Lima Prinsip Berdakwah

Oleh:

download (20)

K.H. Muhammad Ihya Ulumiddin

  ‘Aminul’ Am Persyada Al Haromain dan Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang

 

Allah SWT berfirman :

(Q.S. al-Ahzab: 45-46)

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا . وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.

 

Analisa Ayat

abuyaBegitu mesra Allah memanggil sang kekasih Rasulullah Muhammad SAW, “Hai Nabi”. Sangat berbeda ketika Dia memanggil, “Hai Yahya, ambillah kitab itu dengan kuat.” (Q.S. Maryam: 12). Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Dia mengutus sang kekasih-Nya itu kepada umat manusia seluruhnya, Arab dan non Arab (ajam), agar mengajak mereka ke jalan-Nya dengan lima prinsip. Peran dan fungsi yang  harus pula berusaha dilaksanakan oleh siapa pun yang telah berkomitmen menjalani kehidupan dunia yang fana ini dengan aktivitas dakwah. Lima prinsip itu adalah:

  • Syaahidan, sebagai saksi.

images (38)Hal ini memiliki makna bahwa seorang da’i  harus memaksimalkan kehadiran dan kebersamaan dengan obyek dakwah. Dari sinilah akan tumbuh kedekatan di antara kedua belah pihak. Adalah Rasulullah SAW begitu dekat dengan umatnya kala itu sehingga beliau menyebut mereka “para sahabatku”.

Artinya kehadiran beliau bersama umat sangat maksimal. Beliau tidak hanya menerima kedatangan mereka di rumah atau cukup bertemu mereka di masjid, akan tetapi seringkali pula beliau dengan antusias mendatangi undangan mereka, menyempatkan waktu berkunjung ke rumah mereka untuk sekedar bersilaturahim, menjenguk mereka yang sedang sakit, atau bertakziah jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.

Demikianlah semestinya seorang dai. Ia harus pula belajar untuk senantiasa hadir di tengah-tengah obyek dakwah, terus menunggu dan mengawal mereka. Sangat mungkin mereka bersimpati kepada dakwah bukan karena ceramah-ceramah, tetapi hati mereka tersentuh karena dikunjungi ketika sakit atau dibantu saat mengalami kesulitan.

  • Mubasyyiran, pemberi kabar gembira.

Dalam lanjutan ayat Allah memerintahkan kepada Rasulullah SAW:

وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا

“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman bahwa sesungguhnya bagi mereka ada anugerah besar dari Allah (semata).”[1]

images (37)

Adalah Rasulullah SAW banyak memberi kabar gembira kepada umat dengan pahala-pahala Allah berupa kenikmatan-kenikmatan surga. Selain itu, banyak pula beliau memberikan kesenangan dan kebahagiaan kepada mereka. Ada orang sakit yang disembuhkan, ada orang kelaparan yang dikenyangkan, ada orang susah yang diringankan, dan sebagainya.

Demikianlah semestinya seorang da’i. Setelah bisa aktif bersama obyek dakwah, ia harus pula berusaha menyenangkan mereka, dengan banyak berkhidmah, banyak memberi, dan banyak memberikan solusi. Ini semua akan mudah dilaksanakan apabila seorang da’i memiliki ketulusan dan kemurahan hati. Inti dakwah itu memberi, meski boleh menerima asalkan tidak menjadi target tujuan.

  • Nadziiran, pemberi peringatan.

Bukan hanya memuji kebaikan dan memberikan penghargaan atas prestasi yang diraih, Rasulullah SAW juga seringkali memberikan peringatan dan teguran apabila ada kesalahan. Ada Abu Dzar ra yang sampai disebut jahiliyyah, ada Muadz bin Jabal ra yang disebut tukang fitnah (fattaan), bahkan ada kejadian di mana Ummahatul Mukminin disebut oleh Rasulullah SAW sebagai melakukan perbuatan seperti para wanita yang berhasil memenjarakan Nabi Yusuf As. Ini semua menunjukkan bahwa kecintaan tidak boleh melalaikan prinsip pendidikan.

download (16)

