Melatih Diri Menjadi Khalifah

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah SWT berfirman:

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

 “…Musa menyatakan,’ Patutkah aku mencari Tuhan untuk kalian selain Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat …” (QS. Al-A’raaf: 140)

ANALISA AYAT

Kita bangsa manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai Khalifah di muka bumi seharusnya mengendalikan segala yang ada dalam kehidupan ini. Bukan malah sebaliknya, segala yang ada yang berupa harta benda, pangkat, dan jabatan itu justru mempermainkan, menyita sebagian besar atau bahkan menghabiskan waktu dan usia kita.

Oleh karena itulah, perlu berlatih agar memiliki hati yang bersih, mental yang kuat, dan jiwa yang tangguh sehingga bisa mengendalikan diri yang akhirnya memiliki kemampuan menundukkan semua yang ada; baik harta benda, ilmu pengetahuan, pangkat dan jabatan untuk kemudian dijadikan sebagai sarana meraih pahala sebanyak-banyaknya di sisi Allah SWT. Tuhan kita hanyalah Allah, kita hanya mengabdi kepada-Nya, bukan mengabdi kepada segala sesuatu selain Allah, apapun bentuknya, sebagaimana pernyataan Nabi Musa As ini.

Di antara latihan yang dimaksudkan dan diwajibkan oleh Allah SWT adalah kewajiban berpuasa Ramadhan, serta umumnya berpuasa sunnah seperti enam hari pada bulan Syawwal, puasa Arafah, Asyura’, puasa Daud, puasa Senin-Kamis dan tiga hari setiap bulan. Jadi puasa bukan terbatas pada masalah pahala dan kegembiraan hati saat telah berhasil menjalankannya. Akan tetapi ada sekian banyak hikmah dan tujuan, yang di antaranya adalah bahwa puasa melatih kita menjadi manusia yang sehat secara fisik dan memiliki mental yang kuat sehingga tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang tidak pernah berujung di mana pada saat satu keinginan tercapai, maka justru muncul berbagai macam keinginan lainnya.

Ketika puasa telah menjadi tradisi kehidupan, maka kita, manusia, benar-benar akan menuhankan Allah, secara utuh menjadi khalifah di muka bumi, dan tidak akan terjerat atau terseret oleh hawa nafsu, di mana secara nyata hal ini bisa disaksikan dalam perilaku:

  1. Sebagai orang yang berilmu, maka kita berusaha menghiasi diri kita dengan sifat tawadhu’, sadar betul bahwa ilmu kita sangatlah sedikit, masih terlalu banyak orang yang jauh lebih pandai dan luas ilmunya daripada kita. Kita berusaha menyebarluaskan ilmu dengan berbagai macam cara yang disiapkan oleh Allah semata hanya berharap pahala dari Allah SWT.
  2. Sebagai seorang pejabat atau pemegang kebijakan, maka kita memanfaatkan betul untuk menyebarluaskan keadilan, menghukum orang yang zhalim dan membela pihak yang dizhalimi, memberantas kemaksiatan, serta merintis budaya dan tradisi kebaikan. Bukan malah memanfaatkan jabatan dan kekuasaan sebagai jalan mendapatkan keuntungan dan kepuasan pribadi.

Kekuasaan dan jabatan adalah kesempatan emas melaksanakan bimbingan Rasulullah SAW:

اُنْصُرْ أخَاكَ ظالِمًا أوْ مَظْلُوْمً

“Tolonglah saudaramu baik saat ia berbuat zhalim atau saat dizhalimi!”

Para sahabat bertanya:”Wahai rasulullah, saya menolong orang ini karena ia terzhalimi, lalu bagaimana saya menolongnya saat ia berbuat zhalim!?” Rasulullah SAW bersabda:”Kamu memegang kedua tangannya (agar tidak berbuat zhalim)!”

  1. Sebagai orang yang diberikan keluasan harta benda kita harus:

Pertama: Mengeluarkan zakat sesuai hitungan nishabnya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Barang siapa mengeluarkan zakat hartanya, maka sungguh telah hilang darinya keburukan harta tersebut.”

Beliau juga bersabda:

حَصِّنُوْا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ وَدَاوُوْا مَرْضَاكُمْ باِلصَّدَقَةِ وَاسْتَقْبِلُوْا أَمْوَاجَ الْبَلاَءِ بِالدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ

 “Jagalah harta benda kalian (dari kehancuran) dengan (mengeluarkan) zakat, obatlah orang sakit kalian dengan sedekah dan sambutlah badai bencana dengan doa dan tadharru.”

Kedua: Menggunakan harta benda kita untuk kepentingan perjuangan menghidupkan dan mengembangkan agama Allah, membantu orang yang lemah secara ekonomi, orang yang sedang ditimpa kesulitan, menyantuni janda miskin, anak-anak yatim, menyambung sanak kerabat dan lain sebagainya.

