Manakala Anak Bertanya Tentang Hari Akhir

Oleh

 Masitha Achmad Syukri

Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

Saya masih teringat saat melihat film kiamat 2012 We Were Warnedbersama putra dan putri saya. Mata mereka menunjukkan kengerian dan atau ketakutan saat melihat film tersebut. “Ngeri, ya?” tanyaku pada mereka. Mereka hanya mengangguk, sedang mata mereka tetap melihat film tersebut hampir tanpa kedip. Aku senyum-senyum saja dan kemudian berkata, “Itu sih cuma film. Kiamat sebenarnya jauh lebih mengerikan dan tak seorang pun selamat darinya. Semua yang ada di alam semesta hancur lebur, tak ada yang tersisa. Yang ada satu-satunya hanyalah Allah.” Sesaat kemudian, terlihat ketegangan di wajah mereka mulai mereda.

Urgensi Mengajarkan Hal-Hal yang Ghaib kepada Anak

Di dalam Islam, jelas-jelas diajarkan bahwa kehidupan setelah dunia fana bukanlah hasil ramalan yang belum pasti kebenarannya,tetapi iamerupakankhabar shadiq atau wahyu yang kebenarannya harus kita yakini sepenuhnya. Hanya, karena masih akan terjadi, Kiamat bagi kita saat ini tentu masuk bagian yang ghaib alias tidak bisa ditangkap oleh panca indera akan wujudnya. Keimanan pada hal yang ghaib adalah sangat penting di dalam Islam. Bahkan, Allah menyebutkannya sebagai perkara pertama dalam keimanan seperti yang dimaktubkan pada firman Allah di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah (2) ayat 3-4 yang artinya:

  1. (yaitu) mereka yang berimankepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
  2. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitabyang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Seiring dengan perkembangan nalar anak, bisa jadi muncul dalam benak mereka apakah Kiamat benar-benar akan terjadi, seperti apa kedahsyatan kejadian hari akhir tersebut, serta bagaimana Allah membangkitkan manusia setelah semuanya hancur luluh, dan sebagainya. Memahami dan atau meyakini sesuatu yang tidak bisa diindra memang tidak cukup mudah untuk diajarkan pada anak yang  perkembangan kognisinya masih terbatas hanya pada kisaran atau ihwal yang bisa diindra. Akan tetapi, hal itu tidak berarti tidak mungkin untuk dilakukan.

Bagaimana Mengajarkan Iman kepada Hari Akhir?

 

Pertama, kita sampaikan tentang tanda-tanda datangnya hari akhir atau hari Kiamat baik tanda kecil maupun tanda besar. Tanda sangatlah penting agar kita bisa mengetahui dan mempersiapkan diri menghadapinya. Kehadiran Rasulullah sebagai penutup para nabi cukup menjadi tanda (tanda kecil) dekatnya kehadiran hari akhir. Selanjutnya, akan lebih baik jika ditambahkan dengan informasi atau data dari perkembangan ilmu pengetahuan yang menunjukkan kemungkinan terjadinya kehancuran alam semesta pada suatu hari nanti.

Kedua, kita jelaskan bahwa logika kejadian hari akhir adalah sama dengan logika akhir kehidupan pada diri seseorang, sedang hari akhir adalah akhir kehidupan alam semesta. Artinya, semuanya tidak abadi, ada kelahiran (awal kehidupan) dan ada pula kematian (akhir kehidupan). Yang abadi hanyalah Allah .

Ketiga, kita ajarkan bahwa Yang menciptakan seseorang dan alam semesta adalah Allah dan Yang mematikan seseorang dan alam semesta juga adalah Allah. Semua itu sangatlah mudah bagi Allah.

Keempat, kita tanamkan bahwa hari Kiamat adalah hari kebangkitan dan hari pembalasan. Sangatlah mudah bagi Allah membangkitkan semua makhluk dari matinya. Sangatlah besar kekuasaan Allah untuk meminta pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang dikerjakan hamba-Nya. Mengapa harus mempertanggungjawabkan? Jawabannya adalah bahwa sudah menjadi kehendakAllah untuk memberi balasan yang seadil-adilnya kepada seluruh hamba-Nya, baik untuk perbuatan baik maupun perbuatan buruk atau dosa. Inilah konsep keadilan dari Dzat Yang Maha Adil. Jadi, tentu tidak adil jika semua diperlakukan sama, yakni misalnya dengan dimasukkannya ke dalam surga semuanya, baik yang beriman maupun yang tidak beriman.

 

Kelima, kita beri kisah-kisah terkait hari akhir atau Hari Kebangkitan dan Hari Pembalasan, misalnya tentang ihwal yang terjadi pada Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 260 yang artinya

  1. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu.” (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Manfaat Mengajarkan kepada Anak tentang Iman kepada Hari Akhir

Dalam menanamkan nilai-nilai keimanan pada hari akhir, terdapat banyak manfaat yang bisa diperoleh, yakni antara lain:

  1. Menunjukkan kepada anak tentang kemahabesaran Allah dengan segenap kehendak-Nya untuk menciptakan ataupun membinasakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.
  2. Mengajarkan kepada anak bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa untuk menghidupkan dan mematikan dan menghidupkan kembali seluruh makhluk-
  3. Menunjukkan pada anak tentang ihwal kematian.
  4. Mengajak anak untuk menyiapkan diri menghadapi kematian.
  5. Mengajarkan pada anak tentang kehidupan yang abadi sesudah mati.
  6. Mengingatkan anak untuk menyiapkan diri mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan di Hari Kebangkitan nanti.

Dengan demikian, selayaknya kita siapkan anak-anak kita menjadi anak-anak yang cerdas, yakni anak yang paham tujuan hidupnya. Kehidupan di dunia adalah ibarat persinggahan sehingga perlu bekal yang banyak untuk menghadapi kehidupan yang abadi yang akan dialami sesudah kematian. Sabda Rasulullah bahwa seorang mukmin yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati. Kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut. Itulah orang yang paling cerdas. (H.R. Ibnu Majah, ath-Thabrani dan Al-Haitsami).

Wallahu a’lam bish-shawab.

[]