Lahirnya Sang Amirul Mu’minin fil Hadits: Imam Al-Bukhari

Suatu hari tatkala membaca hadits di hadapan orang-orang, Ad-Dakhili mengatakan, “Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Maka beliau pun menghardikku. Lalu aku berkata kepadanya, ‘rujuklah kepada sumber aslinya, jika Anda punya.’ Kemudian Ad-Dakhili pun masuk dan melihat kitabnya, lantas kembali dan berkata, ‘bagaimana kamu bisa tahu, wahai anak muda?.’ Aku menjawab,’ Dia adalah Az Zubair (bukan Abu Zubair, pen). Nama aslinya Ibnu Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.’ Kemudian beliau pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan beliau pun berkata kepadaku, ‘kamu benar’.”

Begitulah sepenggal kisah anak muda ini kepada Muhammad bin Abi Hatim Warraq. “Ketika membantahnya umurmu berapa?” tanya Warraq. Maka anak muda itu menjawab, “sebelas tahun.”

Anak muda luar biasa itu kita kenal dengan nama Imam Al-Bukhari.

***

Nama aslinya Muhammad, lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughiroh bin Bardizbah Al-Ju’fi. Beliau lahir  pada 13 Syawal 194 H atau 21 Juli 810 M di Kota Bukhara (Uzbekistan, Asia Tengah). Karena itu, beliau dipanggil Al-Bukhari. Kakeknya, Bardizbah, pemeluk majusi. Barulah puteranya, Al-Mughirah, masuk islam di bawah bimbingan Al-Yaman Al-Ja’fi, gubernur Bukhara kala itu.

Shahih-Bukhari masjid 1

Ayahnya, Syeikh Ismail bin Ibrahim, adalah seorang yang wara’, berhati-hati terhadap hal-hal yang bersifat syubhat, apalagi yang jelas haram. Beliau seorang ulama bermadzhab Maliki dan memang pernah berguru kepada Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih kepada siapa madzhab Maliki dinisbatkan. Beliau juga belajar hadits kepada Hammad ibn Zayd. Cukuplah sifat wara’nya kita dapati bilamana ketika menjelang wafatnya, ia berkata: “dalam harta yang ku miliki tidak terdapat sedikit pun harta yang haram maupun yang syubhat.” Walhasil, pada lingkungan keluarga yang demikian inilah Al-Bukhari dilahirkan.

Namun, tak lama selepas lahir, Al-Bukhari kehilangan penglihatannya. Ayahnya begitu sedih. Ibunya sampai tak henti meminta kepada Allah SWT dalam doa-doanya, agar Al-Bukhari muda sembuh seperti sedia kala. Hingga pada suatu malam, ibu Al-Bukhari bermimpi melihat Nabi Ibrahim As. Sang Khalilullah mengatakan  kepadanya, “wahai Fulanah, sesungguhnya Allah SWT telah mengembalikan penglihatan kedua mata puteramu karena seringnya engkau berdoa.” Sungguh mimpi itu menjadi kenyataan. Pada pagi harinya, sang ibu mendapati puteranya telah kembali penglihatan kedua matanya.

Hanya saja, Al-Bukhari harus rela kehilangan ayahnya sewaktu kecil. Ia ditinggalkan ayah yang wara’ itu dengan harta yang cukup melimpah hingga memungkinkannya untuk dididik dan tumbuh dengan baik. Di tangan ibunya yang tekun dan penuh perhatian, Al-Bukhari lantas menjadi seorang yang menonjol dibanding teman-temannya. Kejeniusannya nampak sejak kecil. Allah SWT menganugerahkan hati yang cerdas, pikiran yang tajam, dan hapalan yang kuat pada dirinya.

***

Demikianlah ketika menginjak usia sepuluh tahun, Al-Bukhari muda mulai menuntut ilmu. Ia berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang terkenal di Kota Bukhara. Pada usia 16 tahun ia pergi ke Makkah dan Madinah bersama keluarganya. Di kedua kota suci tersebut, beliau mengikuti kajian para guru besar hadits. Beliau lalu melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam untuk menuntut ilmu, khususnya dalam bidang hadits.

Dalam usia 16 tahun itu, ia sudah hafal kitab Sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui pendapat-pendapat penganut paham rasional (ahlra’yi), dasar-dasar, dan madzhabnya. Kakaknya, Rasyid Ibn Ismail, pernah menuturkan, bahwa Al-Bukhari pernah dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah ulama Balkh. Al-Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah seperti teman-temannya. Ia dicela telah membuang waktu sia-sia karena tidak mencatat. Ia diam saja, hingga pada suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan yang terus ia terima, Al-Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Dan mereka semua tercengang karena Al-Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap terperinci dengan sanad dan keterangan lain yang teman-temannya tidak sempat mencatat. Justru mereka memperbaiki catatannya dari hafalan Al-Bukhari itu.