Seorang lelaki kaya raya pernah mendatangi Rasulullah SAW. Ia bertanya:”Wahai Rasulullah, apa yang saya lakukan, bagaimanakah caranya membelanjakan harta benda ini?”.  Rasulullah SAW bersabda:” Kamu mengeluarkan zakatnya …, kamu pergunakan menyambung sanak kerabat, kamu mengerti hak orang miskin, hak tetangga, dan hak orang yang meminta-minta.” (H.R. Ahmad).

Semua hal ini perlu dilakukan karena Rasulullah SAW menyatakan:

إِنَّ فِى الْمَالِ لَحَقًّا سِوَى الزَّكَاةِ

 “Selain zakat, sesungguhnya dalam harta benda ada hak (yang harus dikeluarkan).”

Sebagai orang berilmu, berkuasa atau berharta, apabila bisa menggunakan semua anugerah dari Allah ini demi menolong, membantu kesulitan orang lain, dan untuk menyenangkan orang lain, maka insya Allah kita termasuk orang-orang yang mendapat jaminan pertolongan dari Allah: “Allah selalu menolong seorang hamba selama hamba mau menolong saudaranya.”

Juga jaminan keamanan dari segala siksaan sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ للهِ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ يَفْزَعُ النَّاسُ فىِ حَوَائِجِهِمْ أُولَئِكَ اْلآمِنُوْنَ مِنْ عَذَابِ اللهِ

 “Sesungguhnya Allah memiliki makhluk yang Dia menciptakan mereka untuk kepentingan hajat manusia; apabila membutuhkan, maka manusia meminta bantuan kepada mereka. Merekalah orang-orang yang aman sentosa dari azab Allah.”

Sebaliknya orang-orang yang yang diberikan oleh Allah keluasan ilmu, kekuasaan, dan harta benda ketika mereka merasa enggan memberikan bimbingan, merasa bosan memberikan pelayanan, ogah dimintai partisipasi dan bantuan, maka mereka berada dalam bahaya dicabutnya nikmat tersebut dari tangan mereka. Rasulullah SAW memberikan peringatan:

إِنَّ للهِ عِنْدَ أَقْوَامٍ نِعَمًا أَقَرَّهَا عِنْدَهُمْ مَا كَانُوْا فِى حَوَائِجِ الْمُسْلِمِيْنَ مَالـَمْ يَمَلُّوْهُمْ فَإِذَا مَلُّوْهُمْ نَقَلَهَا إِلَى غَيْرِهِمْ

 “Sesungguhnya Allah memiliki sekian banyak nikmat yang diletakkan oleh-Nya pada suatu kaum selama mereka berada (dan mau membantu) kebutuhan kaum muslimin, selama mereka tidak merasa bosan. (Akan tetapi jika kemudian) mereka merasa bosan, niscaya Allah akan memindahkan nikmat-nikmat tersebut kepada orang selain mereka.”

Jika puasa sebagai amal yang mengajarkan dan melatih keikhlasan, maka upaya pengabdian dan mendarmabaktikan ilmu pengetahuan, jabatan, dan kekayaan kepada sesama manusia, juga semestinya dilandasi oleh hati yang tulus tanpa pamrih, tidak berharap ada balasan, dan juga bukan karena membalas jasa kebaikan orang lain. Semua harus dilakukan semata-mata mencari keridhaan Allah. Dengan demikian, kita akan mendapatkan pahala yang sangat memuaskan dari Allah. Sebagaimana puasa yang secara khusus Allah sendiri yang akan memberikan pahala-Nya, sehingga kita pun berbahagia karenanya. Allah berfirman:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى. الَّذِى يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى. وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزَى .إِلاَّ ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى. وَلَسَوْفَ يَرْضَى

 “Dan kelak orang yang paling bertaqwa akan dijauhkan darinya (neraka); yaitu orang yang memberikan hartanya untuk membersihkannya, padahal tak ada seorang pun yang memberikan nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, (tetapi ia memberikan itu semua) semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi, dan kelak ia akan benar-benar mendapatkan kepuasan.”

  1.  H.R. Al-Bukhari no: 2444 dari Anas
  2.  H.R. Ath-Thabarani, Ibnu Khuzaimah
  3.  H.R. Abu Dawud dalam Al-Maraasil
  4.  H.R. At-Turmudzi/lihat Al-Jami’ As-Shaghir no: 2333
  5.  Muttafaq alaih
  6.  H.R. Ath-Thabarani
  7.  H.R. Ath-Thabarani
  8.  Q.S. Al-Lail: 17-21

download (20)

( Penulis KH. M. Ihya Ulumiddin, Ketua Umum Hai’ah Ash Shofwah Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang)