Mendidik dengan Kelembutan Karena Keutamaan dan dengan hukuman Karena Keterpaksaan

 

Oleh

Masitha Achmad Syukri

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain

 

“Di manapun sekolah anakku, aku ingin dia bahagia dalam mencari ilmu.”

 

Pernyataan di atas disampaikan oleh seorang teman yang menurut saya sangat sederhana tapi sarat makna. Ada makna yang begitu dalam pada frase “bahagia dalam mencari ilmu.” Bahagia mengacu pada kondisi senang hati, penuh semangat, tanpa kesedihan, tanpa tekanan, ataupun tanpa paksaan.  Artinya, kondisi tersebut bisa membentuk pendaran antara lain anak-anak yang membaca buku bak orang kehausan ilmu, anak-anak yang mengikuti pelajaran bak orang yang kelaparan ilmu, ataupun anak-anak yang selalu merindukan saat-saat bersama guru mereka.

Sebenarnya suasana belajar semacam itu telah berhasil Rasulullah SAW ciptakan kepada para sahabat. Mereka selalu merindukan saat-saat bersama Rasulullah karena di dalamnya mereka mendapatkan ilmu yang penuh berkah dalam suasana yang penuh kehangatan sehingga mereka pun bergelora untuk mengamalkan ilmu yang mereka dapat. Rasulullah dalam mengajar sangat menekankan kelembutan, kemudahan, dan keteladanan.

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah SAW mengutus Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman dan bersabda, “Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, dan berilah pengajaran dan jangan membuat mereka lari.”(H.R. Muslim).

Secara umum, dalam proses mendidik siswa, sudah selayaknya guru mengedepankan keteladanan dan sikap yang bijak dan lembut dalam mendidik anak sesuai dengan kondisi yang ada. Tentunya tidaklah bijak, jika guru bersikap lembut pada saat seharusnya bersikap tegas dan keras kepada siswa atau bersikap keras pada saat seharusnya bersikap lembut atau penuh kasih sayang dan memberi maaf. Pun tidaklah layak seorang guru bertindak sewenang-wenang dalam mendidik. Jadi, memberi perhatian dan kelembutan adalah hal utama dan pertama yang harus diberikan guru kepada anak didiknya.

Sementara itu, mendidik dengan kekerasan atau dengan memberi hukuman memang mungkin dilakukan di dalam Islam. Hal itu dilakukan sebagai pilihan terakhir ketika nasihat dan peringatan serta teguran dari guru tidak membawa hasil. Terdapat tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam memberi hukuman kepada siswa sebagaiman yang dinyatakan oleh Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam. Pertama, bersikap lemah lembut merupakan hal yang pokok dalam memperlakukan anak. Kedua, memperhatikan karakter anak yang melakukan kesalahan, apakah dia tergolong anak yang pendiam, pemarah, antara pendiam dan pemarah, cukup diberi muka masam, harus dihardik, dan sebagainya. Ketiga, memberikan hukuman secara bertahap, dari yang ringan sampai yang keras.

Dalam mengatasi kesalahan dan atau penyimpangan yang dilakukan oleh anak, Rasulullah melakukan beberapa cara antara lain dengan menunjukkan kesalahan anak dengan mengarahkannya, dengan sikap lemah lembut, dengan isyarat, dengan menegur, dengan menjauhinya, dengan memukul, dan atau dengan hukuman yang dapat menyadarkannya.

Dalam kondisi terpaksa, menurut Abdullah Nashih ‘Ulwan mendidik dengan memukul dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan hal-hal berikut:

  • guru hendaknya menerapkan cara-cara pendisiplinan yang lain sebelum menerapkan hukuman pukulan;
  • guru tidak memukul dalam keadaan marah karena dikhawatirkan akan membahayakan siswa;
  • guru hendaknya menghindari daerah-daerah vital (seperti kepala, wajah, dada, dan perut) saat memberlakukan hukuman pukulan.
  • guru mengatur tingkat kekerasan dalam memukul, yakni, pada tahap awal, pukulan tidak boleh keras dan menyakitkan, selanjutnya bisa dipukul sampai tiga kali jika sudah jera, jika tidak maka anak bisa dipukul sampai 10 kali;
  • guru tidak boleh memukul siswa jika siswa belum mencapai usia 10 tahun;
  • guru sendirilah yang harus melakukan hukuman memukul itu, jadi tidak boleh dilakukan oleh saudara atau teman siswa karena hal itu dikhawatirkan akan menyebabkan pertengkaran di antara mereka sendiri.

Setelah guru atau pendidik memberikan hukuman dan melihat ada perubahan sikap pada anak didinya setelah menerima hukuman tersebut, sangatlah penting bagi guru untuk mengubah sikapnya terhadap anaknya didiknya tersebut. Hal itu dikarenakan saat siswa merasa guru menjadi baik dan lemah lembut kepadanya atau juga siswa merasa bahwa maksud gurunya adalah untuk mendidiknya atau memperbaiki kesalahannya, siswa tidak akan merespon hukuman gurunya dengan perasaan tertekan dan atau minder yang pada akhirnya akan mengubah potensi rasa sosial dan kelembutan pada dirinya menjadi kesombongan dan atau pembangkangan atau perlawanan. Bahkan, ia akan menghargai hukuman yang telah dijatuhkan oleh gurunya tersebut sebagai bentuk kasih sayang gurunya agar dia menjadi lebih baik.

Ibnu Khaldun dalam bukunya yang berjudul Mukaddimah menunjukkan salah satu bentuk pendidikan yang baik adalah seperti yang disampaikan oleh Ar-Rasyid kepada Ahmar, guru putranya yang bernama Muhammad Al-Amin. Ar-Rasyid berkata:

“Wahai Ahmar, Amirul Mukminin telah menyerahkan buah hatinya kepadamu, maka lapangkanlah tanganmu kepadanya. Dia wajib menaatimu. Jadilah Engkau sebagaimana yang ditentukan oleh Amirul Mukminin. Bacakanlah Al-Qur’an kepadanya. Ajarkanlah hadits kepadanya. Bacakanlah syair-syair kepadanya. Ajarkanlah kepadanya berkata-kata dengan baik. Cegahlah ia dari tertawa yang tidak pada tempatnya. Ajarilah ia menghormati para syaikh dari Bani Hasyim ketika mereka datang kepadanya. Jangan sampai ia bersamamu kecuali ia mendapatkan sesuatu yang bermanfaat baginya tanpa membuatnya sedih sehingga dapat mematikan hatinya. Kuatkanlah ia semampumu dengan melakukan pendekatan dan kelembutan. Apabila ia membangkang, barulah Engkau boleh melakukan tekanan.”

Wallahu a’lam bish-shawab.