Masjid Agung Jami’ Singaraja

Masjid Agung Jami’ Singaraja

Masjid Bersejarah, Bukti Toleransi Umat Beragama

 

Oleh : Suharsono Syahputra

Mahasiswa UNESA dan santri pesma al-Midroor

Tempat manakah yang anda kunjungi pertama kali ketika berlibur ke Bali? Apakah Pantai Kuta? Pantai Sanur? Danau Bedugul, atau yang lainnya? Bali identik dengan wisata alamnya yang mengagumkan. Tapi tahukah Anda bahwa di sana juga terdapat wisata rohani Islami yang bersejarah?

Salah satunya adalah Masjid Agung Jami’ Singaraja.

doc. penulis

doc. penulis

Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan singkat ke Bali, tepatnya ke rumah paman di Kecamatan Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, dalam sebuah acara keluarga. Kesempatan itu saya gunakan sebaik mungkin untuk mengunjungi wisata alam dan menelusuri jejak Islam yang ada di sana.

Perkembangan Islam di Singaraja sendiri tergolong yang pesat dibanding daerah lain di Bali. Itulah sebabnya jika berkunjung ke Singaraja, Anda tidak akan kesulitan menemukan masjid atau mushalla.

Pukul 13.00 WITA, sinar matahari yang menyengat, mendorong saya untuk menghilangkan dahaga dengan membeli es kelapa muda di pesisir Pantai Lovina. Pantai yang terkenal dengan lumba-lumbanya, saat itu tengah ramai, mungkin karena hari itu adalah weekend jadi banyak yang menyegarkan diri dengan keindahan pantainya.

Sudah masuk waktu dhuhur. Setelah selesai menyegarkan tenggorokan, saya beranjak mencari masjid untuk shalat. Sekitar 15 menit kemudian saya sampai di Masjid Agung Jami’ Singaraja. Masjid ini terletak di Jl. Imam Bonjol 65, Singaraja. Untuk menuju tempat lokasi dapat ditempuh dengan mobil ataupun sepeda motor dalam waktu sekitar dua jam perjalanan dari Pelabuhan Gilimanuk.

doc. penulis

doc. penulis

Masjid Agung Jami’ Singaraja adalah masjid yang terbesar di Singaraja. Meskipun tidak sebesar masjid agung yang ada di Jawa, tetapi cukup untuk menampung ratusan jamaah pada waktu ibadah tertentu, misalnya shalat Jum’at atau shalat ‘Id. Masjid ini masih berdiri kokoh hingga saat ini dan merupakan pusat ke-Islaman di Bali.

Awalnya, masjid ini hanya berupa sekepat, yaitu sebuah tempat shalat khusus bagi para saudagar yang kebetulan lewat. Kemudian, sekepat yang terletak di Muara Tukad Buleleng ini, oleh Sunan Parapen, seorang penyebar Islam yang hendak pergi ke Lombok, diperbaiki, dibangun menjadi sebuah masjid dan dilanjutkan pembangunannya oleh Raja Buleleng.

Nuansa adat Bali terasa kental saat memasuki Masjid. Ukiran pada pintu gerbang Masjid menonjolkan ciri khas Bali. Seolah-olah gerbang tersebut ingin berkata “This is Bali” kepada setiap pengunjung. Pintu kayu berukir warna hijau di gerbang masjid merupakan pemberian Raja Buleleng A.A. Ngurah Ketut Jelantik Polong (putra dari A.A. Panji Sakti, Raja Buleleng I) yang notabene beragama Hindu. Beliau juga merupakan pendiri masjid tersebut pada tahun 1846 M. Untuk pengurus Masjid itu sendiri beliau serahkan kepada saudaranya yang beragama Islam, yaitu A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie dan Abdullah Maskati.

Masjid Agung Jami’ Singaraja menempati lahan seluas 1980 m2 dan dikelilingi pagar besi. Pintu masuk ke halaman masjid terdapat di sebelah timur merupakan hadiah dari raja Buleleng. Pintu tersebut adalah bekas pintu gerbang puri kerajaan Buleleng. Setelah masuk gerbang, saya melihat kesamaan masjid ini dengan masjid pada umumnya, yaitu atap Masjid berbentuk limasan dan kubah yang terlihat menawan di atasnya.

doc. penulis

doc. penulis

Di sebelah utara masjid terdapat ruang sekretariat berukuran sekitar 6,5×14,5m. Bangunan bertingkat dua yang terdiri dari ruang sekretariat di bagian atas dan tempat wudhu serta toilet di bagian bawah. Semilir angin menambah kesejukan saat saya masuk ke tempat wudhu.

