Membangun dan Melestarikan Ukhuwwah

Membangun dan Melestarikan Ukhuwwah
Ukhuwah -- Membangun dan Melestarikan Ukhuwwah

bocahsederhana.wordpress.com

 

Oleh: KH. M. Ihya Ulumiddin

Ketua Umum Hai’ah Ash Shofwah Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang

alwasath.blogspot.com

 

إِنمَّالْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu saudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kalian.” (Q.S. al-Hujurat: 10)

Analisa Ayat

Dalam pandangan Islam, seluruh umat manusia yang memiliki kesatuan agama dan keyakinan Tauhid adalah bersaudara. Jadi ketika gedung persaudaraan belum terbangun, maka setiap inidividu wajib membangun dan melestarikannya. Demikian pesan yang bisa kita ambil dari ayat di atas. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam sendiri dalam banyak sabdanya seringkali mengingatkan kepada manusia yang telah menyatakan diri beriman agar mereka senantiasa menciptakan dan mempererat tali persaudaraan. Dalam satu hadits disebutkan:

إِنَّ الْمُؤْمِـنَ مِنْ أَهْلِ اْلإِيْمَانِ  بِـمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ يَـأْلَمُ الْمُؤْمِنُ  لِأَهْلِ اْلإِيْمَاِن كَمَا يَأْلمُ الْجَسَدُ لِمَافِي الرَّأْسِ

“Sesungguhnya seorang yang beriman itu laksana kepala bagi tubuh setiap mukmin (yang lain ). Di mana mereka juga turut merasakan sakit jika saudara seiman sakit, sebagaimana tubuh yang lain merasakan sakit ketika kepala terjangkit rasa sakit.” (H.R. Ahmad).

Sebagai wujud komitmen kita kepada ukhuwwah Islamiyyah, maka ketika terjadi kerusakan pada bangunan ukhuwwah tersebut, maka kita harus berusaha memperbaikinya dengan segala kuasa dan usaha sebagaimana pesan perintah pada ayat di atas. Dalam ayat sebelumnya Allah juga telah berfirman,

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِـنَ الْمُؤْمِـنِينَ اقْتَتَلُـوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

“Dan jika dua golongan kaum beriman saling berperang, maka damaikanlah antara keduanya.”[1] (Q.S. al-Hujurat: 9).

Artinya dalam misi menegakkan kembali tiang ukhuwwah Islamiyyah yang telah miring atau bahkan roboh, seseorang harus menggunakan segala potensi yang dia miliki, dia harus rela mengorbankan diri, waktu, tenaga, dan harta. Lebih dari itu, jika memang tiang ukhuwwah hanya bisa ditegakkan dengan kerelaannya meletakkan jabatan, maka dia dengan rela hati harus meletakkan jabatannya.

Hal inilah yang dapat kita temukan dan kita contoh dari seorang Al-Husain bin Ali Rodhiyallohu anh saat beliau dengan rela hati memberikan kekuasaan Iraq (Kufah) sepenuhnya kepada Muawiyah Rodhiyallohu anh. Meski sebenarnya rakyat Kufah baru saja mengangkatnya menjadi khalifah pasca terbunuhnya Ali Rodhiyallohu anh pada tujuh bulan sebelas hari yang lalu. Bahkan kecintaan penduduk Iraq kepada Al-Husain melebihi kecintaan mereka kepada Ali Rodhiyallohu anh ayahnya sama sekali tidak mempengaruhi niat bulat beliau dalam menciptakan kedamaian dan persaudaraan di dalam komunitas umat Islam. Kepada penduduk Kufah yang sangat mencintainya, Al-Husain berkhutbah: “Sesungguhnya orang yang paling cerdas adalah dia yang bertaqwa dan sebaliknya orang yang paling bodoh adalah dia yang mudah melakukan dosa. Demi terciptanya perdamaian di antara umat Islam dan agar mereka tidak mati sia-sia, maka aku serahkan sepenuhnya urusan pemerintahan kepada Muawiyah.”

pohon ukhuwwah yang telah tertanam hendaknya sebisa mungkin dirawat serta ditumbuh kembangkan hingga akhirnya memberikan hasilnya yang melimpah ruah

Dengan pelimpahan kekuasaan sepenuhnya kepada Muawiyah berarti terhentilah peperangan dan sengketa yang selama ini terjadi antara kubu Iraq dan Syam. Dan kini umat Islam kembali kepada satu kepemimpinan setelah selama ini mereka terpecah dalam dua kepimpinan. Nyatalah sabda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ ابْنِيْ هذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Sesungguhnya cucuku ini adalah seorang yang besar (Sayyid), dan dengannya Allah nanti akan mendamaikan dua kelompok besar umat Islam.”[2]

Hal ini adalah dalam tataran kehiduapan secara makro (luas). Sementara dalam tataran kehidupan mikro (sempit) dalam hubungan antar individu, maka setiap sengketa, perpecahan, dan kerenggangan harus disikapi dengan saling mengalah dan saling berlapang dada untuk memulai atau mendahului memaafkan, menyatukan perpecahan, dan merekatkan kembali kerenggangan. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

صِـلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ  مَـنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ

“Sambunglah orang yang memutusmu, berilah orang yang selalu menghalangimu, dan berpalinglah dari orang yang menganiayamu.”[3] (H.R. Ahmad).

