Koruptor Serta Istri Yang Ber’korban’ dan Bber’kurban’

Oleh: Dr. H. Eddy Pranjoto W., M.P.A

Ketua Umum Yayasan Masjid Baitul Mukmin Dukuh Kupang Barat

       Kalimat: Koruptor serta Istri yang Ber“Korban” dan ber”Kurban” sebenarnya merupakan gambar realitas sehari-hari, yang mudah disaksikan, mulai dari umat yang beraktivitas di pasar sampai di kantor lembaga negara, sebagian berani berbuat curang. Hanya saja, mereka tidak menyadari bahwa mereka yang berperilaku seperti itu disebut sebagai koruptor. Kata koruptor dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti, orang yang melakukan korupsi dan kata korupsi, artinya penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb.) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Selanjutnya, kata istri secara kebahasaan artinya adalah perempuan yang telah menikah atau yang bersuami. Istri juga disebut garwa diambil dari bahasa Jawa garwo, yang dimaknai sigaraning nyowo (separuhnya nyawa) atau belahan jiwa. Belahan jiwanya siapa? Yaitu tidak lain adalah belahan jiwa suami. Makna belahan jiwa menunjukkan, begitu dekatnya hubungan keduanya. Sehingga apa pun yang dilakukan suami, istri akan mengetahui. Demikian pula, manakala ada suami-suami hebat, seperti misalnya, K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, Ir. Sukarno, dan Mochammad Hatta. Kita haqqul yakin (percaya yang sebenarnya), di samping karena kehendak Allah I, pasti ada perempuan hebat yang ada dibelakang/mendampinginya dan perempuan hebat tersebut tidak lain adalah seorang istri.

nasional.harianterbit.com

nasional.harianterbit.com

Sedangkan kata korban secara kebahasaan, artinya adalah “pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan dsb.” Jadi kata berkorban berarti menyatakan kebaktian, kesetiaan. Berbeda dengan kata kurban, yang artinya adalah “persembahan kepada Allah (seperti biri-biri, sapi, unta yang disembelih pada hari Lebaran Haji)”. Sedangkan dalam Ensiklopedi Islam, kata kurban merupakan acara penyembelihan binatang ternak yang dilakukan pada hari raya Haji atau Idul Adha, …yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah I.

Gebyarnya dunia telah merusak adab dan bahkan barisan iman sebagian besar umat Islam di Indonesia. Akibatnya, hampir semua sektor dan jenjang sekarang, ada koruptor. Mulai dari koruptor paling rendah, menengah sampai koruptor dikalangan sebagian penyelenggara negara.

Masalahnya adalah, siapa yang lebih dahulu mengetahui suami melakukan korupsi? Apakah komisi pemberantasan korupsi, polisi, jaksa atau hakim, atau tetangganya? Tentu saja tidak. Orang yang lebih dahulu mengetahui suami melakukan korupsi adalah istri, sang belahan jiwanya. Mengapa istri yang paling mengetahui suaminya melakukan korupsi? Sebab, istri pasti memahami berapa gaji resmi suaminya. Apabila gaji suami Rp 5.000.000,-/bulan, secara matematis selama 1 tahun gaji yang diterima suami adalah sebesar Rp. 60.000.000,- (itupun jika tidak sakit, bayar angsuran, dan lain-lain). Sementara itu, selama kurun waktu 1 tahun suami/istri dengan sabar berdoa keras, bekerja keras, dan tawakal menanti tingkat kesejahteraan serta berkorban untuk tidak membeli gebyarnya dunia secara berlebihan (misalnya, menyulap rumah, menyulap mobil, melakukan haji/umroh plus, dan kenikmatan dunia lainnya, yang tidak setara dengan gajinya), maka dapat dipastikan, istri mengetahui suaminya bukanlah seorang koruptor.

Sebaliknya, apabila suami membelikan gebyarnya dunia kepada istrinya, padahal suaminya tidak pernah menerima warisan, atau bekerja sampingan di luar dinasnya, atau mencari tambahan penghasilan halal di luar gaji resminya sebagai penyelenggara negara, maka dapat dipastikan bahwa istri mengetahui perbuatan korup suaminya.

Istri memang dapat sebagai penyulut suami untuk menjadi koruptor. Dikatakan sebagai penyulut, jika istri mendiamkan pemberian suami di luar gaji dari negara yang ia terima, tanpa menanyakan, dari mana asal penghasilannya itu, atau istrinya tidak peduli, dari sumber mana suami memperoleh tambahan gajinya. Padahal, Nabi Muhammad r secara tegas mengingatkan kita, dengan sabdanya, (yang terjemahannya): “Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari Kiamat, ia akan ditanya lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan.” (H.R. Ahmad).

Kasat mata, kita sering melihat seorang istri yang berbusana muslim mendampingi suami yang sedang diadili perkara korupsi. Padahal, agama Islam memberikan isyarat kepada para istri, tentang kekuatan istri terhadap suaminya. Hal ini dapat dicermati, kata istri dalam Al-Qur’an tertulis sebanyak 189 kali dari 38 surat dan tersebar dalam 99 ayat, ketimbang kata suami yang tertulis hanya sebanyak 39 kali dari 10 surat dan tersebar dalam 26 ayat. Hal ini menunjukkan bahwa, Allah I sesungguhnya memberikan kekuatan kepada seorang istri. Dengan demikian, seorang istri wajib berkorban untuk memerangi gebyarnya dunia, yang dapat mendorong suaminya menjadi figur koruptor.

Istri yang berakhlak baik dapat menjadi penyejuk hati suami dan tidak merangsang suami agar memberi gebyarnya dunia dengan cara yang tercela dengan korupsi. Kiranya tidak berlebihan jika seorang istri, khususnya istri koruptor, istri calon koruptor, dan istri koruptor yang lolos agar meneladani ibu Hajar, istri Nabi Ibrahim, yang dengan tawakal berkorban mengabdi kepada suami. Meskipun tidak diberi fasilitas, namun Hajar sebagai istri tetap tawakal dan dengan tekun membesarkan anaknya, Ismail dengan keterbatasan. Demikian pula istri-istri Nabi r, yang tidak bergelimang dengan harta, hendaknya dijadikan suri tauladan. Oleh karena itu, menyembelih hewan kurban hendaknya tidak dikukuhkan sebagai ritual seremonial belaka. Namun lebih dari itu, hendaknya dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari dengan menyembelih godaan gebyarnya dunia.

Demikian pula sebagai istri, ia harus berani berkorban untuk berkurban, menyembelih nafsu suami yang korup. Istri yang shalihah akan mampu berkorban di tengah keterbatasan gaji suami. Para perempuan muslim, insya Allah dapat menjadi pelopor dalam berkurban, menyembelih perilaku suami yang korup. Mari kita kobar-kobarkan semangat berkorban untuk berkurban, menyembelih perilaku korup dalam melaksanakan tugas melayani kepentingan masyarakat. Semoga Allah I, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, senantiasa melimpahkan kekuatan iman kepada kita sekalian. Aamiin, Ya Robbal’alamin.

Wallahu a’lam bisshawab.