Setelah selesai wudhu, saya masuk ke dalam masjid untuk shalat dhuhur dan ‘ashr secara jamak qashr. Saat berada di dalam masjid nuansa berubah, bisa jadi karena ukiran-ukiran di dinding yang sebagian besar adalah kaligrafi Arab. Di dalam masjid terpasang 4 TV LCD dan LCD projector, digunakan untuk membantu mempermudah penyampaian materi pengajian.

Doc. penulis

Doc. penulis

Pada bagian depan, terdapat mihrab dengan lengkungan di atas dan disangga oleh tiang persegi polos. Di dalam mihrab terdapat jam berdiri di sudut selatan dan mimbar yang merupakan hadiah dari raja Jelantik. Bentuk mimbar seperti meja. Di kiri-kanan mihrab terdapat dua jam dinding bulat. Perpaduan yang simetris dari keduanya membuat nyaman jika dipandang.

Di depan bangunan induk terdapat ruangan berbentuk bulat dengan pintu berbentuk persegi panjang. Bagian atasnya berbentuk segi delapan dan terdapat ruangan dengan lubang angin pada setiap segi tersebut. Saya penasaran dengan apa yang ada di dalam ruangan tersebut, saya memutuskan untuk mencari Takmir masjid. Sayang sekali, ternyata pada saat itu takmir masjid sedang tidak ada di tempat sehingga rasa penasaran saya tidak terbayar.

Keluar dari masjid, saya melihat satu ruangan yang dipergunakan sebagai aula berukuran sekitar 8 × 10,5 m. Ruangan bertingkat dua yang dipergunakan sebagai aula dan perpustakaan pada bagian bawah, sedang bagian atas dipergunakan sebagai tempat pendidikan anak-anak (Madrasah Diniyah Awaliah).

 

Salah satu keistimewaan yang ada di masjid Agung Jami’ Singaraja ini adalah adanya al-Qur’an tulisan tangan yang ditemukan tahun 1956 hasil karya A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie.

Sikap saling menghormati antar umat beragama tampak pada saat Tahun Baru Saka atau Nyepi. Hal ini didasarkan pada surat edaran Gubernur Bali Nomor : 003.1/5390/BKD tertanggal 16 Oktober 2014 tentang hari libur nasional, Cuti bersama, dan dispensasi Hari Raya Suci Hindu di Bali tahun 2015. Dalam surat edaran tersebut terdapat butir-butir kesepakatan untuk menjaga ketertiban, kenyamanan, dan kerukunan antar umat beragama. Salah satu butir kesepakatan tersebut adalah pada saat Hari Raya Nyepi, bagi umat selain umat Hindu diperbolehkan melaksanakan ibadah seperti biasa. Asalkan mencari tempat ibadah yang dekat dengan rumahnya dan tidak menggunakan pengeras suara, baik speaker, bedug, ataupun lonceng.

doc. penulis

doc. penulis

Sebelum membaca surat edaran tersebut saya sempat berpikir bagaimana nasib umat Islam di Bali pada saat Hari Raya Nyepi. Pasalnya pada saat hari raya tersebut, aktivitas di Bali bisa dibilang mati dan adanya keamanan yang ketat bagi siapa saja yang melakukan aktivitas di luar rumah. Tetapi setelah membaca surat edaran tersebut, ternyata masih ada dispensasi bagi yang beragama lain. Sungguh merupakan awal yang baik bagi perkembangan Islam di sana.

 

***

Setelah selesai shalat dan berkeliling masjid, saya menyempatkan diri untuk mengabadikan berbagai momen dengan jeprat-jepret kamera digital. Saya akhirnya kembali ke rumah paman. Semoga toleransi antar umat beragama di sini tetap terjalin, dan perkembangan umat Islam di bali semakin pesat. Amiin.

Wallahu’alam.