Menelaah Kembali Makna Musibah

Ust. Ayyub Syafii

Kepala SMK Nurul Haromain Malang

“Salah seorang putriku meninggal dunia, lalu ada lebih dari sepuluh ribu orang datang ke rumahku untuk berta’ziyah. Tapi kenapa ketika aku ketinggalan shalat jamaah, tak satupun orang yang bertakziah ke rumahku.” (Hathim Al-Ashamm rahimahullah)

images-6Musibah. Bencana. Kata-kata ini, sepertinya dekat sekali dengan kita, hari-hari ini, sekarang ini. Kedukaan yang menyelimut hampir seluruh ruang jiwa seseorang, menjadikannya seperti dalam keadaan yang sama sekali tak memberi bahagia. Kesedihan akibat seolah kesenangan yang tak lagi mau menghampiri hidup, lalu menciptakan siang menjadi gelap malam yang tak kunjung berhenti.

Barangkali ada di antara bagian hidup kita yang merupakan bagian perjalanan yang memunculkan duka. Berdoalah dengan sepenuh hati, dengan sebuah doa yang diajarkan Rasulullah SAW, dalam riwayat at-Turmudzi dan an-Nasa’i yang artinya:

“Dan janganlah Engkau menjadikan musibah dan kedukaan kami itu ada pada urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai obsesi kami dan keinginan kami yang paling besar. Jangan Engkau jadikan dunia sebagai pucuk ilmu pengetahuan kami. Dan jangan Engkau kuasakan atas kami seseorang yang tidak memiliki belas kasih atas kami.”

Doa ini mengajarkan hakikat kedukaan dan sejatinya musibah yang harus kita sadari. Kita, dalam doa ini, meminta agar tidak ditimpakan musibah dalam urusan agama dalam hidup ini pada kita. Doa agar dunia tidak mendominasi jiwa dan pikiran kita. Karena musibah sesungguhnya dalam hidup ini adalah ketika kedukaan dan musibah itu datang pada kehidupan agama kita. Bukan pada urusan dunia kita. Atas dasar ini, Qadhi Syuraih rahimahullah mengatakan, “Aku tertimpa musibah dan aku memuji Allah atas musibah itu berdasarkan empat hal. Pertama, karena musibah itu tidak lebih besar dari apa yang sudah terjadi. Kedua, karena musibah itu telah mendatangkan kesabaranku untuk menghadapinya. Ketiga, aku bisa memohon pahala atas kesulitan dari musibah yang aku terima. Dan keempat, Allah ta’ala tidak menjadikan musibahku itu, musibah dalam urusan agama, tapi dalam urusan dunia.”

Jiwa kita memang tak boleh dikuasai oleh dunia. Ia tak boleh tunduk di bawah keinginan dan obsesi dunia. Sebab, penguasaan dunia atas jiwa adalah penjajahan yang selalu menambah dan menambah keletihan. Seperti apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab t, “Dunia tidak akan menjadi obsesi seseorang kecuali ia akan mendominiasi jiwanya dalam empat keadaan. Kefakiran yang tak pernah mengenal kekayaan. Kegelisahan yang tanpa ada batasnya. Kesibukan yang tak pernah selesai. Harapan yang tak pernah berujung.” Seseorang selalu dalam keadaan murung dan berduka karena obsesi dunia yang begitu kuat menguasai dirinya.

Karena itulah orang-orang shalih memiliki sudut pandang yang berbeda tentang musibah. Bagi mereka selama musibah itu tidak mempengaruhi urusan agama, dan masih dalam lingkup dunia, mereka tidak menganggapnya sebagai musibah yang begitu berat. Sebagaimana isi doa yang diajarkan Rasulullah SAW tadi, kita diminta juga berlindung dari musibah dalam urusan agama.