Demikian juga ketika sedang berada di ibukota kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad, Al-Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja diputar-balikkan. Ternyata hasilnya memukau, karena Al-Bukhari mampu mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, dan membacakan hadits yang benar. Seluruhnya di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan dalam sekali dengar, termasuk membetulkannya.

***

Ketika sedang berada di Makkah dan Madinah, Al-Bukhari telah mulai menulis karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami’ash-Shahih dan pendahuluannya. Ia menulis Tarikh Al-Kabir di dekat makam Nabir. Ketiga buku tarikhnya, As-Sagir, Al-Awsat, dan Al-Kabir, muncul dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya memberikan kritik, hingga sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam tarikhnya yang tidak ia ketahui kisahnya.

Shahih-BukhariKarya besarnya di bidang hadits, Al-Jami’ash-Shahih atau Shahih Al-Bukhari dinilai merupakan kitab hadits yang paling shahih. Ada seorang ulama besar ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al-Marwazi pernah menuturkan, “suatu ketika saya tertidur pada sebuah tempat di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur saya bermimpi melihat Nabi SAW. Beliau berkata kepada saya, ‘Hai Abu Zaid, sampai kapan engkau mempelajari kitab Asy-Syafi’i, sementara tidak mempelajari kitabku?’ Saya berkata, ‘wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?’. Rasulullah menjawab, ‘kitab Jami’ karya Muhammad bin Ismail.”

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Imam Al-Bukhari menghabiskan waktu 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan, dan menyeleksi haditsnya. Di Baghdad, beliau sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbal. Daris sejumlah kota itu, ia bertemu dengan 80.000-an perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal tak kurang satu juta hadits.

Beliau sangat selektif dalam meriwayatkan hadits, di antaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung, apakah perawi (periwayat/pembawa) hadits tersebut terpercaya dan tsiqqah (kuat). Dari ratusan ribu hadits yang dihafalnya, akhirnya bersama gurunya, Syekh Ishaq, Al-Bukhari “hanya” menuliskan sebanyak 9082 hadits dalam satu kitab Al-Jami’ash-Shahih. Hadits-hadits tersebut beliau dapat dari guru-gurunya, seperti Ali bin Al-Madini, Ahmad bin Hambali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al-Faryabi, Maki bin Ibrahim Al-Bakhi, Muhammad bin Yusuf Al-Baykandi, dan Ibnu Rahwahih. Disamping itu, ada 289 ahli hadits lain yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.

Selain Al-Jami’ash- Shahih, karya Imam Al-Bukhari yang lain di antaranya: Al-Adab Al-Mufrad, Adh-Dhu’afa Ash-Shaghir, At-Tarikh Ash-Shaghir, At-Tarikh Al-Ausath, At-Tarikh Al-Kabir, At-Tafsir Al-Kabir, Al-Musnad Al-Kabir, dan puluhan kitab lainnya yang bisa kita baca hingga kini.

Atas segala pencapaian ini, maka beliau layak disebut sebagai “Al-Imam Al-Bukhari”, bahkan ada yang menyebut beliau sebagai Amirul Mu’minin fil Hadits.

***

Di samping ahli hadits, ketakwaan dan keshalihan Al-Imam Al-Bukhari tak perlu diragukan lagi. Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “saya mendengar para ulama di Bashrah mengatakan, ‘tidak pernah kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin Ismail dalam hal ma’rifah (keilmuan) dan keshalihan.” Demikian juga Al-Firabri pernah berkata, “saya bermimpi melihat Nabi SAW di dalam tidur saya. Beliau Nabi SAW bertanya kepada saya,’engkau hendak menuju ke mana?’. Saya menjawab,’hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.’ Beliau Nabi SAW berkata, ‘sampaikan salamku kepadanya!”.

Tidak itu saja, Imam Al-Bukhari ternyata juga sering berolah raga. Beliau misalnya sering belajar memanah hingga tingkat mahir. Dikatakan, sepanjang hidupnya, Imam Al-Bukhari tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali saja.

Dan sang Amirul Mu’minin akhirnya wafat di Khartand, sebuah desa kecil dua farsakh (sekitar 10 km) sebelum Samarkand setelah jatuh sakit selama beberapa hari dalam perjalanan. Beliau wafat pada malam idul fitri 31 Agustus 870 M (256 H) dalam usia hampir 62 tahun dan dimakamkan di desa itu keesokan harinya. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anak pun.

 

Disarikan oleh Bahtiar HS dari berbagai sumber.