Labur, Sejarah, dan Bada Kupat

Oleh: Bahtiar H. Suhesta

Pimred Majalah alHaromain

Semasa kecil dulu, setiap kali menjelang Idul Fitri tiba, ada satu kebiasaan yang masih saya ingat hingga kini. Yakni, bersih-bersih rumah. Bisa jadi membersihkan selokan dan halaman dari rumput-rumput liar, memotong dahan-dahan pohon yang terlalu lebat, membersihkan sawang (kotoran) di bawah atap-atap genteng rumah, menguras bak mandi, dan sebagainya. Tetapi yang selalu tak pernah ketinggalan adalah melabur pagar halaman.

Melabur ini adalah mengecat pagar halaman rumah dengan warna putih. Bukan menggunakan cat tembok yang dibeli dari toko yang dicairkan dengan tiner itu, melainkan menggunakan larutan dari gamping putih. Kuasnya pun khas: pakai kuas merang dari jerami padi. Ditanggung, sehabis melabur pagar rumah sepanjang tak kurang 20 meter, tangan, kaki dan bahkan muka kita akan belepotan warna putih terkena cipratan laburan gamping. Jika sampai kena mata akan terasa perih karenanya.

Baru sekarang saya paham bahwa labur atau laburan itu filosofi orang Jawa (Islam) yang masih berhubungan dengan lebaran. Bagi masyarakat Muslim di Jawa khususnya, ada 4 makna lebaran, yakni lebaran, luberan, laburan, dan leburan. Lebaran dimaknai sebagai “selesai atau sudah”. Artinya, selesai sudah masa penggemblengan diri di kawah candradimuka puasa selama bulan Ramadhan. Selesai sudah masa obral pahala dari Allah subhanahu wata’ala kepada umat Islam selama sebulan penuh.

Menjelang Idul Fitri tiba, kita berkewajiban menyisihkan sebagian kelebihan kita kepada yang berhak dan membutuhkan. Kita berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah dan mal, serta sedekah atau infaq lainnya sebagai luapan rezeki yang kita terima untuk berbagi kepada sesama. Itulah makna luberan, yakni berbagi (luber), sharing pada sesama dalam kehidupan.

Pada saat Idul Fitri tiba, diharapkan diri kita sudah laburan, yakni membangun lembaran baru yang lebih bersih dan lebih ‘putih’. Jika puasa kita total, dilandasi dengan keimanan dan ihtisaban semata mengharap keridhaan Allah seraya meninggalkan larangan-larangan berpuasa seperti berdusta (qaulaz-zuur), perkataan yang sia-sia (lagwu) dan kotor/keji (rofats), perbuatan zhalim, dan permusuhan di antara manusia, maka insya Allah kita akan keluar dari Ramadhan ini laksana bayi-bayi yang baru lahir, putih bersih, dari rahim ibunya.

Simbol dari laburan ini adalah melabur tembok dan pagar rumah kita dengan larutan gamping yang serba putih. Sehingga, ketika lebaran tiba, rumah kita pun tampak putih bersih sebagaimana putih bersihnya hati dan jiwa kita selepas Ramadhan.

***

Aktivitas yang tak kalah menariknya kala masih kecil dulu saat lebaran adalah bersilaturahmi kepada keluarga dekat, sanak kerabat, handai taulan, tetangga kiri kanan, dan siapa saja yang dijumpai sekitar kita, seraya meminta maaf atas segala dosa dan khilaf. Di daerah Ponorogo dan sekitarnya, aktivitas ini dinamakan: Sejarah atau Mbarak. Setelah selesai sungkeman minta maaf dengan orang tua dan handai taulan, biasanya muda-mudi berombongan keliling ke handai taulan yang dekat maupun jauh, untuk bersilaturahmi. Karena saking banyaknya rombongan silaturahmi itu hingga disebut mbarak, yakni datang grudugan beramai-ramai (Jawa). Kami dulu melakukannya dengan bersepeda ontel rame-rame sesama anak sebaya (sinoman). Hari ini mungkin tradisi ini sudah tidak zamannya lagi.

Tujuan utama sejarah ini tidak lain adalah bersilaturahmi seraya meminta halal dan maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah kita lakukan pada orang lain, terutama sanak famili kita. Itulah makna lebaran sebagai leburan, yakni melebur dosa sesama anak Adam dengan cara saling meminta maaf satu sama lain.

