Masjid Amirul Mukminin

Masjid Amirul Mukminin

Masjid Apung di Tepi Losari

Oleh : Nuri Hermawan

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga,

Santri Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah

www.travelmatekamu.com

www.travelmatekamu.com

Hening subuh masih mengembun bersama keteduhannya. Seruan Adzan telah terdengar berkumandang di langit kota Surabaya. Sujud wajib dalam subuhku pun telah tertunaikan. Alhamudillah, lengkap rasanya saat tirai iman telah dibuka untuk mengawali permulaan hidup. Pagi itu, tepatnya awal bulan Oktober 2014. Bersama seorang kawan, aku mengawali pagi menuju Bandar Udara Internasional (Bandara) Juanda Surabaya. Selanjutnya terbang menuju Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar. Dalam rangka mengikuti presentasi karya ilmiah di Universitas Negeri Makassar, salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia timur. Sebagai perwakilan dari Universitas Airlangga, kami juga diharuskan mempresentasikan karya ilmiah kami. Selesai menjalankan tugas, seperti biasanya, tak lengkap rasanya apabila berkunjung ke sebuah kota tanpa melihat tempat-tempat terkenal di kota tersebut.

Terik matahari di bumi Sulawesi cukup menyengat siang itu. Seluruh rangkaian acara telah kami ikuti, presentasi kami sebagai perwakilan dari Unair pun telah kami laksanakan. Lantas, kami pun berencana untuk sekedar jalan-jalan melepas penat menyusuri keramaian kota Makassar. Dari kampus yang berada di pusat kota yang dahulu bernama Ujung Pandang ini, kami ramai-ramai berjalan kaki. Tanpa terasa, kami pun sampai di sebuah kawasan pantai, sebuah obyek wisata bahari terkenal di kota tesebut. Tidak seperti di Surabaya yang ada tiket masuk ke lokasi wisata, di Losari ini, Anda dapat masuk kawasan wisata dengan gratis. Angin pantai sore hari berhembus lembut. Mengingatkan aku akan lagu Anging Mamiri, lagu daerah dari Makassar yang selalu dihapalkan anak sekolah.

doc. nuri

doc. nuri

Pantai Losari, pantai legendaris dalam panggung sejarah nusantara. Ia menjadi pusat ekonomi masyarakat sejak abad XVI. Sebagai pusat kegiatan masyarakat Makassar dan Bugis yang berjiwa bahari, laut adalah sumber mata pencaharian. Hidup mereka didedikasikan untuk berlayar menjelajah samudera. Dari jiwa seperti inilah tercipta pepatah Bugis yang sangat terkenal; “Sampai sebelum berlayar.” Sebuah pepatah yang bermakna bahwa hidup harus mempunyai tujuan yang jauh ke depan melampui usia.

Benteng Fort Rotterdam yang menjadi saksi bisu kolonialisme asing di bumi nusantara, berdiri angkuh tak jauh dari pantai. Kami pun menyempatkan diri untuk mengabadikan momen di benteng peninggalan abad XVII tersebut. Puas berjalan-jalan di tepi pantai, kami pun coba beristirahat sejenak. Kami pun duduk sambil memandang lautan lepas. Ada sebuah obyek yang membuat kami sangat ingin melihatnya dari dekat. Sebuah masjid di atas laut, dengan kubah biru menjulang dan menara kembar berdiri serasi diatas laut. Kami pun menghampirinya.

Orang Makassar menyebutnya Masjid Amirul Mukminin. Kehadirannya di tepi Pantai Losari menambah keindahan kota. Masjid yang mulai dibangun pada Mei 2009 ini tidak sekedar menjadi tempat ibadah saja. Pemerintah setempat membangunnya juga bertujuan mempercantik landmark Kota Makassar dan menegaskan bahwa identitas orang Makassar dan Bugis adalah Islam. Sejenak anganku melayang teringat akan para pahlawan Bugis seperti Sultan Hasanuddin, seorang sultan yang berjuang untuk agama dan bangsanya. Begitu pula dengan Syekh Yusuf, seorang ulama yang gigih melawan penjajah yang membuat dirinya diasingkan ke benua Afrika. Serta ribuan pahlawan Bugis yang membantu perjuangan melawan penjajah di bumi Jawa, Sumatra, Maluku, Kalimantan. Di manapun ada koloni Bugis, di situ mereka pasti berdiri menantang penjajah.

doc. nuri

doc. nuri

Ada beberapa hal yang unik dari masjid ini, di antaranya bahwa masjid yang digagas oleh Walikota Makassar tersebut juga mempunyai nama lain, yakni Masjid 99 Al-Makazzary yang melambangkan perpaduan 99 Nama Allah dengan nama kota Makassar. Sisi lain dari keunikan masjid yang mampu menampung lebih dari 400 jamaah ini adalah segi arsitektur. Pada sisi-sisi masjid terdapat beberapa tangga yang menjalar serta menjulang hingga ke lantai 3, di mana atap dan kubah masjid berada. Di tangga inilah para jamaah yang akan ataupun yang telah selesai melaksanakan shalat, bisa melihat langsung laut lepas dan pesona pantai. Ketiga lantai yang ada juga memiliki fungsi yang berbeda. Pada lantai yang paling atas digunakan sebagai tempat khusus bagi yang ingin melaksanakan shalat sendiri agar lebih khusyuk. Lantai kedua dipergunakan khusus untuk jamaah wanita dan lantai pertama untuk shalat jamaah pria. Dari ketiga lantai tersebut ruangan didesain sedemikian rupa, seperti jendela kaca yang membuat ruangan terlihat terang karena pantulan sinar matahari. Angin laut dengan mudah menerobos lubang-lubang jendela kaca sehingga suasana segar selalu terasa.

Masjid ini dibangun dengan arsitektur yang rumit namun tetap terlihat sederhana dan cantik. Apalagi ketika ia berdiri sendiri di tengah laut. Perpaduan nilai religiusitas dengan keindahan yang dikemas dalam satu tempat ini menjadi kenikmatan tersendiri bagi para jamaah yang sedang beribadah. Kenikmatan itu dapat dijadikan sebagai media untuk senantiasa bersyukur dan bertafakur akan kebesaran-Nya.

Suasana yang paling berkesan di Masjid ini adalah saat waktu senja menjelang Maghrib. Pada saat para pedagang pisang bakar mulai menjajakan dagangannya di sepanjang pantai dan saat matahari menuju peraduannya di ufuk barat, suasana sunset yang menjadi favorit jama’ah masjid dan pengunjung pantai lainnya. Selain itu, Anging mamiri yang berhembus ke dalam masjid sungguh menjadi perpaduan antara alam dan nalar manusia untuk senantiasa berpikir dan berdzikir atas segala nikmat dari setiap pergantian waktu dalam setiap hidupnya.

Alhamdulillah, sempurna rasanya saat sujud telah tertunaikan, lelah telah lenyap bersama teduhnya ibadah di Masjid Amirul Mukminin ini. Kini langkah kami mulai kembali menyusuri keramaian kota untuk meneruskan perjalanan yang terhenti sejenak sembari menunaikan kewajiban di Rumah Allah yang membentang agung dalam kesederhanaan di tepi laut-Nya yang begitu mempesona.

[]