Begitulah para dai. Ia harus memiliki hati yang teguh dalam berperan sebagai pendidik umat. Apabila terlihat ada kesalahan, ketidakadilan, atau sesuatu hal yang tidak ideal, maka ia harus tampil meluruskan kesemuanya. Ia tidak boleh tinggal diam. Diam terhadap kesalahan adalah kesalahan. Betapa Rasulullah SAW sangat marah ketika Usamah bin Zaid ra matur agar wanita mulia yang mencuri tidak dipotong tangannya. Beliau dengan tegas mengatakan: “Apakah kamu memberikan syafaat (untuk menggugurkan) had Allah?!” Selanjutnya beliau bangkit berkhutbah:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا ضَلَّ مَنْ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا سَرَقَ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ الضَّعِيْفُ فِيْهِمْ أَقَامُوْا عَلَيْهِ الـْحَدَّ…

“Hai manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tersesat adalah hanya karena jika seorang terhormat mencuri, maka mereka membiarkannya dan ketika orang lemah mencuri, maka mereka menegakkan hukuman atasnya…”[2]

  • Daa’iyan, penyeru kepada Allah dengan izin Allah.

images (39)Rasulullah SAW selalu menyeru umat agar meninggalkan kekafiran dan supaya Allah diesakan dan disembah. Tentu ini dengan izin Allah yang salah satu maknanya adalah menunggu dan mencari situasi dan kondisi yang tepat. Bukankah dakwah pada mulanya dilakukan dengan rahasia? Selanjutnya turun izin dari Allah untuk dilancarkan secara terang-terangan. Dan pada periode Madinah barulah turun izin dari Allah untuk melawan kekafiran dengan kekuatan senjata.

Seorang da’i perlu terus-menerus tak mengenal lelah dalam menyuarakan dan menyerukan ketaatan kepada Allah. Begitu pula halnya dengan keikhlasan beribadah kepada-Nya. Tentu hal ini dilakukan tidak hanya berbekal semangat, tetapi juga perlu dilengkapi dengan strategi dan perencanaan. Perlu mencari waktu dan kesempatan yang tepat untuk melakukan dakwah. Semua hal masing-masing memiliki saat-saat yang tepat. Semangat adalah sebuah keharusan, tetapi ketergesa-gesaan seringkali berbuah kegagalan dan penyesalan.

  • Siraajan Muniran, cahaya yang menerangi.

Rahmat-Cahaya-Ilahiah-2Rasulullah SAW adalah cahaya. Dakwah beliau adalah cahaya. Kitab suci beliau adalah cahaya. Beliau adalah cahaya bukan semata-mata karena wajah bercahaya, akan tetapi dalam konteks dakwah, beliau memang betul-betul seorang teladan bagi umat manusia dalam segala hal dan seluruh dimensi kehidupan. Memang beliau SAW dicetak oleh Allah sebagai figur panutan, uswah hasanah.

Jadi para da’i haruslah belajar untuk memberikan keteladanan kepada umat. Para da’i harus menjadi figur terdepan dalam kebaikan yang mereka ajarkan karena ketajaman dakwah sangat berbanding lurus dengan keteladanan. Semakin kuat keteladanan, maka semakin tajam pula dakwah. Tanpa mampu dilengkapi keteladan, dakwah hanya ibarat sebuah buku panduan. Tak ada kekuatan, dan tidak pula berdaya memperbaiki suasana.

Begitu berat memberikan keteladan terutama dalam hal-hal di mana kita sangat lemah di dalamnya. Oleh karena inilah, kita para da’i harus merutinkan do’a:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam (yang terdepan) bagi orang-orang yang bertakwa.[3]

Kelima prinsip di atas jika bisa terlaksana, maka insya Allah seorang da’i akan mendapatkan simpati. Ia akan dicintai oleh obyek dakwah sehingga dakwahnya mendapatkan kesuksesan.

=والله يتولي الجميع برعايته=

[1]Q.S. al-Ahzab: 47

[2]H.R. al-Bukhari no: 6406

[3]Q.S. al-Furqan: 74

images (36)