Menengok Riba di Sekitar Kita (bagian 2)

Oleh: Bahtiar H. Suhesta

dPada edisi lalu telah diberikan beberapa contoh tentang praktik riba di sekitar kita. Baik itu pada transaksi umumnya pinjaman, gadai, tukar-menukar emas, maupun jual beli emas dengan penundaan. Berikut disampaikan contoh-contoh lain praktik riba yang sudah berurat-berakar dalam keseharian kita sehingga dianggap sesuatu hal yang biasa.

Menyimpan pada atau Meminjam Uang dari Bank Konvensional

Sesungguhnyalah akad bank konvensional dalam bertransaksi hanya ada dua jenis: “meminjam” dan “meminjamkan”. Pada kedua transaksi tersebut berlaku “bunga”. Ketika kita menabung di bank, pada hakikatnya bank meminjam dana kepada kita selaku nasabahnya. Atas jasa baik kita tersebut, bank memberikan bunga sebagai imbalan atau balas jasa yang besarnya sesuai dengan pokok simpanan, jangka waktu, ataupun tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI Rate).

Sebaliknya, ketika kita memerlukan dana untuk usaha atau apa saja, bank akan membantu pembiayaan kepada kita. Namun jangan salah, karena pada hakikatnya bantuan pembiayaan tersebut adalah pinjaman dana kepada kita yang harus kita kembalikan secara mengangsur dalam jangka waktu tertentu dengan disertai tambahan bunga sebagai balas jasa terhadap budi baik bank tersebut. Besarnya juga mengikuti tingkat suku bunga, tetapi tentu bunga pinjaman ini lebih besar dari pada bunga simpanan; karena dari selisih bunga inilah pendapatan bank berasal.

Walhasil, segala bentuk produk atau layanan perbankan konvensional sebenarnya berdasar pada akad pinjaman ini. KPR atau Kredit Pemilikan Rumah misalnya. Ketika seseorang membeli rumah dari pengembang property, lalu karena tidak mampu tunai akhirnya menggunakan KPR bank konvensional, yang sesungguhnya terjadi adalah: bank memberikan pinjaman kepada orang tersebut dana sejumlah kekurangan dari harga beli rumah dikurangi uang muka. Misalnya harga rumah tersebut Rp 300 juta dengan uang muka Rp 50 juta. Maka kekurangan Rp 250 juta digenapi oleh bank sebagai pinjaman kepada pembeli. Pembeli akan mengembalikan pinjaman Rp 250 juta itu selama 10 tahun misalnya, secara mengangsur. Atas pinjaman ini, bank menetapkan bunga pinjaman. Biasanya sebagai penarik minat nasabah untuk mengambil KPR, bunga tersebut flat (tetap) untuk 1-2 tahun pertama. Setelah itu, mengikuti suku bunga alias fluktuatif.

Dengan demikian, pada dasarnya nasabah peminjam tidak benar-benar tahu kelak ia total akan membayar berapa kepada bank atas pinjamannya, kecuali setelah seluruh tagihannya baik pokok maupun bunga lunas. Ia tak pernah benar-benar tahu akan terkena beban bunga berapa, karena besar kecilnya bunga fluktuatif.

Bunga adalah tambahan atas pokok pinjaman. Padahal setiap tambahan atas pinjaman jatuh kepada riba (kullu qardhin jarra naf’an fahuwa riba). Maka, jumhur ulama menghukumi bunga sebagai bagian dari riba. Di samping itu, transaksi peminjaman seperti ini menjadikan peminjam / nasabah tidak ada kepastian berapa yang harus ia bayar untuk pinjamannya tersebut. Tidak adanya kepastian mengenai jumlah yang harus ia bayar dalam transaksi ini masuk ke dalam gharar (ketidakpastian), dimana baik riba maupun gharar terlarang dalam syariat Islam. Jadi, sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Demikian juga, selain tabungan, sebagian besar produk-produk perbankan lain, seperti rekening giro, deposito, loan deposit, kredit dokumenter, kredit reimburse (letter of credit), KTA (Kredit Tanpa Agunan), Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Kendaraan Bermotor, Kredit Usaha Tani, Kartu Kredit, Pembiayaan Renovasi Rumah, dan sebagainya, semuanya kalau tidak “meminjam” pastilah “meminjamkan”. Dan bunga menjadi instrumen wajib di dalamnya.

