Lahirnya Al-Biruni, Ulama Ilmuwan Multidimensi Muslim

images-25Siapakah ilmuwan pertama yang mempelajari dasar-dasar Geodesi atau ilmu yang berhubungan dengan fisik bumi? Siapakah ilmuwan yang ditahbiskan sebagai antropolog pertama di dunia? Siapakah ilmuwan pelopor berbagai metode pengembangan sains yakni metode saintifik eksperimental? Siapakah tokoh perintis psikologi eksperimental, yakni salah satu cabang ilmu psikologi yang menitikberatkan pada penggunaan metode penelitian eksperimen dalam meneliti dan mengembangkan ilmu psikologi? Siapakah saintis pertama yang mengeksplorasi eksperimen yang berhubungan dengan fenomena astronomi? Siapa tokoh yang pertama mempelajari dan menulis tentang India dengan begitu detilnya? Siapakah ilmuwan pertama yang mempelajari ilmu tentang optik serta penemu rumus tangen dan kotangen?
Semua pertanyaan itu bermuara pada satu nama. Beliau seorang saintis dan ulama muslim terkemuka abad ke-10 dan 11 bernama Al-Biruni.

***
Asia Tengah saat itu tengah dalam masa keemasan Islam, khususnya sains, dengan pusatnya di Bukhara. Hal ini menjadikan tradisi dan lingkungan Al-Biruni hidup sangat memengaruhi karakter dan keilmuannya. Apalagi ia sendiri semenjak kecil sudah menunjukkan bakat kecerdasan dan semangat belajar yang luar biasa. Ia pernah belajar kepada Abu Nashr Manshur ibnu Ali ibnu Iraqi, seorang astronom kenamaan asal Khurasan yang menguasai karya-karya Yunani seperti Ptolemaeus dan Menelaus. Selain itu, ia pernah belajar kepada Syekh Abdusshamad bin Abdusshamad dan Abu al-Wafa al-Buzayani.
Tidak mengherankan, bahkan pada umurnya yang masih belia, 17 tahun, Al-Biruni –atau di Barat dipanggil dengan nama Aliboron— sudah mampu menghitung garis lintang Kath Khawarizmi dengan menggunakan ketinggian matahari. Kath adalah sebuah kota di kawasan aliran sungat Oxus, Khawarizmi, yang masuk wilayah Persia kala itu. Kath tak jauh dari Bukhara. Kini Kath adalah kota Khiva di wilayah Uzbekistan.
Nama Al-Biruni berasal dari bahasa Persia “birun” yang berarti “dari pinggiran kota”, karena memang demikianlah letak kota Kath. Di sinilah Al-Biruni dilahirkan pada tanggal 4/5 September 973 M. Dengan demikian, Al-Biruni hidup sezaman dengan anak emas yang lahir dari rahim Islam lainnya, yakni Ibnu Sina. Nama lengkap Al-Biruni adalah Abu ar-Raihan Muhammad bin Ahmad al-Khawarizmi al-Biruni.
Al-Biruni memiliki kecerdasan matematis dengan pemikirannya yang logis. Al-Biruni menolak segala asumsi yang berangkat dari hanya sekedar khayalan –karena itu Al-Biruni menolak astrologi. Tapi beliau tidak menafikan teologi. “Penglihatan,” tulis Al-Biruni dalam kitabnya, Al-Jamahir fii Ma’rifatil Juwahir yang membahas ilmu pertambangan, “menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan Allah dalam ciptaan-Nya. Dari penciptaan alam tersebut, kita menyimpulkan eksistensi Allah.”
Prinsip ini dipegang teguh dalam setiap penyelidikan Al-Biruni. Ia tetap kritis dan tidak memutlakkan metodologi dan hasil penelitiannya. Hebatnya lagi, selain memiliki kecerdasan dan minat terhadap ilmu yang luar biasa, Al-Biruni juga piawai berkomunikasi dalam berbagai bahasa lain di samping Persia sebagai bahasa ibu, seperti Arab, Iberia, Suryani, Sansekerta, dan Yunani. Semua itu menjadikan beliau pakar dalam banyak disiplin ilmu, baik fisika, matematika, astronomi, astrologi, kedokteran, farmakologi, metafisika, psikologi, ilmu bumi, pertambangan, filsafat, sejarah, bahkan sastra.
***
Akhir abad ke-10 hingga awal abad ke-11, wilayah Khawarizmi bergolak. Pada usia 20 sekitar 998 M, Al-Biruni sempat pergi ke Jurjah dan bekerja pada penguasanya Syamsul Ma’ali Qabus bin Wisykamir dan melahirkan karyanya, Al-Atsar al-Baqiyyah ‘an al-Quruni al-Khaliyyah (Jejak-jejak yang Tersisa dari Masa Lampau) yang berisi kajian komparatif tentang kalender dan berbagai budaya dan peradaban, dihubungkan dengan matematika, astronomi, dan sejarah. Tetapi, pada 1010 M, Al-Biruni kembali ke Khawarizmi dan menjadi pejabat dan penasihat bagi Abu Abbas al-Ma’mun, penguasa Khawarizmi saat itu. Ia diberi kebebasan untuk melakukan penelitian dalam kondisi negeri yang tak menentu.
