Larangan Riba dalam Muamalah Islam

Oleh: Bahtiar HS

Manager Media dan Informasi

Lazis alHaromain

download-1Barangkali tak ada kata yang paling sering disebut ketika berbicara tentang ekonomi Islam, khususnya ketika membandingkan dengan ekonomi konvensional, ketimbang kata ini: Riba. Seolah-olah yang membedakan suatu transaksi muamalah itu sesuai (comply) dengan syariah atau tidak hanyalah transaksi itu mengandung riba atau tidak. Padahal tidak demikian.

Mungkin secara istilah, orang lebih mengenalnya dengan istilah “bunga”, yakni bunga pinjaman. Bunga termasuk kategori riba, tetapi riba belum tentu berbentuk bunga. Bisa dimaklumi jika riba/bunga menjadi topik utama dalam ekonomi Islam. Bahkan di beberapa tempat, ekonomi Islam atau ekonomi syariah disebut sebaga ekonomi bebas bunga/riba (interest free). Bagaimanapun, dalam dunia keuangan modern sekarang ini, mana bagian yang tak melibatkan Riba?

Transaksi ribawi sudah begitu merasuk dalam kehidupan kita bertahun lamanya, hingga seakan-akan hal itu sesuatu yang biasa. Menabung, kredit kendaraan atau rumah, asuransi, gadai, bahkan simpan-pinjam di sekitar rumah kita, semuanya rawan dengan transaksi ribawi. Padahal, bahaya riba serta ancaman bagi pelakunya sungguh menakutkan. Dosa apa yang melebihi berzina 73 kali dengan ibu sendiri selain dosa riba? Saking dahsyatnya daya rusak riba ini sampai-sampai Allah  memaklumkan PERANG kepada para pelakunya. Allah berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَروا ما بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِن كُنتُم مُؤمِنينَ  فَإِن لَم تَفعَلوا فَأذَنوا بِحَربٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسولِهِ ۖ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. (Q.S. Al-Baqarah: 278-279)

Definisi Riba

Secara bahasa, kata riba terambil dari kata rabaa yang berarti ziyadah (tambahan), baik tambahan itu terdapat pada sesuatu (misalnya pada kasus pinjaman) atau sebagai ganti terhadap sesuatu (misalnya pada tukar menukar barang ribawi). Dalam pengertian lain, riba juga berarti tumbuh dan membesar. Sedangkan secara istilah, riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal yang dilakukan secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam, baik dalam jual beli, tukar-menukar, maupun pinjam-meminjam.

Contoh sederhana: seseorang meminjam uang Rp 1.000.000,- yang harus dikembalikan dalam tempo tertentu sebesar Rp 1.200.000,- Tambahan Rp 200.000,- dari pokok pinjaman Rp 1.000.000,- yang dikembalikan termasuk kategori riba. Atau seseorang menukar beras 10 kg dengan beras lain 12 kg. Maka 2 kg selisihnya merupakan bagian dari riba.

Hukum Riba

Riba jelas-jelas dihukumi haram berdasarkan Al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’, dan qiyas. Namun Allah melarang praktik riba melalui firman-Nya tidak secara sekaligus, melainkan dalam 4 (empat) tahap, yaitu:

Pertama: Allah menolak anggapan kebanyakan orang bahwa pinjaman riba (dengan tambahan) yang secara lahir seolah-olah menolong orang yang memerlukannya sebagai perbuatan mendekatkan diri pada Allah (taqarrub) dan mencari keridhaan-Nya. Dalam ayat ini, pinjaman dengan riba diperbandingkan dengan zakat. Allah berfirman:

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (Q.S. Ar-Rum: 39)

Ayat terkait riba di tahap pertama ini barulah ayat informatif saja.

Kedua: Allah menggambarkan riba sebagai sesuatu yang buruk dengan mengambil ibrah orang-orang Yahudi yang tetap memakan riba mesti dilarang. Allah mengancam mereka dengan siksa yang pedih. Allah berfirman:

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (Q.S. An-Nisaa’: 160-161)

Ayat tahap kedua ini lebih merupakan ayat ibrah bagi kaum muslimin atas pelarangan riba kepada kaum Yahudi.

