Larangan “Maysir” dalam Transaksi Muamalah

Oleh: Bahtiar HS

Pada tulisan terdahulu sudah disampaikan bahwa ada 3 faktor besar dilarangnya suatu transaksi, yaitu: (1) faktor objek atau dzat, (2) faktor luar, dan (3) faktor ketidaklengkapan transaksi. Faktor object atau dzat barang yang dilarang diperjualbelikan, insyaAllah sudah mafhum dan banyak dibicarakan. Karena itu, pada lanjutan artikel ini kita akan bahas tentang faktor luar sehingga suatu transaksi muamalah dilarang oleh agama. Dan faktor pertama yang akan kita bicarakan adalah tentang maysir.

***

Kata “Maysir” menurut para mufassir adalah mashdar dari fi’il madhi “yasara”, dari akar kata “al-yusr” yang berarti kemudahan. Hal ini karena si pelaku maysir bisa mengambil atau mendapat harta dengan mudah tanpa perlu bersusah payah dari pihak lain. Maysir juga bisa dari akar kata “al-yasar” yang berarti kekayaan, karena maysir menjadi penyebab (bertambahnya) kekayaan pelakunya apabila dia berhasil menang dari pihak lain.

Kata “maysir” disebutkan di dalam Al-Qur’an, salah satunya pada surat Al-Maidah: 90,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أَمَنُوا إِنَّمَاالْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنَ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya khamr, maysir (judi), anshab (berkurban untuk berhala), dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka menjauhlah kalian pada perbuatan-perbuatan itu agar kalian beruntung.”

Menurut para mufassir salaf seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya, makna kata “maysir” dalam ayat di atas adalah “qimar”. Qimar merupakan kata bentukan dari kata fi’il madhi “qamara” yang berarti bertaruh atau berjudi. Dalam ayat di atas ditemukan juga kata azlam, yakni mengundi nasib dengan anak panah yang berujung juga pada spekulasi.

Ibrahim Anis dalam Al-Mu’jam Al-Wasith menyatakan bahwa maysir atau judi adalah setiap permainan (la’ibun) yang mengandung taruhan dari kedua pihak (muraahanah). Sementara al-Jurjani dalam kitabnya At-Ta’rifat menyatakan bahwa judi adalah setiap permainan yang di dalamnya disyaratkan adanya sesuatu (berupa materi) yang diambil dari pihak yang kalah kepada pihak yang menang. Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya Rawa’i’ Al-Bayan fi Tafsir Ayat Al-Ahkam menyebut bahwa judi adalah setiap permainan yang menimbulkan keuntungan (rabh) bagi satu pihak dan kerugian (khasarah) bagi pihak lainnya. Sedangkan menurut Ibnu Hajar Al-Maky, maysir adalah segala bentuk spekulasi. Semua transaksi yang mengandung unsur spekulatif atau untung-untungan masuk dalam kategori judi.

Bank Indonesia juga sudah mengakomodasi fenomena berjudi ini lewat Peraturan Bank Indonesia No. 7/46/PBI/2005. Dalam penjelasan pasal 2 ayat 3 tertulis bahwa “maysir” adalah transaksi yang mengandung perjudian, untung-untungan, atau spekulatif yang tinggi.

Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa “Maysir” adalah perjudian, yakni segala bentuk transaksi yang: (1) mengandung unsur untung-untungan, taruhan, (2) hasil yang akan diperoleh belum jelas / tidak menentu atau ditentukan kemudian (spekulatif), dan (3) dalam transaksi tersebut akan ada sebagian pihak yang diuntungkan dan sebagian pihak yang lain dirugikan. Maysir bisa ditemukan dalam taruhan, lotre, undian, perlombaan, bahkan jual beli ketika ditemukan ciri-ciri di atas.

Selain dalam ayat di atas, Al-Qur’an juga menyinggung tentang maysir dalam ayat lain, yaitu:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (Q.S. Al-Baqarah: 219)

***

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an di atas, maysir atau judi dihukumi haram dalam agama Islam. Al-Qur’an menyatakan maysir sebagai sesuatu yang mengandung rijsun (najis) yang berarti busuk, kotor, dan termasuk perbuatan setan. Ia juga berdampak sangat negatif pada semua aspek kehidupan.

Contoh kasus: bisnis togel. Sejumlah orang masing-masing membeli kupon togel dengan “harga” tertentu dengan menembak empat angka misalnya. Pembelian kupon ini sebenarnya hanyalah tindakan mengumpulkan uang taruhan. Lalu diadakan undian dengan cara tertentu untuk menentukan empat angka yang akan keluar. Maka, ini adalah undian yang haram, sebab telah menjadi bagian aktivitas judi. Di dalamnya ada unsur taruhan, hasilnya tidak jelas, dan ada pihak yang menang dan yang kalah di mana yang menang mengambil materi yang berasal dari pihak yang kalah.

Andaikata peserta tidak perlu membayar “harga” tertentu, maka tidak terpenuhi unsur ada pihak yang dirugikan (jika tidak menang); yang kalah tidak merasa dirugikan. Hal yang demikian tidak termasuk judi, melainkan pembagian hadiah biasa. Dan itu dibolehkan. Misalnya: Anda berbelanja ke sebuah supermarket, lalu mendapatkan kupon undian. Dari sana, pemenangnya diundi dan mendapatkan hadiah tertentu. Maka yang demikian tidak termasuk kategori judi, karena tidak ada pihak yang dirugikan.

Dalam bisnis modern, maysir bisa kita temukan pada asuransi konvensional. Ketika mengasuransikan kendaraan misalnya, nasabah membayar sejumlah premi kepada pihak asuransi dan pihak asuransi menjamin atas risiko tertentu terhadap kendaraan dimaksud. Dalam transaksi asuransi konvensional ini terjadi risk-transfer, yakni pengalihan risiko –yang dalam kasus ini—atas kendaraan yang diasuransikan dari pemilik atau peserta kepada pihak asuransi. Jika dalam masa pertanggungan kendaraan tidak ada masalah (tidak ada klaim), maka pihak asuransi tak perlu mengeluarkan biaya apapun dan premi pun hangus (tidak dikembalikan kepada nasabah). Sementara jika kendaraan hilang atau tabrakan sehingga nasabah mengajukan klaim agar kendaraan diganti atau diperbaiki, maka pihak asuransi harus membayar biayanya, bahkan tak jarang lebih mahal dari premi yang dibayarkan nasabah.

Jadi ada unsur maysir dalam bentuk spekulasi di sini, bahwa bakal ada salah satu pihak yang mendapatkan keuntungan dari pihak lain (yang dirugikan) dalam transaksi. Oleh karena ada unsur maysir ini –di samping unsur-unsur lain, maka para ulama menghukumi asuransi konvensional sebagai terlarang (haram).

Wallahu a’lam.

[]

Disarikan dari berbagai sumber.