Menciptakan “Akselerator” Zakat

Oleh: Bahtiar HS

Departemen Media Lazis alHaromain

jurnalislam.com-20161202-063200-index-jas2Perintah untuk membayar zakat selalu beriring dengan perintah mengerjakan shalat. Di dalam Al-Qur’an setidaknya terdapat 28 ayat di mana kewajiban shalat bergandengan dengan kewajiban zakat. Misalnya dalam Q.S. Al-Baqarah: 43 Allah berfirman, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” Bahkan kata zakat sendiri disebut tak kurang 30 kali secara ma’rifah di dalam Al-Qur’an.

Itu berarti, jika shalat adalah tiang agama, maka zakat mestinya merupakan pilar agama pula. Jika shalat adalah ibadah jasmaniah paling mulia, maka zakat adalah ibadah maaliyah dan hubungan kemasyarakatan yang paling mulia pula. Bahkan saking pentingnya kedua pilar ini, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu pernah berkata, “Kalian diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat, siapa yang tidak berzakat berarti tidak ada arti shalat baginya.”

Jadi sungguh secara dorongan nash, sesungguhnya kewajiban zakat sama dengan kewajiban shalat. Pemakluman perang khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu kepada kaum yang tidak mau membayar zakat adalah bukti konkrit dan contoh yang sangat tepat untuk menggambarkan betapa zakat ini wajib hukumnya dalam koridor syariat agama Islam ini. Kata beliau, “Saya tidak memisah-misahkan dua hal yang disatukan sendiri oleh Allah!”

Jika demikian, mestinya zakat sudah well-designed oleh Yang Mahakuasa sebagai solusi atas problem-problem kemasyarakatan umat (Islam) seperti kemiskinan, kebodohan, pengangguran, dan sebagainya. Potensi zakat di Indonesia misalnya pada 2016 tak kurang dari Rp286 Triliun. Jumlah itu lebih dari cukup untuk membiayai semua problem di atas yang menimpa umat kini. Hanya saja pada kenyataannya, tingkat perolehan zakat secara nasional baru 1,4% atau sekitar Rp4 Triliun. Itu pun tersebar di BAZNAS, UPZ (Unit Pengumpul Zakat), LAZ (Lembaga Amil Zakat) yang jika dijumlah lebih dari 38.450 institusi. Tentu ini sungguh ironis sekali.

***

Berkaca pada peristiwa ABI 212, ada satu hal yang menarik untuk dipelajari. Bayangkan, 7 juta lebih masyarakat muslim itu datang ke ibukota tanpa disuruh melainkan karena kesadaran sendiri-sendiri untuk Aksi Bela Islam. Membela agama. Banyak di antaranya berasal dari luar Jakarta, bahkan luar Jawa. Mereka mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk datang ke Jakarta.

Rekening GNPF-MUI untuk keperluan ABI II saja ketika dicetak lebih dari 7000 lembar. Taruhlah jika  1 lembar 30 orang, maka ada 210.000 orang telah mengirim donasi dengan beragam nominal hingga terkumpul Rp3 Miliar lebih dalam waktu singkat. Belum lagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang menyambut para mujahid itu dengan menyediakan sarana dan prasarana, termasuk konsumsi berlimpah secara gratis, berapa biaya (shadaqah) yang telah mereka keluarkan secara sukarela dalam mendukung aksi ini?

Kita semua yakin, biaya yang mereka keluarkan itu lebih besar daripada sekedar kewajiban zakat mereka dalam satu tahun (haul). Tapi mengapa mereka sukarela mengeluarkan biaya yang tak sedikit itu? Hal itu karena ada “musuh bersama” yang sedang diladeni. Yang real. Yang nyata. Yang menyentuh kesadaran spiritual dan emosional umat. Yang mampu membangkitkan ruhul jihad pada diri mereka.

Demikian juga zakat. Untuk menggenjot perolehan zakat nasional, perlu diciptakan “musuh bersama” juga, yang mampu mengusik kesadaran umat, memantik emosional mereka untuk bangkit sukarela menyerahkan sebagian hartanya berupa zakat – yang hukumnya wajib bagi mereka sendiri. “Musuh bersama” itu bisa berupa program pemberdayaan masyarakat mustahiq yang real, didukung penyajian informasi yang akurat, dan pertanggungjawaban pentasharufan zakat yang jelas dan transparan kepada muzakki. Apalagi jika “musuh bersama” itu bisa digaungkan secara nasional oleh seluruh lembaga zakat, tentu efeknya akan jauh lebih besar.

Semoga kesadaran umat untuk membayar zakat semakin baik ke depan. Aamiin.

[]