Memilih Pemimpin

Oleh: Ust. Abd Fatah

Rasulullah  bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ اِلَّا ظِلُّهُ :الِامَامُ الْعَادِلُ, … {الحديث}

Artinya: “Ada tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil,… “ (Al-Hadits).

images-7

Derajat dan Perawi Hadits

Hadits ini kedudukannya shahih. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Malik dalam al-Muwaththa’, Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, dan Imam al-Baihaqi.

Syarah Hadits

Kedudukan hadits ini sangat penting agar kaum muslimin dapat melaksanakan amalan-amalan yang terkandung di dalamnya, terutama di kalangan para pemimpin, sehingga dapat memperoleh anugerah yang besar di sisi Allah  yaitu mendapatkan perlindungan dan naungan-Nya pada hari Kiamat kelak.

Secara lengkap isi kandungan/matan hadits ini adalah ”Tujuh golongan di hari Kiamat nanti yang dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: imam yang adil; pemuda yang selalu rajin beribadah kepada Allah; seseorang yang hatinya selalu bergantung pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah, dan berpisah karena Allah; seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh seorang wanita yang punya kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’; dan seseorang yang bershadaqah yang menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya; serta seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi, lalu ia meneteskan air matanya.”

Setiap muslim adalah pemimpin. Imam al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda (yang artinya), ”Tiap-tiap kalian adalah pemimpin/penjaga dan tiap-tiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Al-Hadits).

Pembahasan tentang matan hadits yang berbunyi الامام العادل (pemimpin/imam yang adil) adalah suatu permasalahan yang sangat urgen karena pemimpin yang adil pada zaman sekarang ini sangat langka. Hal ini karena mereka menjadi pemimpin bukan semata-mata pilihan rakyat, melainkan merekalah yang minta dijadikan pemimpin/pejabat. Bahkan agar masyarakat memilih mereka, mereka berupaya keras dengan berusaha maksimal dan mengorbankan apa saja yang mereka miliki serta menghalalkan segala cara, tidak mempedulikan halal-haram, baik-buruk, yang penting mereka sukses atas apa yang diharapkan, padahal dengan cara dan upaya tersebut juga belum menjamin mendapatkan keberhasilan.

Menurut sebagian ulama’, pengertian pemimpin dalam Islam itu ada dua bagian, yaitu:

Pertama, pemimpin berarti umara’ yang disebut juga ulil amri (lihat Q.S. an-Nisa’: 59). Dengan kata lain bahwa pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat.

Kedua, pemimpin itu berarti khadimul ummah/pelayan ummat. Menurut istilah ini, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian hakikat pemimpin sejati adalah seseorang pemimpin yang sanggup dan bersedia menjalankan amanah Allah  untuk mengurus dan melayani ummat/masyarakat.

Pemimpin di sini secara umum adalah pemimpin ummat, baik pejabat pemerintah maupun pemimpin organisasi massa. Mereka sebagai penjaga, penanggung jawab, dan pembimbing yang terpercaya yang harus mempertanggungjawabkan jalannya pemerintahan dan urusan organisasinya. Maka para pemimpin harus menegakkan kebenaran dan keadilan secara bijaksana, mengembalikan hak milik kepada para pemiliknya, menghormati kemerdekaan mereka sepanjang dalam kebenaran dan aturan, mengajak mereka musyawarah dalam urusan, mau mendengarkan saran-saran dan aspirasi masyarakat, serta membela kehormatan mereka juga berusaha keras untuk kemaslahatan ummat.

MEMILIH PEMIMPIN

Saat ini semakin ramai orang berlomba-lomba mengejar jabatan, berebut kedudukan/kekuasaan, atau pemimpin, sehingga menjadikannya sebuah obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut paham/prinsip ini, tidak lengkap rasanya selagi hayat masih di kandung badan, kalau tidak pernah menjadi orang penting, dihormati, dan dihargai masyarakat.

Maka perlu kita cermati bersama bahwa kita hidup di negara yang mayoritas beragama Islam ini harus memilih pemimpin yang beragama Islam juga dan tidak sekedar beragama Islam saja, tapi harus pandai-pandai memilih seorang pimpinan/imam yang adil dan bijaksana mulai dari pemimpin dalam tingkat yang paling kecil sampai tingkat paling besar, yaitu tingkat RT, RW, kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi sampai ke tingkat nasional.

Maka secara singkat memilih seorang pemimpin yang adil dalam Islam harus memperhatikan beberapa ciri dan sifat sebagaimana sifat yang dimiliki Rasulullah  yaitu:

  1. Shiddiq artinya jujur, yaitu suatu sifat yang mulia yang menghiasi akhlak seseorang yang beriman kepada Allah, perkataannya benar, perbuatannya juga benar, perbuatannya sejalan dengan apa yang diucapkannya.
  2. Amanah, artinya benar-benar dapat dipercaya, jika urusan diserahkan kepada seseorang yang amanah, maka pasti urusan tersebut akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
  3. Tabligh, artinya menyampaikan, yaitu menyampaikan segala firman Allah yang ada dalam al-Qur’an yang berisi tentang perintah yang harus dikerjakan oleh seorang muslim yang mukallaf/yang sudah terbebani hukum syari’ah, dan larangan-larangan yang seharusnya dijauhi oleh ummat Islam, termasuk juga hadits-hadits Nabi . Dan menyampaikan secara jujur dan tanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya/akuntabilitas dan transparansi.
  4. Fathanah, artinya cerdas/bijaksana, yaitu: memiliki kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan untuk menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul.

Dalam al-Qur’an banyak kita jumpai ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, antara lain:

  1. Memiliki sifat sabar dan tabah (Q.S. as-Sajdah: 24).
  2. Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada ummat/masyarakat sesuai dengan petunjuk Allah (Q.S. al-Anbiya’: 73).
  3. Telah membiasakan pada dirinya melakukan amal shalih seperti mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan lain sebagainya (Q.S. al-Anbiya’: 73).

Menurut Syaikh al-Mubarak bahwa sifat pemimpin yang patut kita pilih adalah yang harus memiliki 4 sifat, di antaranya:

  • Memiliki aqidah yang benar/aqidah salimah.
  • Memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas / ilmun wasi’un.
  • Memiliki akhlak yang mulia /akhlak karimah.
  • Memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam mengatur urusan-urusan duniawi.

Dengan mengetahui hakekat kepemimpinan dalam Islam serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan hadits yang dijelaskan oleh ulama’ salafus shalih.

Wallahu a’lam bish shawab.