Komitmen Berwirausaha (Bagian 1)

Oleh:

Muhammad Ali David

Direktur Pusat Pengembangan SDM CV. Golden Generation Leadership Center

Manajer Divisi Pengembangan dan Penghimpunan LAZIS Al Haromain

 dream

Berangkat dari impian, banyak diantara kita akhirnya memiliki impian yang berbeda – beda dalam hidup, impian berwirausaha agar dapat membeli macam-macam barang yang kita inginkan, dapat membahagiakan keluarga, orangtua, membeli mobil, rumah serta menghajikan orangtua dan lain-lain. Dari berbagai impian kita  pun akhirnya memiliki komitmen juga yang berbeda-beda, paling tidak penulis membagi 3 komitmen dalam kehidupan baik itu menjadi pegawai, pengusaha, dokter, guru atau profesi lain.

dream 2Pertama, Intelectual Comitment. Bekerja hanya semata-mata untuk mencari materi, bekerja hanya semata-mata mencari kekayaan, harta, atau barang yang tampak sebagai lambang kekayaan. Komitmen ini banyak terjadi di Indonesia sehingga diantara orangtua kita pernah mengatakan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke pendidikan yang tinggi supaya mendapatkan pekerjaan yang baik sehingga gajinya tinggi, uang yang banyak dan lain-lain. Pertanyaannnya apakah komitmen yang pertama ini akan mendatangkan kebahagiaan? Jawabannya bisa jadi ya dan bisa jadi tidak, kalaupun mendapatkan kebahagiaan apakah kebahagiaan tersebut bersifat hakiki? Jawabannya tidak, karena komitmen ini hanya terputus sampai pada kehidupan dunia, bahkan banyak contoh yang bahagia dengan kekayaan di dunia ini pada akhirnya kekayaan menjadi fitnah. “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenanganhidup di dunia dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).”( Q.S. Ali imron: 14).

dream 3Kedua, Emotional Comitment. Bekerja semata-mata untuk mencari pujian. Fenomena yang terjadi pada zaman sekarang banyak orang yang sudah kaya raya, bahkan apabila kekayaannya dimakan hingga tujuh turunan tidak akan habis, tapi masih ingin menjadi bupati, Gubernur, Presiden atau anggota Dewan. Tentunya muncul pertanyaan apa yang mereka cari? Apakah mereka mencari materi, bukankah pendapatan beliau saat ini sangat jauh dari hanya sekedar gaji Presiden, Gubernur atau Bupati? Ya, yang mereka cari adalah penghargaan dari masyarakat, pujian dari masyarakat. Tentunya kalau beliau-beliau sudah membuktikan kinerjanya. Ada juga yang ingin agar keluarganya, ayah dan ibunya tidak dianggap  rendah dimasyarakat lagi, ketika sudah sukses. Tetapi muncul pertanyaan lagi, apakah mendapatkan pujian itu mendatangkan kebahagian? ya mendatangkan kebahagian, tapi apakah kebahagian yang hakiki? Jawabannya tidak, karena pada saatnya pujian yang kita dapatkan malah justru akan menjerumuskan kita kepada kesombongan. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia ( karena sombong) dan janganlah kamu berjalan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S. Lukman : 18).

dream 4Ketiga, Spiritual Comitment. Bekerja menuruti suara hati. Ketika tidak ada lagi keinginan duniawi, ketika bekerja semata-mata diniatkan untuk beribadah kepada Allah maka disaat itulah kebahagian hakiki yang akan kita dapatkan. Bagaimana implementasinya? Ketika kita bekerja, ketika kita berusaha semuanya diniatkan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah. “tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Q.S. Adz- Dzariyaat : 56). Ketika bekerja dan belajar semata-mata hanya untuk ibadah, kalau kita kerja sebagai pengusaha dan dikantor, maka ruang kantor itu ibarat sajadahnya dan bolpoin yang kita pakai adalah ibarat tasbihnya, ketika kita  menjadi guru, maka kelas kita itu ibarat sajadahnya dan bolpoin atau laptop yang kita pakai untuk bekerja ibarat tasbihnya, semua gerakan yang kita lakukan bagaikan kita berdzikir kepada Allah, semua yang kita lakukan akan dianggap ibadah oleh Allah, sehingga kita tidak akan berani menyeleweng dari ketentuan Allah. Kalau kita memiliki komitmen ini maka tidak akan ada masalah yang tidak bisa diselesaikan karena kita melibatkan Allah dalam segala aktifitas yang kita Lakukan.

Apabila komitmen spiritual ini ada pada diri kita maka kita akan mendapatkan kebahagian hakiki, namun bagaimana meningkatkan diri agar sampai pada komitmen spiritual (bekerja hanya diniatkan untuk beribadah) maka ada langkah-langkah menuju kekomitmen tersebut. Bagaimana Langkahnya? InsyaAllah Akan kami sambung pada edisi berikutnya. Wallahu a’lam