang hamba dalam proses menuju ma’rifat billah. Seorang hamba akan semakin tinggi rasa Khauf-nya seiring bertambahnya keilmuan yang dimiliki. Dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku merupakan orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian.”

Tak hanya itu, para sahabat dan tabi’in dalam beberapa riwayat menyatakan bahwa mereka didominasi rasa Khauf dalam kehidupan mereka. Seperti ucapan Abu Bakar radhiyallahu anhu kepada seekor burung, “Wahai burung, seandainya aku seperti dirimu dan tidak tercipta sebagai manusia.” Kalimat tersebut terucap setelah tahu bahwa manusia akan mengalami penghitungan amal (hisab). Ini menjadi bukti yang tidak terbantahkan bahwa tingkatan ilmu seseorang mempengaruhi tingkat Khauf-nya.

Dalam sebuah kesempatan, Dzunnun Al-Mishry pernah ditanya, “Kapankah seorang hamba itu merasa ketakutan?” Dijawab olehnya, “Ketika dia merasakan sakit yang cukup lama.” Jawaban tersebut cukup relevan bagi kita selaku hamba biasa. Seringkali kita lupa tatkala diberi kebahagiaan, namun begitu kita merasakan sakit agak lama, muncullah rasa takut dalam hati, meski yang ditakutkan adalah sebuah kondisi bernama kematian.

Munculnya Khauf dalam pribadi seseorang dapat dikatakan sebagai sebuah anugerah, karena tatkala rasa itu muncul, ia merupakan pertanda bahwa cahaya iman sedang memancarkan sinarnya. Dengan kata lain, Allah sedang melimpahkan rahmat ridha kepada hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah: “Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Q.S. Al- Bayyinah: 8). Dalam ayat lain Allah juga berfirman: “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.” (Q.S. Ar-Rahman: 46).

Kedua ayat tersebut cukuplah menjadi landasan bagi kita untuk membangkitkan rasa takut kepada Allah. Namun, cukupkah hanya menanam rasa takut dapat menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat?

Dr. Su’ad Kamil berpendapat bahwa jika hanya Khauf yang bertengger di hati seorang hamba, maka sesungguhnya hal tersebut dapat menjadi bumerang yang sewaktu-waktu dapat menyerang keimanannya. Karena ketika hamba itu menjadi penakut, dia tidak memiliki kreativitas maupun inovasi untuk melangkah ke maqam-maqam yang lebih tinggi dalam kehidupan spiritualnya hingga memunculkan stagnansi yang berimbas pada terkikisnya iman itu sendiri. Layaknya sebuah lembaga atau perusahaan, jika berjalan stagnan tanpa ada keberanian untuk berinovasi, maka tinggal tunggu kemunduran dan kehancurannya.

Oleh sebab itu, ada solusi konkrit untuk mencegah terjadinya hal tersebut, yakni dengan memunculkan rasa lain dalam hati yang berfungsi sebagai penyeimbang Khauf. Rasa tersebut oleh para ulama tasawwuf disebut dengan Raja’ (harapan).

Raja’ merupakan rasa tenang dan nyaman dalam hati karena menantikan sesuatu hal yang disukai atau diinginkan. Dengan kata lain, Raja’ merupakan lawan dari Khauf. Hanya saja dua hal tersebut dalam dimensi tasawwuf dapat diaplikasikan secara bersamaan dalam sebuah aktivitas.

Coba kita amati ketika kita melakukan sebuah ibadah bernama shalat. Jika yang kita miliki hanya Khauf saja, maka rasa-rasanya shalat kita hanya sebagai formalitas penggugur kewajiban agar tidak terkena dosa dan hukuman dari Allah. Dan kita pun hanya melaksanakan shalat yang fardhu saja. Namun jika diimbangi dengan Raja’, maka kita akan memperbaiki kuantitas dan kualitas shalat kita, sehingga selain shalat fardhu, kita pun tak segan melakukan shalat sunnah. Imbasnya adalah munculnya rasa optimisme bahwa shalat yang kita lakukan menjadi media dalam mengantar kita selamat dunia dan akhirat.

Dalam dunia kerja, seseorang yang hanya mengandalkan Khauf dalam pekerjaannya, dia akan cenderung memiliki pemikiran yang penting kerja, tidak dipecat, dan mendapat gaji yang layak. Jika seluruh karyawan berpikiran seperti ini, maka sebuah perusahaan akan sangat lama mencapai perkembangan dan bahkan bisa mengalami kehancuran.

Lain halnya jika seseorang menambahkan rasa Raja’ dalam etos kerjanya. Maka selain bekerja secara profesional, dia akan berusaha sebaik mungkin untuk dapat mencapai tingkatan yang lebih tinggi, memberikan motivasi bagi orang sekitarnya, dan puncaknya adalah berkembangnya roda perusahaan.

Yahya bin Mu’adz dalam sebuah riwayat mengatakan: “Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan bertumpu pada Khauf saja, maka dia akan tenggelam dalam lautan pikiran yang terus mengganggunya. Dan barangsiapa beribadah dengan bertumpu pada Raja’ saja, maka dia akan tersesat dalam kebahagiaan semu. Dan barangsiapa beribadah dengan bertumpu pada Khauf dan Raja’, maka dia akan tegak lurus menuju jalan para kekasih Allah.”

Riwayat tersebut semakin memperkuat bahwa Khauf tidak akan sempurna tanpa Raja’ dan begitu pula sebaliknya, karena keduanya memainkan peran penting pada dimensinya masing-masing. Artinya, pada sebuah kondisi Khauf dianjurkan lebih dominan atas Raja’, dan pada kondisi lain Raja’ dianjurkan lebih dominan atas Khauf.

Para ulama tasawwuf memberikan saran bahwa ketika seorang hamba menjalani kehidupan, maka rasa Khauf hendaklah lebih dominan atas Raja’, karena rasa itu dapat menarik seorang hamba untuk melakukan ibadah dan amal-amal baik lainnya. Namun ketika kematian menghampiri seorang hamba, rasa Raja’ hendaklah lebih dominan atas Khauf, karena itu dapat menimbulkan prasangka baik terhadap Allah serta sebagai pengantar untuk mendapatkan cinta dan ridha Allah di akhir hayatnya.

Lain halnya dalam urusan duniawi, kita dianjurkan untuk meletakkan Raja’ atas Khauf dan dalam urusan akhirat kita meletakkan Khauf atas Raja’. Itulah mengapa ada riwayat yang mengatakan, “Berbuatlah untuk duniamu seakan engkau hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan engkau akan mati keesokan hari.”

Khauf dan Raja’ layaknya air dan minyak dalam seduhan mie instan. Tidak akan bisa disatukan, tapi dianjurkan untuk senantiasa bersamaan wujudnya. Kemunculan keduanya dalam hati seorang hamba merupakan sebuah anugerah. Maka sudah sepatutnya kita merawat dan menumbuhkannya dalam setiap aktivitas kita.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

[]