Melengkapi Doa Untuk Suami

Masitha Achmad Syukri

Oleh:Masitha Achmad Syukri

Dosen Universitas Airlangga – Fakultas Ilmu Budaya

Hari itu, terdapat lima pesan atau ‘curhat’ yang diterima Adinda (bukan nama sebenarnya) di WhatsApp-nya. Tidak biasanya dia menerima lima pesan sekaligus pada saat yang hampir bersamaan seperti itu.

Pesan 1

“Bu Adin, maaf curhat nih. Saya semakin sedih dengan perilaku suami saya, terutama dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Kian hari kian pelit. Anak-anak sering tidak diberi uang saku. Untuk memberi uang buat pengemis saja dia bilang ‘Gimana akan bisa kaya kalau terus beri pengemis uang’. Bahkan untuk membeli oleh-oleh buat orangtuanya sendiri dia tidak mau memberi sepeser pun uang untuk itu. Baginya, datang saja sudah cukup dan itupun dia sudah mengeluarkan uang bensin. Ya Allah, saya tidak tahu kenapa dia begitu. Tapi, Alhamdulillah karena saya bekerja (atas ijinnya lho Bu) saya bisa menutupi kekurangan belanja keluarga, beri uang saku buat anak, dan kirim buat ibu saya dan ibu mertua walau ndak banyak. Itupun suami saya tahu. Tapi, lama-lama saya capek juga, ya capek kerja, ya capek dengan sikap suami. Ingin sekali-kali saya diberikan baju atau bedak oleh suami, tapi sepertinya tidak mungkin. Bu Adin ada saran buat saya?”

Pesan 2

“Aku gemes betul sama suamiku, Mbak. Seharian kutunggu kedatangannya dari kantor. Tapi, begitu sampai di rumah, rasanya dia juga gak punya banyak waktu buatku. Jadwal rutinnya, datang, mandi, makan, nonton TV, buka HP atau buka laptop, trus tidur. Padahal, anak-anak kangen juga pingin bersenda-gurau seperti dulu sebelum dia diangkat menjadi manager di perusahaan tempat dia bekerja. Alhamdulilah secara ekonomi, kondisi kami membaik. Tapi, kami sekarang juga merasa kehilangan saat-saat hangat bersama dia. Menurut Mbak, apa yang seharusnya kami lakukan?”

doc. youtube.com

doc. youtube.com

Pesan 3

“Mbak, banyak yang mengakui bahwa suamiku adalah sosok yang low profile. Tapi, karena begitu low profile, banyak pula yang menganggap dia tidak mempunyai kecakapan sehingga banyak pula yang memandangnya sebelah mata. Bahkan, tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk menarik simpati di hadapan atasan. Misalnya, rekan-rekannya itu mengatakan bahwa merekalah yang telah mengerjakan ‘pekerjaan itu’ sehingga merekalah yang sering dipromosikan dan bukan suamiku yang sesungguhnya telah mengerjakan pekerjaan tersebut. Pernah kuminta dia terus terang kepada atasannya, tapi dia bilang ‘Sudahlah, yang di langit gak tidur kok’. Lama-lama aku khawatir Mbak, jangan-jangan entar dia dianggap tidak memiliki kinerja yang bagus oleh atasannya. Ada saran Mbak Adinda buat aku?”

Pesan 4

“Sejak gagal mempertahankan bisnisnya setahun yang lalu, suami jadi kurang termotivasi dan bahkan kurang percaya diri. Saya sering bicara dengannya tuk bangkit kembali. Tapi karena tuntutan kebutuhan keluarga, saya akhirnya minta ijin padanya untuk bekerja. Tapi, dia tidak mengijinkan. Lantas saya usulkan buka usaha di rumah, dia juga tidak berkenan. Saya jadi bingung. Sementara hutang kian menumpuk. Barang sudah banyak yang kami jual. Bagaimana ya bu Adin, saya harus berbuat apalagi?”

Pesan 5

“Suami saya sebenarnya orang yang baik, sayang pada istri dan anak-anaknya. Tapi, setiap saya minta ijin untuk ikut pengajian atau taklim, dia tidak mengijinkan saya. Saya ajak datang bersama atau juga dengan anak-anak pun dia tidak pernah mau dan tidak mengijinkan pula. Bagaimana ya Bu, padahal saya ingin sekali mencari ilmu. Saya jenuh dengan pekerjaan di rumah. Ingin sesekali saya hadir di majelis ilmu seperti yang saya lakukan ketika kuliah dulu. Betapa bahagianya saya, jika bisa menghadirinya dengan suami dan anak-anak pula. Mohon saran Bu Adinda.”

Yang ada di dalam pesan-pesan itu bisa jadi dialami juga oleh para ibu atau istri yang lain. Adinda jadi belajar banyak karenanya dan semakin bersyukur pula atas nikmat Allah kepadanya dan keluarganya. Suaminya penuh pengertian dalam suka dan duka. Anak-anaknya pun dapat memahami kondisinya di kala senang maupun susah. Ada saat senyum bahagia ataupun getir, ada pula saat tangis haru ataupun galau. Adinda begitu yakin akan pertolongan Allah kepadanya dan keluarganya selama dia juga selalu berusaha untuk menolong agama Allah.

Kepada para ibu dan atau istri tersebut, Adinda sampaikan bahwa:

Pertama, keimanan seseorang pasti diuji oleh Allah sehingga jika lulus ujian, in-syaAllah derajatnya akan naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Kedua, jangan biarkan hati tenggelam dalam perasaan seolah tertimpa musibah yang paling parah. Bisa jadi ada keluarga-keluarga lain yang lebih susah lagi karena problem mereka.

Ketiga, ujian Allah pada hamba-hamba-Nya adalah ujian yang sesuai dengan kadar kekuatan hamba yang diuji sehingga dengan bekal iman dan taqwa kepada Allah, seseorang pasti bisa melalui ujian tersebut.

Keempat, yakinlah selalu bahwa setiap ada masalah pasti ada solusinya. Allah menjanjikan bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.

Kelima, basahi selalu lidah dengan dzikir mengingat Allah, mensyukuri nikmat-Nya dan memperbagus amal ibadah kepada-Nya.

Keenam, yang paling berhak atas diri seorang perempuan yang sudah menikah adalah suaminya. Jadi, berusahalah untuk selalu mendapatkan kerelaan hatinya.

Ketujuh, para istri harus aktif pula membangun komunikasi yang baik dengan suami dan anak, yakni pandai-pandai mencari waktu yang tepat dan bahasa yang tepat pula untuk berkomunikasi dalam mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

Terakhir Adinda menulis:

“Hanya saja, seandainya yang hendak dikomunikasikan tidak selalu dapat dikatakan atau yang sudah dikomunikasikan tetap tak terselesaikan atau justru menimbulkan prahara lain, saat itulah kita pasrahkan segalanya kepada Allah Yang Maha Kasih Sayang, Maha Lembut dan Maha Kuat. Dengan itu, in-syaAllah, akan selalu dibuka oleh-Nya pintu-pintu rizki dan kemudahan yang tak pernah disangka sebelumnya. Lantunkan dan lengkapi doa kita tuk suami kita pada saat sujud terakhir di shalat-shalat kita.”

Ya Allah,

Kumohon dengan kasih sayang-Mu,

Ampunilah suamiku,

Sayangilah dia,

Tinggikan derajatnya,

Berilah dia rizki yang berkah, dan

Bukakan pintu-pintu ilmu-Mu untuknya.

 

Wallahu a’lam.

[]