Di antara musibah dalam agama adalah ketika kita meninggalkan ibadah kepada Allah, untuk melakukan kemaksiatan dan memperturutkan hawa nafsu yang bertentangan dengan keridhaan Allah ta’ala. Meninggalkan shalat adalah dosa, terlebih lagi seseorang meninggalkannya untuk melakukan kemaksiatan. Bagi orang-orang shalih, meninggalkan shalat jamaah dipandang musibah. Ada salah seorang mereka yang ketinggalan takbiratul ihram dari shalat berjamaah, lalu ia meminta sahabat-sahabatnya agar mendapat ta’ziyah selama tiga hari. Dan bila salah seorang dari mereka sama sekali ketinggalan waktu shalat berjamaah, maka ia meminta kunjungan ta’ziyah selama tujuh hari. Itulah sebabnya, Hatim Al-Ashamm rahimahullah mengatakan, “Musibah dalam urusan agama adalah musibah yang paling besar. Salah seorang putriku meninggal dunia, lalu ada lebih dari sepuluh ribu orang datang ke rumah untuk bertakziyah. Tapi kenapa aku ketinggalan shalat jamaah, tak satupun orang yang bertakziyah ke rumahku?”

images-7

Dalam kitab-kitab kehidupan orang-orang shalih disebutkan ada salah seorang dari mereka akan menancapkan paku, lalu mendengar suara azan. Maka ia meletakkan palu dan pakunya untuk segera memenuhi panggilan shalat lalu melanjutkan pekerjaan selesai shalat.

Waktu kita pendek. Usia kita hanya hitungan waktu yang tidak banyak. Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Usia itu sedikit saja. Apakah engkau berlaku zalim terhadap perintah Tuhanmu, tapi engkau mohon pertolongan-Nya? Ia memerintahkanmu untuk bersungguh-sungguh, tapi engkau melakukan kebalikannya. Engkau lari dari medan perang, tapi bukan untuk kembali berperang. Engkau ingin mendapatkan ketinggian, padahal tingkatan dirimu sesuai dengan tingkat keseriusanmu. Apakah engkau ingin memanen tanpa tanam? Perhatikanlah, andai bukan karena keseriusan dan kesungguhan pilihan utama yang dikatakan Nabiyullah Yusuf alaihi salam, ‘Rabb, penjara lebih aku sukai dari apa yang mereka inginkan dari dariku.’ (Q.S. Yusuf: 33), niscaya Nabi Yusuf takkan mendapatkan kehidupan yang kokoh selanjutnya. Tapi karena kesungguhan itulah, Allah ta’ala berfirman, ‘Dan demikianlah, kami kokohkan Yusuf di muka bumi dan ia mengambil manfaat darinya sekehendaknya.’” (Q.S. Yusuf: 56)

Berbicaralah pada diri sendiri. Sebab kita orang yang paling tahu tentang diri kita. Kitalah orang yang mampu meraba kasatnya hati, kelamnya jiwa dan pikiran dibandingkan kehalusan dan terang benderangnya jiwa orang-orang shalih itu. Jika kita tahu dan sadar diri, semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki modal kebaikan.

Dahulu, Nabiyullah Musa as diriwayatkan mengatakan pada Bani Israil, “Datangkanlah kepadaku orang yang paling baik di antara kalian.” Mereka lalu datang dengan membawa seorang pemuda. Musa u bertanya padanya, “Apakah engkau orang yang terbaik di kalangan Bani Israil?” Orang itu mengatakan, “Seperti itulah yang mereka katakan tentang aku.” Musa as kemudian berkata lagi pada orang itu, “Datangkan kepadaku orang yang buruk di antara Bani Israil.” Tapi ketika kembali, orang itu tak membawa orang lain kecuali dirinya sendiri. “Apakah engkau membawa orang yang paling buruk di antara mereka?” tanya Musa as kepadanya. Orang itu mengatakan, “Ya, saya sendiri orangnya.” Ia melanjutkan, “Aku tidak tahu ada seorang dari mereka yang lebih mengetahui keburukanku sendiri.” Musa as lalu mengatakan, “Kalau begitu, benar, engkaulah orang yang paling baik di antara mereka.”

Kawan, lantas siapakah kita?

[]