Dengan model bisnis yang sama, lembaga keuangan lain, terutama lembaga keuangan mikro, seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Koperasi Simpan Pinjam mulai level lembaga hingga rumah tangga, agen pemberi pinjaman partikelir/swasta yang kini bertebaran menawarkan “bantuan” pinjaman dengan bunga ringan dan proses yang mudah dan cepat. Semuanya menggunakan bunga sebagai basis pinjamannya, baik dengan agunan (jaminan) maupun tidak.

Jasa Penutupan Hutang

Saat ini juga marak tawaran dana untuk penutupan hutang yang kita miliki, termasuk tagihan kartu kredit yang telah jatuh tempo. Promosi mereka gencar via medsos maupun broadcast SMS. Istilah kerennya: jasa take-over alias pengambilalihan kewajiban hutang kita dari pihak lain.

Ketika kita terbelit hutang atau pinjaman pada suatu lembaga keuangan, yang sudah jatuh tempo, bahkan sudah bunga-berbunga, biasanya ada upaya dari lembaga keuangan untuk menagih dengan berbagai cara, mulai dari per telepon hingga datang ke rumah, dari cara lunak hingga tidak lunak lagi, seperti menggunakan jasa debt collector. Hal demikian tentu menjadi gangguan tersendiri bagi seseorang yang terbelit hutang tersebut. Oleh karena itu, jika ada pihak lain yang mengulurkan tangan membantu menjauhkan dari kesulitan-kesulitan tersebut, tentu akan disambut baik. Inilah yang ditangkap sebagai peluang usaha bagi sebagian pihak.

Kalau orang tersebut setuju di-take-over, maka pihak yang mau take-over akan melunasi hutang orang tersebut, sehingga permasalahan orang tersebut dengan lembaga keuangan terkait sebelumnya praktis selesai. Debt collector tak datang lagi dan telepon-telepon seketika senyap. Hanya saja, jasa take-over seperti ini tidaklah gratis. Setelah take-over, hutang orang tersebut akan berpindah dari lembaga keuangan sebelumnya ke “sang penolong” dengan skema pelunasan yang baru. Untuk segala budi baik yang telah dilakukannya, sang penolong ini meminta kompensasi bunga sekian persen dari nilai hutang yang di-take-over.

Jadi, hutang yang sebelumnya berpindah ke pihak lain dengan ditambah bunga lagi sebagai jasa take-over. Ini sama halnya lepas dari mulut harimau lapar, masuk ke mulut buaya ganas!

Investasi Bodong

Sebagaimana pernah dibahas dalam edisi 2-3 tahun yang lalu, masih sering terulang model-model investasi dengan iming-iming return yang tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJS) hingga Juni 2016 telah menerima 430 pertanyaan seputar Kadang mereka menggunakan emas atau barang lain sebagai kamuflase agar dianggap investasi komoditi. Padahal yang terjadi pada hakikatnya hanyalah pinjaman dengan iming-iming hasil yang tinggi, fixed per bulan.

Kasus investasi bodong anyar, tahun 2016 awal, melibatkan artis Sandy Tumiwa misalnya. Mereka menawarkan investasi kepada calon investornya untuk membantu pendanaan forex trading melalui PT CSM Bintang Indonesia. Mereka memberi iming-iming return 40% per bulan dari nilai investasi.

Ada lagi kasus terbaru melibatkan PT Cakrabuana Sukses Indonesia (CSI). Mereka menawarkan investasi melalui trading emas, dengan keuntungan bunga yang dijanjikan 5% fixed per bulan. Tak kurang sudah 7000 orang ikut menginvestasikan uangnya paling tidak Rp 50 juta per orang.

Kedua model investasi tersebut pada hakikatnya pinjaman dana dengan iming-iming return / bunga yang fantastis sehingga mampu menarik minat banyak masyarakat. Pada kenyataannya, perusahaan investasi akhirnya gagal membayar bunga kepada nasabahnya pada suatu ketika, karena bisnis mereka memang tak ubahnya bisnis dengan menggunakan skema Ponzi: uang nasabah yang baru digunakan untuk membayar nasabah yang lama.

Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada apabila mendapatkan tawaran investasi dengan hasil yang di luar kewajaran. Apalagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerima 430 pertanyaan dari Januari s.d. Juni 2016 seputar penawaran investasi. Namun 163 di antaranya tidak jelas otoritas pengawasnya, sementara sisanya tidak jelas informasi tentang bentuk investasinya.

Wallahu a’lam.

[]