Ketiga: Allah melarang riba dengan mengaitkannya pada suatu tambahan yang berlipat ganda. Menurut para ahli tafsir, ayat ini turun pada tahun ke-3 Hijriyah berkaitan dengan fenomena dipraktikkannya riba/bunga yang cukup tinggi saat itu. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat-ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Ali Imran: 130).

Ayat tahap ketiga ini sudah merupakan ayat pelarangan atas praktik riba pada kaum muslimin, namun masih terkait dengan fenomena riba yang berlipat ganda saat itu.

Keempat: pada tahap terakhir ini, Allah benar-benar dengan jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis riba yang diambil (dari pinjaman) sejak saat itu. Ayat ini turun pada tahun ke-9 Hijriyah dan merupakan terakhir yang turun terkait riba. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa (dari berbagai jenis) riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (Q.S. Al Baqarah: 278-279)

Ayat tahap keempat ini merupakan ayat pelarangan pamungkas terhadap praktik riba bagi sekalian kaum muslimin.

Oleh karena itu, memaknai ayat-ayat riba mesti dikaitkan secara komprehensif dengan tahapan-tahapan di atas sehingga tidak melahirkan hukum riba yang kurang tepat karena hanya mengambil sepotong ayat. Misalnya, hanya mengambil ayat tahap ketiga saja, tanpa memperhatikan ayat terakhir. Kesimpulan terhadap pelarangan riba bisa salah, karena jika hanya tambahan yang berlipat ganda termasuk riba, maka tambahan yang kecil menjadi tidak termasuk riba. Ini bahaya. Tetapi dengan memperhatikan ayat tahap keempat, maka tambahan yang berlipat ganda (adh’afan mudha’afah) ini perlu dipahami BUKAN sebagai syarat terjadinya riba, melainkan sebagai fenomena atau karakteristik riba saja. Sementara riba dalam bentuk apapun dan jumlah berapapun dilarang dalam Islam.

Pelarangan Riba dalam Agama Lain

Ternyata seluruh agama samawi (Yahudi dan Nasrani) pun melarang praktik riba ini!

Dalam Perjanjian Lama misalnya tertulis, “Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia: janganlah engkau bebankan bunga uang terhadapnya.” (Kitab Keluaran, pasal 22 ayat 25). Dalam ayat lain disebutkan, “Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan, atau apapun yang dapat dibungakan.” (Kitab Ulangan, pasal 23 ayat 19).

Juga dalam Perjanjian Baru disebutkan, “Jika kalian memberikan pinjaman kepada orang yang kalian harapkan imbalan darinya, maka keutamaan apakah yang akan kalian peroleh? Lakukanlah kebajikan dan berilah pinjaman tanpa mengharapkan adanya imbalan sehingga kalian memperoleh pahala yang besar.” (Injil Lukas pasal 6 ayat 34-35)

Tidak itu saja. Bahkan filsuf Yunani dan Romawi pun melarang praktik riba. Tak kurang Plato, Aristoteles, Cato, dan Cicero mengutuk orang-orang Romawi yang mempraktikkan pengambilan bunga. Plato misalnya mengecam sistem riba/bunga karena menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam masyarakat, di samping menjadi alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin. Dalam tradisi mereka, pencuri didenda 2 kali lipat, sementara pemakan bunga didenda 4 kali lipat. Ini menggambarkan kejahatan bunga melalui sistem riba lebih jahat dari tindak kriminal pencurian.

Tidaklah salah jika Albert Einstein, ilmuwan penemu teori relativitas itu, mengatakan, “Compound interest is the eighth wonder of the world. He who understands it, earns it. He who doesn’t, pays it.” Bunga berbunga merupakan keajaiban dunia ke-8. Siapa yang memahaminya akan memanfaatkannya (untuk mengeruk keuntungan), sedang yang tidak akan membayarnya (terjerumus menjadi korban).

Wallahu a’lam.

[]