Namun Abu Abbas terbunuh akhirnya terbunuh dalam pergolakan itu dan wilayah Khawarizmi diambil alih oleh dinasti Ghaznawiyyah. Mahmud bin Sabkatkin atau yang terkenal dengan Mahmud al-Ghaznawiy, sang penakluk Khawarizmi, membawa serta pejabat istana termasuk Al-Biruni ke kota Ghazna (Afghanistan kini). Hal ini dilakukan Mahmud untuk menaikkan prestise istananya dengan memberi kesempatan para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu mengembangkan pengetahuannya. Di sinilah ia menulis Al-Qanun al-Mas’udi fii al-Hai’ah wa an-Nujum (Peraturan al-Mas’udi) yang berisi astronomi, geografi, dan teknik perhitungan matematis untuk menganalisas gerak planet dan menegaskan bahwa jarak bumi dan matahari lebih jauh dari yang dikemukakan Ptolemaeus. Kitab ini ia dedikasikan pada Mas’ud, putra Mahmud al-Ghaznawiy yang sangat tertarik pada sains dan sering bertanya mengapa terjadi perbedaan panjang siang dan malam di berbagai tempat di dunia. Atas karya setelah lebih dari 1500 halaman itu, Mas’ud memberi hadiah Al-Biruni seekor gajah penuh dengan muatan perak. Tetapi Al-Biruni mengembalikannya ke kas negara dan menegaskan bahwa ia bisa hidup tanpa kekayaan itu.
Seiring penaklukan Mahmud ke India, maka pada 1017-1030, Al-Biruni melancong ke negeri Hindustan itu. Penelitiannya di negeri ini membuahkan kitab Tarikh al-Hindiy (Sejarah India) yang mengeksplor segala aspek tentang India dan juga Tahqiq Maa lii al-Hindi min Maqulah Maqbulah fi Al-‘Aqli aw Mardzawilah (Kajian Kritis tentang Ucapan Orang India) yang berisi catatan lengkap tentang India, termasuk sejarah, politik, militer, budaya, corak sosial, keagamaan, filsafat, sastra, adat, dan tradisinya. Karena itulah, Al-Biruni dianggap sebagai Bapak Indology pertama di dunia.
Tak terhitung lagi sumbangan Al-Biruni pada bidang matematika, terutama aljabar, geometri, trigonometri, kalkulus, dan aritmetika. Ia meneruskan pekerjaan Al-Khawarizmi yang menemukan angka Nol dengan banyak tambahan. Ia yang pertama merumuskan konsep tangen dan kotangen. Ia membuktikan rumus kalkulus temuan Tsabit bin Qurrah dengan prinsip geometri –di kemudian hari diklaim sebagai temuan Isaac Newton oleh Barat. Al-Biruni juga pelopor dalam merumuskan metode untuk menggambar pada permukaan bola, menghitung diameter bumi, dan menghitung jarak antar kota dengan perhitungan matematis. “Inilah metode lainnya untuk menentukan diameter bumi,” katanya suatu ketika dengan sedikit humor. “Metode ini tidak mengharuskan kita berjalan menembus padang-padang pasir.”
***
Tak habis-habis jika kita menuliskan semua prestasi ilmuwan kenamaan Islam ini. Tak heran jika abad ke-11 ditahbiskan sebagai “The Time of al-Biruni” atau “Abad Al-Biruni” oleh kalangan saintis. Tak kurang 146 kitab (ada yang menyebut lebih dari 200 kitab) telah ditulis Al-Biruni dalam berbagai bidang ilmu. Ternyata Al-Biruni juga menciptakan berbagai instrumen, seperti astrolab, planisfer, sextant, hodometer, kalender lunisolar mekanik, tabung observasi, dan sebagainya. Dengan metode dan peralatan yang ia kembangkan, Al-Biruni dapat menentukan arah kiblat dari tempat manapun di muka bumi berikut menentukan waktu shalat yang tepat di tempat tersebut. Apa yang kita nikmati di gadget kita untuk menentukan arah kiblat ternyata sudah berumur hampir 1000 tahun.
Setelah tinggal cukup lama di India, Al-Biruni memutuskan kembali ke Ghazna untuk meneruskan penelitiannya. Al-Biruni wafat pada 13 Desember 1048 M dan dimakamkan di kota Ghazna. Berbagai penghargaan telah diterimanya. Salah satu nama kawah di bulan diberi nama “The Al-Biruni Crater” atau Kawah Al-Biruni.