Kiai Muhammad Saleh Darat — Gurunya Para Ulama Tanah Jawa

Kiai Muhammad Saleh Darat-Jepara

Gurunya Para Ulama Tanah Jawa

oleh Irwan Sani, S.E, M.PdI.,

santri Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang

Mengambil Cahaya Keberkahan

Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alawy al-Haddad rahimahullah berkata: “Para pembimbing manusia, beruntunglah orang yang melihat mereka dan duduk dengan mereka meski sekali seumur hidup.”

Mereka para guru itu ibarat permata merah. Apabila mereka memberikan pandangan pada seseorang niscaya mereka memberinya keberkahan dan rahmat. Dan bila seseorang melihat mereka, ia dapat mengambil manfaat cahaya mereka dan mengambil cahaya itu hingga cahaya-cahaya tersebut menyelimutinya kemudian mencapai sisi Allah Subhanahu waRadhiyallohu ‘anha’ala dan mengentasnya dari kelalaian dan kemaksiatannya.

mbah sholeh darat

talimulquranalasror.blogspot.com

Ketika kita membaca biografi orang-orang shalih, maka akan ada kesejukan yang menyelimuti jiwa dan akan ada banyak kebaikan dan keberkahan yang akan kita raih. Dalam sebuah hadis riwayat ad-Dailami di dalam Musnad al-Firdaus dari Sayyidina Muadz Radhiyallohu ‘anh:

ذِكْرُ اْلأَنْبِيَاءِ مِنَ اْلعِبَادَةِ وَذِكْرُ الصَّالِحِيْنَ كَفَّارَةٌ وَذِكْرُ اْلمَوْتِ صَدَقَةٌ وَذِكْرُ اْلقَبْر يُقَرِّبُكمُ مِنَ اْلجَنَّةِ

Mengingati para Nabi adalah ibadah, mengingat orang-orang shalih adalah kaffarah (bagi dosa), mengingat mati adalah sedekah, dan mengingat kubur mendekatkan kalian semua kepada syurga. (Menurut Imam as-Suyuthi di dalam al-Jami’ ash-Shaghir dan al-Munawi di dalam Faidhul Qadir)

Sebagai penulis buku yang berkiprah dalam dunia aksara atau jagad kata-kata, seseorang tentu ingin menuliskan sesuatu yang memberikan makna dalam kehidupan. Menulis buku yang dapat mencerahkan, menginspirasi banyak orang, memberikan jalan keluar permasalahan kehidupan, dan seterusnya. Pendek kata kita ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan.

Dalam hal ini kita teringat terhadap nasehat Baginda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam yang menasihatkan: “Bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang banyak memberikan kemanfaatan bagi sesama manusia.” Pesan dari hadits Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam tersebut tentu bukan hanya bersinggungan terhadap aktivitas tulis-menulis saja, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan. Itulah yang dalam bahasa agama disebut dengan amal shalih.

Dalam rubrik Profil kali ini, kami akan menghadirkan satu figur yang kharismatik dalam dunia penulisan kitab-kitab agama. Beliau adalah K.H. Muhammad Saleh Darat, sang pelopor penulisan kitab-kitab agama dalam bahasa Jawa. Kitab-kitabnya sangat populer di zamannya, dan banyak digemari masyarakat awam. Karyanya ditulis dengan huruf Arab gundul (pegon), sehingga tidak dicurigai oleh penjajah.

Kelahiran, Pendidikan dan Berguru pada Ulama-ulama Besar

            Kiai Saleh Darat lahir di Kedung Cemplung, Mayong, Jepara pada tahun 1820. Ayahnya, K.H. Umar, adalah seorang ulama dan pejuang. Beliau pernah membantu Pangeran Diponegoro dalam perlawanannya menghadapi Belanda.

Pendidikan dasarnya diperoleh dari ayahnya sendiri. Setelah itu dia belajar kepada K.H. Syahid, seorang ulama besar di Waturoyo, Pati, Jawa Tengah. Selepas dari Pati, Kiai Saleh Darat pindah ke Kudus untuk berguru kepada K.H. Muhammad Saleh Asnawi, lalu ke Semarang dan belajar kepada K.H. Ishaq Damaran, K.H. Ahmad Bafaqih Ba’lawi, dan kepada mufti Semarang, K.H. Abu Abdillah Muhammad Hadi.

mbah sholeh darat

talimulquranalasror.blogspot.com

            Setelah menamatkan pendidikan di Semarang, Kiai Saleh Darat diajak ayahnya ke Singapura. Beberapa tahun kemudian, Kiai Saleh menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah bersama ayahnya. Selain beribadah haji, Kiai Saleh juga menimba ilmu di kota suci tersebut. Beliau berguru kepada ulama-ulama besar saat itu, seperti:

  1. Syeikh Muhammad al-Marqi,
  2. Syeikh Muhammad Sulaiman Hasballah,
  3. Syeikh Zaini Dahlan,
  4. Syeikh Zahid,
  5. Syeikh Umar asy-Syani,
  6. Syeikh Yusuf al-Mishri, dan
  7. Syeikh Jamal al-Hanafi.