Disebut sejarah, karena ketika bersilaturahmi itu kita seperti menelisik kembali dari mana asal-usul kita dan kemudian melestarikan kekerabatan kita itu. Bagaimana memelihara “sejarah” atau silsilah keluarga kita dari jalur bapak/ibu, embah (kakek-nenek), buyut (orang tua kakek-nenek), canggah (embah-nya kakek-nenek), wareng, udeg-udeg, gantung siwur, gropak sente, debog bosok, galih asem, dan punjer seterusnya ke atas. Terkadang saat sejarah itu kita bertemu dengan seseorang yang ternyata masih sanak famili kita, yang selama ini tidak pernah kita kenal. Dari sini terbentuklah hubungan silaturahmi yang lebih erat dan akrab, serta lebih luas. Bagaimanapun, menyambung tali silaturahmi merupakan ajaran Islam yang harus dilestarikan.

Mungkin daerah lain memiliki tradisi yang sama. Jika di Ponorogo dan sekitarnya disebut sejarah, di tempat lain disebut dengan nama lain. Di Surabaya misalnya, silaturahmi lebaran itu disebut dengan unjung-unjung.

***

Satu lagi tradisi yang sebenarnya di ranah fikih Islam tidak ada perintah atau anjuran, tetapi secara tradisi lokal diadakan, khususnya di kalangan Muslim Jawa. Tradisi itu adalah “Bada Kupat”.

Bada atau Bakda adalah istilah Jawa untuk lebaran atau hari raya. Bakda mungkin berasal dari bahasa Arab ba’da, yang berarti “setelah”, sama dengan makna lebaran. Sementara Kupat adalah kata bahasa Jawa untuk ketupat. Jadi, Bada Kupat adalah lebaran ketupat. Disebut Bada Kupat karena memang pada hari itu masyarakat membikin ketupat beserta sayur opor untuk kemudian diantarkan kepada sanak keluarga dan tetangga. Ketupat adalah bentuk makanan sederhana dari beras yang dimasak dengan dibungkus daun kelapa muda (janur) yang masih berwarna kuning dengan cara dianyam.

Tradisi ini menurut beberapa sumber berasal dari ide kreatif para Wali Songo, khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga. Bada Kupat adalah upaya akulturasi budaya Jawa setempat untuk diserap dan kemudian diwarnai dengan warna Islam. Hal ini merupakan upaya dakwah para Wali Songo agar Islam bisa diterima oleh masyarakat Jawa. Boleh jadi tradisi kupatan ini berasal dari tradisi Hindu/Budha yang telah dijalankan masyarakat sebelum datangnya Islam ke tanah Jawa. Ada yang mengatakan tradisi ini sebelumnya dilakukan untuk memberikan persembahan bagi Dewi Sri, yakni dewa kemakmuran masyarakat Jawa. Wallahu a’lam.

Jika Idul Fitri adalah lebarannya orang-orang yang berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka Bada Kupat adalah lebarannya mereka yang berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal, yakni pada Syawal hari ke-8. Pada minggu itu, masyarakat menganyam janur kuning untuk dijadikan selongsong kupat dalam berbagai bentuk.

Kupat atau ketupat juga bukan sekadar makanan yang disajikan untuk menjamu para tamu pada hari raya Idul Fitri maupun merayakan genapnya enam hari berpuasa sunnah bulan Syawal. Sebagian masyarakat Jawa memaknai rumitnya membuat anyaman ketupat dari janur sebagai bungkus beras mencerminkan kesalahan manusia yang berkelindan. Warna putih ketupat ketika dibelah melambangkan kebersihan setelah bermaaf-maafan. Dan butiran beras yang dibungkus dalam janur merupakan simbol kebersamaan dan kemakmuran. Kupat sendiri secara kerata basa bermakna “ngaku lepat” atau mengaku salah, sehingga perlu meminta maaf. Dalam merayakan lebaran, ada kemauan untuk mengakui kesalahan yang dilakukan di masa lalu dan mau meminta permohonan maaf kepada Allah dan kepada sesama manusia.

Penggunaan janur sebagai kemasan pun memiliki makna tersembunyi. Janur dalam bahasa Arab berasal dari kata “jaa-a al-nur” yang bermakna “telah datang cahaya”. Sedangkan masyarakat Jawa mengartikan janur dengan “sejatining nur” (cahaya yang sejati atau cahaya kebenaran). Dalam arti lebih luas berarti keadaan suci manusia setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan Ramadhan.

Namun kini kupat atau ketupat kehilangan kesakralannya hingga hanya tinggal menjadi simbol kuliner bagi datangnya hari Raya Idul Fitri. Sungguh pun sebenarnya terkandung nilai filosofis yang adiluhung di dalamnya, namun semakin pudar dimakan zaman.

[]