Lahirnya Dokternya Dokter Muslim

_1511_fokusSiapa yang tidak pernah terkena penyakit cacar?

Penyakit cacar yang dalam bahasa medis disebut variola atau dalam bahasa Inggris disebut smallpox ini disebabkan oleh virus poks. Penyakit ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu dan termasuk yang paling cepat penularannya. Bila cacar sekitar wajah pecah akan meninggalkan bekas luka bopeng. Uniknya, penyakit ini hanya menyerang seseorang sekali seumur hidup, meski virus penyebab cacar tidak gampang dimusnahkan.

Tahukah Anda, siapa ahli kedokteran yang pertama kali mampu menjelaskan penyakit ini dengan penjelasan yang akurat dan terpercaya?

Tidak lain dialah Ar-Razi atau orang Barat menyebutnya Rhazes.

 

***

Sebenarnya pada mulanya Ar-Razi tertarik menjadi penyanyi atau musisi. Maklum, dia lahir di kota Ray atau sebelumnya disebut Arsacia, ibukota Syahrestani Ray, kota berperadaban tertua di dataran tinggi Alborz dekat Tehran, Iran yang telah berabad-abad menjadi penyokong perdagangan dan pertukaran budaya Jalur Sutra (silk road) antara Timur dan Barat. Sejarah mencatat kota ini dibangun pada 6000 SM. Bagian dari imperium Persia ini ditaklukkan kaum muslimin di bawah panglima Amr bin Zaid Al-Khail Ath-Thai pada 20 H (640 M) pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab t.

Kota yang berkembang pesat sebagai pusat kemajuan dan ilmu pengetahuan pada masanya ini telah melahirkan banyak Ar-Razi, nama yang dinisbatkan pada tokoh-tokoh yang lahir di kota ini. Di antaranya: Abu Zu’rah ar-Razi (ulama ahli hadits), Abu Hatim ar-Razi (ulama ahli hadits), Fakhruddin ar-Razi (ahli filsafat dan akidah Persia), dan Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini ar-Razi (pengumpul hadits). Tetapi, ar-Razi yang dimaksud menemukan cacar di atas adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi.

Namun kemudian ar-Razi pindah ke Baghdad untuk belajar ilmu kedokteran dan menjadi pegawai sebuah bimaristan. Bimaristan adalah sebutan untuk rumah sakit pada zaman kekuasaan Islam. Di sini, ia belajar kepada Ali ibnu Sahal at-Tabari, seorang Yahudi yang kemudian masuk Islam setelah menjadi pegawai kerajaan di bawah kekuasaan khalifah Al-Mu’tashim. Dia seorang filsuf dan ahli kedokteran kelahiran Merv. Ada yang berpendapat, guru kedokteran ar-Razi adalah Hunayn bin Ishaq. Wallahu a’lam.

Setelah beberapa lama di Baghdad, Ar-Razi diminta balik ke Ray oleh Manshur bin Ishaq, gubernur Ray kala itu. Ar-Razi diangkat menjadi kepala rumah sakit di kota kelahirannya. Di sini ia berhasil menulis buku bidang kedokteran untuk sang gubernur, yakni Ath-Thib ar-Ruhani (Spiritual Physic) dan al-Manshury fith-Thib (Manshuri on Medicine). Karena kepopulerannya sebagai dokter di Ray, maka ia diminta khalifah Abbasiyah kala itu, al-Mu’tadid billah, untuk mengepalai rumah sakit di Baghdad pada 902 M.

 

***

09 - Rhazes

Ar-Razi memiliki banyak murid yang belajar kedokteran kepadanya. Ketika salah satu muridnya bertanya, dia akan meneruskan pertanyaan itu kepada muridnya “ring pertama” (first circle). Jika mereka tak bisa menjawab, dia lempar ke muridnya di “ring kedua” (second circle). Demikian seterusnya. Baru jika semua muridnya tak mampu menjawab, ia akan turun tangan. Kelihatannya pola ini diterapkan dalam pembelajaran kedokteran dewasa ini, di mana ada “senioritas” dalam keilmuan dan praktik kedokteran. Salah satunya kita mengenal istilah “rujukan” dari satu level fasilitas kesehatan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi atau lengkap.