Selama berada di Mekkah, Kiai Saleh Darat bertemu dengan beberapa pelajar dari Indonesia, seperti Syeikh Nawawi al-Bantani dan Syaikhona Kholil Bangkalan. Ayah Kiai Saleh, yaitu Kiai Syahid, wafat di Mekkah pada tahun-tahun pertamanya di Tanah suci.

Mencetak Murid-murid Sejati

Setelah menyelesaikan pendidikan di Mekkah, Kiai Saleh pulang kembali ke kampung halamannya di Jepara. Kemudian beliau diambil menantu oleh K.H. Murtadlo, pengasuh pondok pesantren Darat Semarang. Kiai Saleh ikut mengajar di pondok yang terletak di pesisir utara Semarang itu, sehingga nama beliau lebih akrab dipanggil Kiai Saleh Darat.

Kehadiran Kiai Saleh membuat pondok Pesantren Darat berkembang pesat. Santri-santrinya berdatangan dari berbagai daerah. Di antara murid-murid Kiai Saleh yang cukup terkenal di antaranya adalah:

  1. K. Hasyim ‘Asy’ari, Jombang,
  2. K. Mafudz at-Termasi, Pacitan,
  3. H. Idris Solo (pendiri Ponpes Jamsaren),
  4. K. Munawwir, Jogjakarta (pendiri Pesantren Krapyak),
  5. K.H. Sya’ban, ulama ahli falak.

Tak heran jika di kemudian hari Kiai Saleh Darat dijuluki sebagai gurunya ulama tanah Jawa. Karena murid-muridnya rata-rata menjadi ulama dan tokoh besar di tanah Jawa.

Kiai Saleh Darat selalu menekankan kepada para muridnya untuk giat menuntut ilmu. Inti sari Al-Qur’an, kata beliau, adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat.

Menulis Banyak Kitab

 Kiai Saleh Darat adalah ulama yang mempunyai tradisi intelektual menuliskan buah pikirannya dalam bentuk kitab. Beliau cukup produktif menulis. Karya-karyanya tersebar dalam berbagai bidang, mulai dari fiqh hingga tasawwuf. Sebagian besar karangannya berbahasa Jawa pegon. Kitab-kitab tersebut banyak digunakan di berbagai pesantren dan majelis ta’lim, khususnya di Jawa Tengah, dan terus diterbitkan oleh penerbit Toha Putera, Semarang.

Kitab-kitab beliau antara lain:

  1. Faid ar-Rahman. Sebuah kitab tafsir yang dipercaya merupakan tafsir pertama di Nusantara yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara arab (pegon).
  2. Al-Kafiyah li al-‘Awwam. Buku kumpulan syariat bagi orang awam.
  3. Buku penyelamat, merupakan saduran dari kitab Ihya’ ‘ulumiddin karya Imam Ghozali.
  4. Kitab Majmu’ah asy-Syari’ah. Kitab kumpulan hukum-hukum syariah.
  5. Al-Hikam. Buku tentang hikmah.
  6. Lata’if at-Taharah. Kitab tentang rahasia bersuci
  7. Manasik al-Hajj. Kitab panduan ibadah haji berbahasa Jawa
  8. Kitab Pasalatan. Buku panduan praktis shalat berbahasa Jawa
  9. Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid. Kitab teologi aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah.
  10. Al-Mi’raj. Kitab hadits.
  11. Asrar as-Sha Kitab fiqh
  12. Mursyid al-Wajiz. Fiqh-tasawwuf
  13. Minhah al-Atqiya’. Fiqh tasawwuf

Keistimewaan Pada Ilmu Kalam

Kiai Saleh Darat juga dikenal sebagai pemikir di bidang ilmu kalam. Beliau adalah pendukung paham teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah. Pembelaannya terhadap paham ini jelas kelihatan dalam kitabnya, Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid. Dalam kitab ini, beliau mengemukakan penafsirannya terhadap sabda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam mengenai terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan sepeninggal beliau, dan hanya satu golongan yang selamat.

Menurut Kiai Saleh Darat, yang dimaksud Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam dengan golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam, yaitu melaksanakan pokok-pokok kepercayaan ahli sunnah waljama’ah yaitu, Asy’ariyah dan Maturidiyah.

Sebagai ulama yang berpikiran maju, beliau senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakkal, kemudian menyerahkan semuanya pada Allah. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu waRadhiyallohu ‘anha’ala. Ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan. Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama terus dikembangkan hingga akhir hayatnya.

Kewafatan Sang Pendidik Sejati

Kiai Saleh Darat wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H. bertepatan dengan 18 Desember 1903, dalam usia 83 tahun. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Bergota, Semarang. Makamnya kini menjadi objek ziarah keagamaan yang penting di Jawa. Pada tiap tanggal 5 Syawal masyarakat menggelar haul untuk memperingati wafatnya ulama terkemuka ini.

Wallahu a’lam bish-shawab.

[]

Disadur dari berbagai sumber dengan beberapa tambahan.