Bila ukhuwwah telah terbangun atau ibarat sebuah pohon telah tumbuh subur, maka wajib dijaga keberlangsungannya. Allah berfirman:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِـنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلاً بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ

“Dan janganlah kalian seperti seorang wanita yang menguraikan benangnya yang telah dia pintal dengan kuat hingga menjadi cerai berai kembali.”[4]

Maknanya pohon ukhuwwah yang telah tertanam hendaknya sebisa mungkin dirawat serta ditumbuh kembangkan hingga akhirnya memberikan hasilnya yang melimpah ruah. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, Allah Subhanahu wata’ala dalam kitab suci-Nya memberikan beberapa petunjuk:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَ امَنُوالاَ يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُواخَيْرًا مِنْهُمْ وَلاَ نِسَاءٌ مِنْ نِـسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِـنْهُنَّ وَلاَ تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلاَ تَنَابَزُوا بِاْلأَلْقَابِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum meremehkan kaum yang lain, sebab boleh jadi mereka (yang meremehkan) lebih baik dari pada mereka (yang diremehkan). Dan jangan pula para wanita meremehkan wanita yang lain, karena mungkin wanita (yang diremehkan) lebih baik dari pada mereka (wanita yang meremehkan). Dan janganlah saling mencela serta jangan saling memanggil dengan panggilan yang buruk.” [5]

Dalam ayat ini ada empat hal penting yang perlu untuk diperhatikan dalam rangka menjaga stabilitas hidup pohon ukhuwwah;

Pertama:Jangan sampai kita meremehkan atau melecehkan orang lain karena mungkin orang yang diremehkan dan dilecehkan lebih baik dan lebih mendapat cinta dari Allah dibanding orang yang meremehkan dan melecehkan. Jadi mencela atau tindakan pelecehan dalam bentuk apapun adalah haram hukumnya.

Kedua: Secara khusus Allah memberikan peringatan supaya seorang wanita jangan sampai mencemoohkan atau merendahkan wanita yang lain, sebab mungkin wanita yang mencemooh tidak lebih baik atau bahkan lebih rendah dari wanita yang dicemooh. Ingatlah bahwa kemuliaan wanita dalam pandangan Allah tidak terletak pada paras wajah, cerah, dan halusnya kulit, tetapi sangat bergantung sampai di mana ketaatannya kepada Allah dan ketundukannya kepada sang suami.

Ketiga: Hilangkan budaya saling mencela dan mengolok-olok kendati hanya sebatas gurauan, sebab tidak jarang permusuhan berawal dari gurauan yang melewati batas kewajaran.

Keempat: Nama atau panggilan apa saja yang tidak kita sukai dan rasanya bila nama itu terdengar ditelinga dan ditujukan kepada kita, maka sepertinya nama atau julukan tersebut menjadi sebuah cap buruk (stigma) bagi kita. Karena itu, kita sangat merasa terhina jika dipanggil dengan nama atau julukan tersebut. Bila demikian halnya, maka tradisi saling memanggil nama orang lain dengan nama atau julukan yang tidak disukai harus segera dihentikan. Jangan sampai kita memanggil orang lain dengan nama atau panggilan yang tidak disukainya sebagaimana kita juga tidak suka ada orang lain memanggil kita dengan nama atau julukan yang tidak kita sukai. Sebaliknya kita harus memanggil orang lain dengan nama atau julukan yang paling ia senangi seperti kita juga senang jika ada orang lain memanggil kita dengan nama atau julukan yang kita sukai. Hal ini harus mendapat perhatian dari kita sebab seringkali budaya ini (Tanaabuz Bil Alqab) juga menanamkan benih ketidak harmonisan dalam hubungan persaudaraan.

Wallahu a’lam.

[1]QS al Hujurat:09

[2]HR Bukhari no: 2704 Kitab as Shulh bab (9) Qaulinnabiyy Saw lil Hasan…

[3]HR Ahmad

[4]QS an Nahl:92

[5]QS al Hujurat:11