Yang menarik adalah, ar-Razi ringan tangan membantu orang-orang miskin, yang secara sosial ekonomi kurang mampu mengakses atau mendapatkan pengobatan. Ar-Razi mengobati mereka tanpa menuntut pembayaran dalam bentuk apapun. Free of charge. Gratis. Bahkan ia menulis sebuah risalah bagi orang-orang ini berjudul Man La Yahdhuruhu al-Thabib atau Mereka yang Tak Bisa Mendatangkan Dokter. Risalah ini berisikan petunjuk kesehatan yang bisa mereka lakukan sebelum terpaksa pergi ke seorang thabib atau dokter.

Terkait dengan cacar, Ar-Razi menulis,

“Cacar terjadi ketika darah ‘mendidih’ dan terinfeksi, di mana kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi.”

Ar-Razi lalu menjelaskan gejalanya, “Kemunculan cacar ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut bergabung dan gatal terasa di semua bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan.”

Lihatlah, betapa deskripsi penyakit cacar ar-Razi 1200 tahun yang lalu persis yang kita alami saat ini.

Tak berlebihan, karena Ar-Razi menulis kitab al-Judari wal Hasbah (Cacar dan Campak) yang merupakan buku pertama yang membahas cacar dan campak sebagai dua hal yang berbeda –di mana kita masih sering menyamakan keduanya. Pernyataan dalam bukunya ini diklaim sebagai “pernyataan pertama yang paling akurat dan terpercaya mengenai wabah dimana dijelaskan gejalanya secara jelas, termasuk patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur, dan cara mencegah penyakit tersebut.”

Tak ayal, buku ar-Razi ini diterjemahkan berkali-kali ke dalam bahasa Latin dan Eropa lainnya. Buku ini sangat disukai karena penjelasannya tidak tidak dogmatis dan kepatuhannya pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis.

Dalam bidang kedokteran, ar-Razi juga dikenal sebagai penemu penyakit alergi asma, ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi (ilmu tentang kekebalan tubuh), dan ilmuwan pertama yang menjelaskan bahwa demam adalah mekanisme tubuh untuk melindungi diri. Pertama yang perlu dilakukan adalah pemberian cairan tubuh agar pasien tidak dehidrasi, selain memperhatikan jikalau ada unsur kegawatdaruratan. Alih-alih kita hari ini menganggap demam sebagai “penyakit” sehingga merasa perlu mengobatinya dengan penurun panas (parasetamol) atau bahkan antibiotik. Padahal antibiotik itu obat penyembuh penyakit karena bakteri. Ironisnya, pemberian antibiotik yang terlalu sering malah menyebabkan resisten (kebal terhadap antibiotik).

 

***

Selain ahli kedokteran, Ar-Razi juga dikenal sebagai ahli farmasi, ahli filsafat, kimia, matematika, dan kesusastraan. Tak kurang ia menulis 30 kitab dalam berbagai ilmu. Beberapa etika kedokteran yang layak diwarisi darinya misalnya: dokter tidak mungkin mengetahui jawaban atas segala penyakit dan menyembuhkannya. Ia tak bisa disalahkan karena tak bisa menyembuhkan kanker atau kusta yang berat. Tujuan menjadi dokter tak lain adalah berbuat baik, bahkan kepada musuh. Tak berlebihan jika dia dinisbatkan sebagai Dokternya Dokter.

Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi lahir pada 28 Agustus 865 M di kota Ray. Setelah kematian khalifah Al-Muktafi (907 M), ia kembali dari Baghdad ke Ray hingga kemudian meninggal pada 9 Oktober 925 M dalam usia 60 tahun.


Sumber:

  1. Republika tanggal 1
  2. www.jawapos.co.id
  3. UUD 45 Pasal 23
[]