Masjid Kuno Nggembong — Replika Masjid Nabawi di Makkah

Binti Masruroh

Binti Masruroh

Oleh: Binti Q. Masruroh

Mahasiswi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UNAIR

 

 

 

 

Masjid Kuno Nggembong
doc. Binti

doc. Binti

Setiap masjid dibangun sebagai tempat beribadah dan untuk mendekatkan diri kepada Allah I. Namun, setiap masjid pasti memiliki ciri dan sejarahnya sendiri. Bisa jadi, riwayat hidup dan jalan pemikiran pembangunnya akan mempengaruhi bagaimana bentuk detil masjid serta ritual-ritual yang dilakukan di dalamnya. Apalagi jika masjid itu telah berdiri pada saat belum banyak masjid seperti zaman modern saat ini. Seperti halnya dengan masjid kuno yang terletak di Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar ini.

Masjid kuno ini kira-kira telah ada sejak tahun 1901. Terletak di Kabupaten Blitar bagian utara, berbatasan dengan Kediri dan Tulungagung. Tepatnya di Dusun Nggembong, Desa Temenggungan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Orang pertama yang menemukan dan merawat masjid ini ialah mbah Abdullah Islam bin Khalifah bin Nur Khandab. Mbah Nur Khandab yang merupakan kakek dari Mbah Abdullah masih merupakan prajurit dari Pangeran Diponegoro. Ketika itu beliau tinggal di daerah Mojo, sebelah barat Pesantren Ploso.

Masjid ini tergolong tua dan kuno. Bagian depan masjid merupakan bangunan baru yang telah mengalami renovasi. Namun jika memasuki bagian dalam dan luar masjid bagian belakang, akan tampak bahwa masjid ini memang tergolong tua dan kuno. Dilihat dari arsitektur pembuatannya, bentuk masjid ini hampir mirip dengan Masjid Nabawi yang ada di Madinah. Hanya saja didesain secara sederhana, tidak semegah masjid Nabawi, dan dari segi ukuran, tergolong kecil. Seperti halnya masjid Nabawi, terdapat empat menara yang mengelilingi masjid. Selain itu, pada setiap menara terdapat sumber air berupa sumur yang terus mengalir dan tak pernah kering.

doc. Binti

doc. Binti

Narasumber yang penulis temui ialah Bapak Abdul Rokhim Asnawi, yang merupakan cucu dari Mbah Abdullah. Menurut cerita, mbah Abdullah merupakan seorang wali, yang memiliki banyak karomah. Mbah Abdullah juga seorang mursyid, guru tarekat sufi. Hal ini tercermin pada arsitektur bangunan masjid. Hampir di seluruh bagian masjid terdapat lafadz Allah tanpa alif, sehingga terbaca “lillah”. Lafadz tersebut terukir baik di kusen-kusennya, daun pintu, daun jendela, bahkan pilar, reng dan usuk-usuknya. Lafadz tersebut diukir dengan lembut dan sangat kecil-kecil, pada kayu-kayu yang merupakan kayu jati pilihan. Dalam ajaran seorang sufi, lafadz ‘lillah’ merupakan bentuk taslim (kepasrahan) kepada sang Khaliq. Dari lafadz tersebut diperoleh pelajaran bahwa seorang manusia baru akan bermakna ketika ada Allah I yang menggenapkan jiwanya.

Menurut penuturan warga sekitar, masjid ini muncul begitu saja ketika pembabatan alas pada zaman penjajahan Belanda. Itu yang kemudian menyebabkan beberapa orang menyebutnya sebagai Masjid Tiban. Sesungguhnya nama masjid saat ini adalah Baitul Mukminin. Hanya saja ini adalah penamaan baru. Bukan penamaan sejak dulu ketika Mbah Abdullah masih hidup.

doc. Binti

doc. Binti

Ajaran dari Mbah Abdullah yang dulu diterapkan di masjid ini untuk para santri dan jamaah yaitu siapapun yang akan masuk masjid harus mengambil air dengan menimba di sumur terlebih dahulu. Kemudian berwudlu sebanyak 4 kali di setiap sumur yang mengelilingi masjid. Setelah wudlu dan bersih diri selesai, kemudian masuk ke dalam masjid dan memutari masjid. Gerakan keliling dilakukan di dalam masjid, yaitu dengan mengelilingi tangga yang terdapat pada bangunan inti masjid. Di atas tangga tepatnya pada langit-langit, terdapat semacam ublik atau penerangan yang menggunakan sumbu dan minyak. Dari situlah ajaran untuk tabaruk atau mendekatkan diri kepada Allah I dibiasakan oleh mbah Abdullah kepada para santri dan jamaahnya.

Menurut cerita, Mbah Abdullah tergolong ulama yang pemberani ketika itu. Dulu ketika zaman penjajahan Jepang, beliau sering melakukan perlawanan. Hingga sempat dipenjarakan oleh penjajah Jepang di Kediri bersama dengan ulama-ulama dari daerah lain. Mbah Abdullah diyakini sebagai seorang wali oleh masyarakat. Hal tersebut bukan tanpa sebab. Pernah suatu ketika ada seorang Kyai dari Tulungagung yang ingin sowan menemui Mbah Abdullah di Blitar. Dalam perjalanannya dengan menggunakan bendi, kyai tersebut bertemu dengan Mbah Abdullah sedang berjalan kaki. Di tempat lain sebelum memasuki wilayah Blitar, beliau bertemu lagi dengan mbah Abdullah, masih dengan berjalan kaki. Sesampainya di kediaman Mbah Abdullah, ternyata Mbah Abdullah telah berada di rumah dan tidak ada tanda-tanda baru saja melakukan perjalanan jauh. Itu hanyalah sebagian contoh kecil perihal karomah yang dimiliki salah satu ulama kharismatik dari daerah Udanawu tersebut.

doc. Binti

doc. Binti

Saat ini, pada bagian inti masjid yang terdapat tangga yang dulunya dipergunakan untuk tawaf, disemayamkan makam Mbah Abdullah dan makam kedua putranya, yaitu Muhammad Maksum dan Sulaiman Zuhdi. Tempat ini sering dipergunakan untuk ziarah. Sedangkan terletak di luar, yaitu di sebelah selatan masjid, terdapat makam para menantu dan santri. Sampai saat ini, banyak peziarah yang datang, bukan hanya dari daerah Blitar namun juga dari luar daerah. Meskipun demikian, belum ada wacana dari pemilik waris maupun pemerintah setempat untuk menjadikan masjid ini sebagai salah satu wisata religi.

Meskipun tergolong masjid kuno, masjid ini tidak sepi kegiatan. Selain perayaan hari-hari besar dalam Islam yang rutin diperingati, masjid ini memiliki rutinitas setiap satu bulan sekali, yaitu setiap malam Selasa Kliwon, khususiyah bagi pengikut tarekat dari Mbah Abdullah. Yang datang adalah warga masyarakat yang merupakan jamaah dari mbah Abdullah.

Menurut penuturan Bapak Abdul Rokhim yang didapat dari almarhum sang ayah, terdapat wasiat yang ditinggalkan Mbah Abdullah terkait kelangsungan pembangunan masjid, yaitu jangan pernah meminta sumbangan untuk pembangunan masjid ini. Meminta tersebut dalam artian meminta-minta secara langsung. Namun jika terdapat orang yang memberi sumbangan bersifat sukarela, itu sudah beda lagi. Sah dan boleh-boleh saja. Itu wasiat yang hingga kini masih dipegang oleh bapak Abdul Rokhim.

***