KOMITMEN BERWIRAUSAHA (bagian 3) Taqwa, Ikhtiar, Tawakal

Oleh: Ali David

pesawat-terbakar-e1441794765953Penulis awali tulisan ini dengan sebuah cerita. Dulu ketika Korea Selatan dan Korea Utara berpisah, salah satu dari pemimpin negeri ini kemudian mencari negeri yang sebanding dengan negaranya untuk belajar. Dan dipilihlah negara kita, negara Indonesia.

Sesampainya di negara Indonesia, pemimpin ini dibawa oleh presiden kita ke Aceh. Ketika sampai di Aceh, pemimpin Korea ini dibawa ke masjid Baiturrahman. Di depan masjid tersebut pemimpin Korea ini melihat tulisan Arab yang kemudian ia tanyakan kepada Presiden kita maksud dari tulisan tersebut. Tulisan tersebut adalah penggalan dari Al-Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat ke-11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”

Apa yang terjadi sekembalinya dari Indonesia? Pemimpin Korea tersebut menggunakan penggalan ayat tersebut untuk dijadikan motto bagi negaranya dengan memodifikasi kalimat tersebut disesuaikan dengan keadaan di Korea. Apa yang terjadi kemudian? Ya, negara kita secara etos kerja dinilai lebih rendah dibanding negara Korea tersebut.

Dalam ayat yang lain dijelaskan: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebarlah di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” Dalam sebuah hadits juga dijelaskan: “Sungguh jika sekiranya salah seorang di antara kamu membawa talinya (untuk mencari kayu bakar) kemudian ia kembali dengan membawa seikat kayu di punggungnya lalu ia menjualnya sehingga Allah mencukupi keperluannya (dengan hasil itu) adalah lebih baik dari pada ia meminta-minta kepada manusia baik mereka memberi atau mereka menolak.” (H.R. al-Bukhari).

Dari ketiga dalil tersebutlah, ternyata agama islam memperlihatkan bahwa setelah bertaqwa kepada Allah, maka step selanjutnya adalah ikhtiar atau secara istilah diartikan usaha seorang hamba untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Maka sebagai seorang yang berwirausaha, ikhtiar yang kita lakukan adalah bersungguh-sungguh dengan usaha yang kita geluti, hingga kita dianggap oleh orang lain paling mampu dalam melakoni usaha tersebut. Ikhtiar lainnya tentunya meningkatkan dzikir kita kepada Allah dengan meningkatkan ibadah kepada Allah.

Selanjutnya setelah kita Taqwa dan Ikhtiar, kita perlu tawakkal atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Tentang ikhtiar dilanjutkan dengan tawakkal ini penulis memiliki cerita yang terjadi pada tanggal 16 januari 2002. Ini adalah cerita dari seorang kapten pilot pesawat Garuda. Kapten pilot Abdul Rozak bertugas menerbangkan pesawat Boeing 737-300 dengan nomor flight GA 421 dengan rute pelabuhan udara Selaparang, Lombok menuju pelabuhan udara Adi Sucipto, Yogyakarta. Cuaca saat itu normal, dan pesawat telah mencapai ketinggian 31.000 kaki. Di atas kota Blora, pesawat yang dikemudikannya tiba-tiba masuk ke dalam awan yang palingg ditakuti oleh penerbangan, yaitu awan cumulonimbus. Kapten Abdul Rozak tidak dapat menghindarinya, dan saat itu tidak ada alternatif lainnya selain menembus awan tersebut. Tiba-tiba kedua mesin pesawat tersebut mati pada ketinggian 23.000 kaki. Sesuai prosedur, ikhtiar yang dilakukan oleh Kapten Abdul Rozak adalah segera menghidupkan generator. Namun yang terjadi justru electricity power rusak. Artinya, mesin dalam keadaan mati semua. Kopilot Haryadi Gunawan saat itu panik dan berkata: “Astaghfirullah Capt, dua mesin mati semua. Apa yang harus kita lakukan?” Kemudian Kapten Abdul Rozaq segera melakukan wind mailing, memutar kembali propeller mesin dengan dorongan udara, kira-kira seperti mendorong mobil mogok dengan meluncurkan pesawat ke bawah. Namun, usaha tersebut pun tidak membuahkan hasil. Listrik mati, sehingga di dalam pesawat menjadi gelap. Sementara pesawat terus turun ke ketinggian hanya 8.000 kaki.

Saat kondisi makin kritis tersebut, Kapten Abdul Rozak pun mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah: “Ya Allah, aku serahkan diriku dan penumpangku kepada-Mu. Kemudian beliau berteriak takbir 3 kali,  Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar. Dan tiba-tiba pesawat keluar dari awan sehingga dia bisa melihat semua yang terhampar di hadapannya. Di hadapannya, terlihat jelas hamparan sawah dan sebuah sungai. Ada dua pilihan: mendarat di sawah atau mendarat di Bengawan Solo dengan sebuah jembatan melintang di depannya. Kemudian diputuskanlah pendaratan di sungai. Kalau seandainya di sawah risiko lebih besar, karena ada tegalan yang bisa menggesek body pesawat dan terbakar. Kapten Abdul Rozak lalu melakukan descend (menurunkan pesawat) dan melakukan approach (mendekati) “landasan”. Ternyata ada jembatan besi yang melintang di atas sungai. Terpaksa dia pun berputar kembali agar dapat mendarat melewati jembatan besi. Tanpa tenaga pendorong, pesawat meluncur dan subhanallah ternyata pesawat berhasil landing. Namun masih dalam keadaan meluncur tak jauh di depannya menghadang lagi jembatan beton kedua yang siap melumat pesawat apabila menabraknya. Namun tak disangka sebelum sampai jembatan, tiba – tiba pesawat tersebut menabrak batu hingga bagian belakangnya sobek dan membuat pesawat mendadak berbelok ke kanan ke tempat yang lebih dangkal dan tidak menabrak jembatan. Dan singkat cerita, selamatlah 62 penumpang yang ada di dalam pesawat tersebut. Satu pramugari meninggal karena tersedot keluar.

Bagaimana kita lihat cerita di atas begitu menginspirasi, bagaimana ketaqwaan kemudian dilanjutkan ikhtiar yang maksimal dan dilanjutkan dengan tawakkal dapat menimbulkan ketenangan dari seorang pilot bernama Kapten Abdul Rozak dalam keadaan yang darurat sekalipun. Sebagaimana para pengusaha, di setiap waktu akan sering mendapatkan rintangan atau masalah. Namun dengan meningkatkan ketiga hal tersebut, pengusaha akan tenang menjalaninya.

Wallahu a’lamu bish-shawab.