Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Mendidik Dengan Instruksi dan Pembiasaan | LAZIS AL HAROMAIN

Mendidik Dengan Instruksi dan Pembiasaan

Oleh : Masitha Achmad Syukri

Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, karena itu pencegah untuk mereka dan kalian dari api neraka.” (H.R. Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir dari Ibnu Abbas)

Di universitas tempat saya mengajar, mahasiswa baru yang muslim harus mengikuti kegiatan pembinaan baca Al Qur’an. Menurut saya, kegiatan tersebut sangatlah baik, setidaknya tampak kolaborasi dan sinergi yang baik antara unit kegiatan mahasiswa kerohanian Islam, dosen agama, dan direktorat kemahasiswaan. Ada pernyataan yang sangat menarik pada acara Grand Opening pembinaan baca Al Qur’an tersebut, yakni ketika salah satu pembicara berkomentar, “Kegiatan ini sangat bagus. Mahasiswa diharuskan mengikutinya. Jadi, memang mahasiswa dipaksa untuk datang dan mengikuti kegiatan. Ini adalah pemaksaan yang baik. Menurut saya, lebih baik dipaksa berbuat baik daripada ikhlas berbuat dosa.”

Mendengar itu saya jadi teringat pada perintah saya yang saya sampaikan kepada putera saya di awal dia duduk di kelas tiga SD, “Adik, di kelas tiga ini Adik harus mulai ngaji Al Qur’an dan kelas enam nanti harus sudah hatam Al Qur’an 30 juz.” Kalo tidak hatam, gak usah lanjut SMP, tinggal di SD saja sampai hatam baru lanjut SMP.” Alhamdulillah ternyata putera saya bisa hatam baca Al Qur’an 30 juz saat awal kelas 5. Hanya, saat saya membagikan nasi kotak sebagai ungkapan syukur saya, seorang kolega berkomentar, “Eh kenapa mesti maksa anak? Ngancam lagi. Biarin terserah dia saja, mau atau tidak.” Sepertinya, menurut pengamatannya, saya kurang bijak karena telah memaksa dan bahkan mengancam anak saya untuk ngaji hingga hatam Al Qur’an. Tapi, begitu melihat hasilnya, saya tidak menyesal karena ternyata memang diperlukan untuk memerintah atau memaksa anak untuk berbuat baik, yakni lebih baik dipaksa berbuat baik, dari pada ikhlas berbuat buruk atau berbuat dosa. Instruksi bisa berbentuk perintah melakukan sesuatu ataupun larangan melakukan sesuatu. Kata instruksi memang juga memiliki komponen makna memaksa meskipun tidak selalu berkonotasi negatif. Artinya, ia bisa mengacu pada tindakan memaksa melakukan hal yang baik dan atau tindakan memaksa melakukan hal yang tidak atau kurang baik. Jadi, tentu kembali pada maksud dan atau tujuan instruksi tersebut. Menginstruksikan dan Membiasakan Siswa Di dalam pendidikan Islam, metode instruksi dan pembiasaan memiliki manfaat yang signifikan dalam membentuk mental, karakter, atau akhlak anak. Metode pemberian instruksi, tepatnya instruksi kebaikan, dapat diberikan pada saat anak sudah masuk pada usia dengan kemampuan nalar logis dasar, yakni usia 7 tahun. Seorang tokoh psikologi kognitif bernama Piaget menamai usia 7 tahun tersebut sebagai awal usia tahap operasional konkret. Hebatnya, Rasulullah telah menunjukkan itu sebagaimana perintah beliau kepada para orang tua dan atau pendidik untuk memerintahkan sholat pada anak-anak usia 7 tahun atau siswa SD kelas 1, yakni:

“Perintahlah anak-anak kalian sholat saat mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka (jika meninggalkan sholat) pada saat mereka berusia 10 tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (H.R. Al Hakim dan Abu Dawud dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash).

Instruksi utama untuk siswa di sekolah bisa dikatakan sebagai penguatan perintah pada siswa yang sejatinya sudah dikenalkan oleh orangtua siswa di lingkungan rumah masing-masing. Perintah utama yang pertama dan harus selalu diulang-ulang dilakukan oleh para pendidik adalah terkait dengan pengenalan dan atau penguatan aqidah siswa. Rasulullah bersabda, “Bukalah untuk anak-anak kalian kalimat pertamanya dengan laa ilaaha illallah.” (H.R. Al-Hakim dari Ibnu Abbas).

Kemudian, diinstruksikan kepada pendidik untuk mendidik siswa melakukan tiga hal sebagaimana sabda Rasulullah, “Didiklah anak-anak kalian dengan tiga perkara, mencintai nabi kalian, mencintai sanak keluarganya, dan membaca Al Qur’an.” (H.R. Ath-Thabrani).

Instruksi untuk menjauhi atau tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah juga harus dilakukan oleh para pendidik. Pendidik tidak boleh ragu atau merasa tabu dengan mengatakan ‘jangan’ kepada siswa apalagi jika hal itu terkait dengan halal dan haram dalam Islam misalnya jangan mengambil hak orang lain, jangan menggunjing, jangan memfitnah, jangan mendekati zina, jangan minum minuman keras, dan sebagainya. Sementara itu, metode pembiasaan pada dasarnya bisa dilakukan sedini mungkin dengan memberikan teladan amal atau tindakan pada siswa. Dalam tindakan pembiasaan terdapat proses pengulangan tindakan yang memiliki dampak yang cukup signifikan dalam membentuk karakter atau akhlak anak. Terkait dengan itu, terdapat kata bijak ulama yang berbunyi: “Pengulangan menghantarkan pada kemantaban hati; kemantaban hati menghantarkan pencerahan hati.” Jadi, secara konkret, sebelum siswa berada pada usia yang diperintahkan sholat di dalamnya, orangtua atau pendidik bisa mengajak dan membiasakan siswa sholat lima waktu, minimal mengenalkan nama dan jumlah rakaat sholat ataupun gerakan sholat serta mengingatkan waktu sholat. Kegiatan pembiasaan itu bisa dimulai dilakukan di rumah dan atau siswa diajak ke musholla atau masjid sehingga mereka juga mengenal sholat berjamaah dan adab di masjid. Dengan pembiasaan awal tersebut, insyaAllah siswa akan terbiasa dan berdisiplin diri. Selanjutnya, pembiasaan tersebut akan menghantarkan siswa mendapatkan kemantaban hati sehingga saat siswa sudah harus melaksanakan perintah sholat, mereka sudah benar-benar siap dan mantab hatinya untuk melaksanakan perintah sholat tersebut. Ketika hati mereka sudah mantab dan mereka terus-menerus melakukan sholat serta dibimbing selalu untuk meningkatkan kualitas sholat mereka, insyaAllah hatinya akan tercerahkan atas manfaat sholat baik buat dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Demikianlah dampak positif pada pembentukan mental dan atau karakter siswa dengan mengimplementasikan metode mendidik dengan instruksi dan pembiasaan kepada siswa untuk melakukan amal kebaikan. InsyaAllah, mereka akan tumbuh menjadi sosok yang berakidah kuat, disiplin dan rajin beramal, dan siap berjihad berjuang membela agama Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab.