Langgar Panggung Ploso Kerep Blitar

Langgar Panggung Ploso Kerep Blitar

 

Oleh: Binti Q. Masruroh

Mahasiswi Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

binti.quryatul@gmail.com

 

Langgar Panggung Ploso Kerep Blitar

dok. Penulis

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajah, kita tidak asing dengan pejuang yang selalu memakai sorban dengan jubah putih, layaknya ulama yang ada di negeri Arab atau Timur Tengah. Beliau adalah Pangeran Diponegoro, pahlawan nasional yang selain sangat dekat dengan rakyat, juga dekat dengan kehidupan dan ajaran Islam. Pangeran Diponegoro, yang ketika lahir bernama Muhammad Muthohhar atau Pangeran Ontowiryo ini, dikenal sebagai penentang gigih penjajahan Belanda. Karena kafir Belanda telah menginjak-injak harga diri umat Islam dan memecah belah keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pewaris Mataram Islam. Muncullah Perang Diponegoro yang berlangsung bertutut-turut selama lima tahun, terhitung sejak tahun 1825 hingga 1930.

Perang Diponegoro tersebut juga dikenal sebagai perang Jawa karena peperangan selama lima tahun itu melibatkan hampir seluruh wilayah Jawa untuk menentang Belanda. Pangeran Diponegoro yang didukung oleh para ulama, pangeran, bupati, dan rakyat kecil menamakan perang ini sebagai Perang Sabilillah. Dengan siasat licik Belanda, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Makassar.

Langgar Panggung Ploso Kerep Blitar

dok. Penulis

Selepas tertangkapnya Pangeran Diponegoro pada 1830 bukan berarti perlawanan rakyat telah habis. Di beberapa tempat, perlawanan menentang Belanda masih berlangsung, hingga perlawanan betul-betul habis pada pertengahan abad 19. Sisa-sisa pengikut Pangeran Diponegoro pun menyebar di berbagai wilayah di Jawa. Salah satunya di Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Di daerah Ploso Kerep Kabupaten Blitar, tepatnya di Jalan Kemuning, terdapat bangunan langgar yang cukup unik. Disebut langgar karena bentuknya yang kecil tidak seperti masjid pada umumnya yang dipergunakan untuk shalat Jum’at. Namun, bangunan inilah sebagai saksi sejarah yang merekam jejak bagaimana kehidupan masyarakat Islam di daerah Ploso Kerep ketika itu. Langgar ini merupakan langgar peninggalan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro, dan merupakan satu-satunya yang ada di Blitar. Langgar ini unik karena dibangun dengan bentuk panggung, dengan kayu-kayu sebagai penyangganya. Keseluruhan bangunan langgar ini terbuat dari kayu dan bambu. Baik alas, atap, dinding, dan juga tiang-tiang penyangga. Dari bentuk fisiknya, bisa dilihat bahwa usia langgar ini sudah cukup tua.

Langgar panggung ini tercatat sebagai salah satu warisan cagar budaya yang ada di Blitar. Langgar ini juga tercatat di museum Jogjakarta sebagai salah satu tinggalan dari prajurit Pangeran Diponegoro.

Di bagian depan langgar dan di sekitarnya banyak terdapat pohon-pohon sawo berukuran besar-besar dan tentunya telah berusia seabad lebih. Konon, penanaman pohon sawo yang banyak tersebut memang sengaja dibuat untuk menjadikannya tanda atau kode khusus. Kata sawo mirip kata sawa yang dalam bahasa Arab berarti sama. Penanaman pohon sawo dalam jumlah banyak tersebut untuk memberi tanda kepada keluarga Pangeran Diponegoro yang berada di Bagelen, Jawa Tengah, bahwa terdapat prajutit atau keluarga Pangeran yang ada di situ. Konon, pohon sawo ini dijadikan tanda atau simbol bukan hanya di wilayah Blitar saja, namun juga di wilayah-wilayah lain.

Langgar Panggung Ploso Kerep Blitar

dok. Penulis

Tidak tertulis dengan jelas kapan pembangunan langgar ini dilakukan sekaligus siapa pembangun pertamanya. Karena tidak ada dokumen sejarah yang mencatat itu. Diperkirakan, langgar ini berusia kurang lebih 150 tahun. Satu-satunya narasumber yang dapat penulis temui yaitu pengurus langgar yang bernama Abu Said. Beliau merupakan pewaris keempat, setelah pembangun aslinya yang merupakan prajurit Pangeran Diponegoro. Kemudian berpindah tangan kepada kakek dari Mbah Abu Said yaitu Mbah H. Ismail, dan beralih tangan pada sang ayah, dan kemudian kepada kakak, lalu kepada beliau. Usia mbah Abu Said kini telah mencapai 75 tahun.

Banyak bagian dari bangunan yang masih asli sejak pembangunan pertamanya. Bedug dan kentongan masih asli. Dapat dilihat dari bentuk kentongan yang sudah rayapan (termakan rayap dan karena usia). Penyangga antara langgar dan tanah dahulunya juga adalah kayu. Namun karena faktor usia dan untuk mempertahankan kokohnya bangunan, kayu-kayu penyangga tersebut kemudian dilapisi dengan cor semen.

Tidak diketahui dengan jelas tujuan dari dibangunnya langgar dengan berbentuk panggung tersebut. Namun, beberapa orang meyakini struktur bangunan dibuat demikian karena terkait dengan Gunung Kelud yang rawan meletus dan mengeluarkan material letusan. Dibuat dengan bentuk panggung kemungkinan agar ketika Gunung Kelud meletus, langgar tidak terkena dampak letusan dan juga untuk menghindari bangunan rusak parah atau bahkan tertimbun. Karena seperti yang telah terjadi, setiap kali Gunung Kelud meletus banyak bangunan di wilayah Blitar yang rusak karena tertimbun material letusan gunung.

Langgar panggung ini tercatat sebagai salah satu warisan cagar budaya yang ada di Blitar. Langgar ini juga tercatat di museum Jogjakarta sebagai salah satu tinggalan dari prajurit Pangeran Diponegoro.

Meskipun langgar ini kecil dan tergolong sangat tua, namun langgar ini semarak dengan berbagai kegiatan. Selain digunakan untuk shalat berjamaah setiap harinya, diadakan pula pengajian setiap satu bulan sekali. Pada pagi hari seusai jamaah sholat Subuh, langgar ini juga digunakan untuk mengaji al-Qur’an oleh anak-anak kecil usia sekolah. Selain itu, kegiatan perayaan hari-hari besar dalam Islam juga selalu diperingati dengan meriah. Beberapa tahun lalu Mbah Abu Said mengusulkan agar langgar ini direnovasi dengan tidak dibuat berbentuk panggung lagi, beliau menghendaki langgar menapak tanah seperti langgar dan masjid yang lain. Namun warga sekitar menolaknya dengan alasan agar tidak menghilangkan keunikan sekaligus keasliannya.

Belajar dari Langgar Panggung ini, maka kiranya penulisan dokumen sejarah sangat penting. Hal tersebut agar catatan sejarah tidak hilang. Seperti halnya Langgar Panggung ini, yang merupakan peninggalan masyarakat Islam sekaligus peninggalan sejarah dari prajurit Pangeran Diponegoro.

Wallahu a’lam bisshowaab.