Mendidik Anak untuk Mencintai dan Membela Para Ulama

Oleh: Masitha Achmad Syukri
Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain
Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

Cara mendidik anak secara islamiSeorang ibu berkata, “ Mbak Yu, anakku bertanya, Bunda, apa sih kriminalisasi ulama itu?”
Ibu yang lain pun berkata, “Anakku juga bertanya, kenapa ulama dikriminalisasi ya Bu.”
Seorang ibu lagi menuturkan, “Putriku juga bertanya, gimana kita bisa membela ulama ya Ma?”

Bisa jadi ada banyak tanyaan serupa yang dilontarkan anak-anak kita saat mereka melihat tayangan televisi atau berita di medsos terkait dengan Aksi Bela Islam atau juga Aksi Bela Ulama. Mencermati hal itu, sudah selayaknya kita berbahagia mendapatkan tanyaan-tanyaan seperti itu karena anak-anak mulai tumbuh pikiran kritisnya. Apalagi, mereka menanyakan ihwal ulama yang bisa jadi anak-anak lain yang sebaya mereka belum tentu memiliki pemikiran atau tanyaan seperti itu.

MENDIDIK ANAK UNTUK MENCINTAI PARA ULAMA
Selain ihwal pendidikan aqidah, membaca Al Qur’an, sirah nabawi, dan sebagainya, sudah sepatutnya para orangtua juga merencanakan kurikulum pendidikan keluarga yang terkait dengan upaya mendidik anak agar mencintai dan membela para ulama. Berikut beberapa hal yang insyaAllah dapat mewujudkan kecintaan anak kepada para ulama.

1. Mengenalkan Anak kepada Figur Ulama
Selayaknya para orangtua mengenalkan anak pada sosok ulama, keutamaan ulama, kealiman ulama, serta teladan kesholehan ulama. Kita tanamkan kepada anak-anak bahwa ulama adalah pewaris para nabi (H.R. Abu Dawud). Mereka tidak mewarisi uang atau kekayaan, tetapi mereka mewarisi risalah kebenaran, yakni Al Islam yang harus terus ditegakkan sampai hari akhir nanti. Lantaran itu, para ulama sangatlah mulia karena meneruskan tugas para nabi, yakni menyampaikan Al Islam.

Para ulama tersebut memiliki ilmu yang dengan ilmu tersebut mereka sangat takut kepada Allah karena kebesaranNya dan keagunganNya sebagaimana dalam firman Allah di dalam Al Qur’an Surat Al Fathir (35) ayat 28:

28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Kemudian, tentu sangatlah elok jika anak-anak kita sejak kecil sudah mengenal atau setidaknya mendengar nama-nama ulama besar, misalnya nama 4 imam madzhab (Imam Hambali, Imam Maliki, Imam Syafi’iy, Imam Hanafi), nama 6 perawi hadits (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam An Nasa’I, Imam Ibnu Majah), Imam Al Ghazali, nama 9 walisongo, dan seterusnya.

2. Memasang Foto Para Ulama
Salah satu cara mengenalkan anak kepada para ulama secara visual adalah dengan memasang foto-foto ulama di dinding-dinding kamar/rumah. Hal itu akan membuat anak selalu menatap mereka sehingga insyaAllah anak-anak akan selalu mengingat mereka dan bahkan bisa jadi mereka selalu merasa diawasi oleh para ulama tersebut.

3. Membacakan Sejarah Hidup Ulama
Dengan menyebut nama ulama berulang-ulang dan membacakan sejarah hidup mereka insyaAllah akan memunculkan kebanggaan anak kepada mereka. Kebanggaan itu akan menghantarkan kepada kemunculan rasa, harapan dan keinginan untuk meneladani mereka.

4. Memperdengarkan/Memperlihatkan rekaman Kajian/Taushiyah Para Ulama
Melalui rekaman audio ataupun audiovisual, orangtua bisa seara langsung memperdengarkan atau memperlihatkannya kepada anak-anak. Dengan itu, semoga anak-anak juga akan mendapatkan ilmu, berkah dan hikmah dari ulama yang disampaikan melalui rekaman tersebut.

5. Mengikuti Taklim/Majelis Ulama
Sekiranya memungkinkan, untuk semakin menumbuhkan kecintaan kepada ilmu dan pemilik ilmu, yakni, para ulama, kita ajarkan anak-anak untuk juga cinta mencari ilmu. Oleh karena itu, kita mesti berusaha untuk sering-sering mengajak mereka untuk hadir dalam majelis-majelis ilmu bersama para alim ulama.
Salah satu wasiat Luqman kepada anaknya adalah, “Wahai anakku, duduklah dengan ulama dan merapatlah kepada mereka dengan kedua lututmu karena sesungguhnya Allah Yang Maha Suci menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah dengan hujan dari langit.”

6. Ziaroh (berkunjung) ke Para Alim Ulama
Pembiasaan dengan mengajak anak untuk selalu ikut serta dalam ziaroh ke para ulama (baik yang masih hidup ataupun yang sudah wafat) insyaAllah juga akan memperkuat hubungan silaturrahim dengan para ulama.

7. Menghadiahi Para Ulama
Berusaha menyenangkan para ulama dengan memberi hadiah misalnya juga merupakan suatu keutamaan. Hal itupun insyaAllah akan semakin menumbuhkan kecintaan orangtua dan anak kepada para ulama dan akan membawa keberkahan tersendiri bagi keluarga, khususnya si anak.

8. Mendoakan Para Ulama
Termasuk tanda kecintaan kepada para alim ulama adalah selalu mendoakan mereka. Kita ajari anak-anak kita untuk selalu berdoa bagi para guru dan para alim ulama baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat mendahului kita.

9. Berdoa agar dianugerahi anak-anak seperti para ulama
Secara khusus, akan lebih baik pula jika orangtua juga berdoa mohon kepada Allah agar dianugerahi anak-anak seperti para ulama.

MENDIDIK ANAK UNTUK MEMBELA PARA ULAMA

Pada dada seseorang yang penuh cinta pada seseorang, tentu akan diiringi pula dengan upaya untuk membela yang dicintainya. Begitu juga dengan kita, juga dengan anak-anak kita yang apabila dada kita dan dada anak-anak kita dipenuhi cinta kepada Allah dan RasulNya serta para ulama, insyaAllah juga akan selalu ada usaha untuk menjunjung kemuliaan Allah, kemuliaan Rasulullah, dan kemuliaan para ulama dan membela mereka apabila mereka dinistakan. Orangtua bisa mengajak mereka mengekspresikan kecintaan dan atau pembelaan mereka kepada para ulama melalui bincang santai, gambar, puisi atau tulisan mereka.

Akhirnya, para orangtua hendaknya juga menyampaikan kepada anak-anak dengan penuh rasa bahwa alam semesta juga akan merasakan kedukaan yang mendalam saat seorang ulama wafat sebagaimana kata para hukama, “Apabila seorang alim meninggal, maka ia ditangisi oleh ikan di air, dan oleh burung di udara, ia hilang tetapi sebutannya tidak dilupakan penyebutannya.” Wallahu a’lam bish-shawab.