Mengajari Anak Memperhatikan Hal Yang Kecil

Oleh : Ulinnuha, S.Psi

SPIRIT DARI PEKERJAAN “KECIL”

memberi-makan-persiaSeorang lelaki tua sepanjang hari menyusuri rel kereta, tangannya selalu membawa sebuah kunci memeriksa satu persatu mur penyangga rel. Jika menemukan mur yang kendor/mau lepas, dengan cekatan baut itu kembali dirapatkan sehingga tertanam dengan sempurna seperti sedia kala dan tidak pernah terlewatkan satu mur pun. Spirit atau semangat untuk menyelamatkan nyawa penumpang, membuat ia tetap melakukan pekerjaan tersebut. Bila ia meninggalkan pekerjaan ini sehari saja, kemudian ada mur penyangga rel yang lepas, kondisi itu bisa membahayakan perjalanan kereta api. Jika kereta api mengalami kecelakaan dan seluruh penumpangnya meninggal, akan ada beribu orang yang kehilangan orang yang dicintainya.

Cerita diatas menginspirasi kita bahwa pekerjaan atau perbuatan yang dianggap orang sebagai suatu yang kecil atau remeh justru mempunyai dampak yang besar. Rasulullah mengajarkan umatnya untuk memperhatikan hal-hal yang kecil, misalnya adab ketika buang hajat, ketika bersin, adab tidur.

Berikut hadits yang menjelaskan akan pentingnya memperhatikan hal-hal yang kecil :

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ » رواه مسلم

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan sedikitpun dari kabaikan-kebaikan meskipun hanya kamu berjumpa saudaramu dengan muka manis” (H.R Muslim dari Abi Dzar r.a )

Hadits di atas menjelaskan tentang larangan meremehkan asset kebaikan yang dipandang oleh sebagian manusia sebagai kebaikan yang kecil dan remeh. Hal itu dikarenakan bahwa setiap kebaikan sekecil apapun yang dilakukan oleh seorang mukmin pasti memiliki tempat tersendiri disisi Allah SWT dan melahirkan kebaikan-kebaikan di dunia dan akherat. Dari sinilah seorang mukmin harus menghimpun kebaikan-kebaikan sebanyak mungkin walaupun kebaikan itu dalam pandangan sebagian manusia dianggap terlalu sederhana. Fakta membuktikan bahwa perkara-perkara besar selalu berawal dari akumulasi perkara-perkara kecil. Begitu juga kebaikan-kebaikan yang kecil ketika dilakukannya dengan penuh ketekunan, kesabaran dan kontinyu maka ia akan menjadi kebaikan yang amat besar di sisi Allah swt.

Rasullullah saw memberikan contoh perkara yang dianggap oleh sebagian mukmin sebagai hal yang kecil yaitu bermuka manis. Sepintas hal ini sangat sederhana, namun betapa kebaikan ini manakala dikelola secara maksimal akan menghadirkan sebuah masyarakat yang harmonis. Tidak akan terwujud sebuah masyarakat yang harmonis manakala individu-individu yang ada dalam masyarakat tersebut tidak memiliki sifat ramah yang salah satu cirinya adalah tampilan wajah yang manis dan berseri.

Sebagaimana seorang mukmin tidak boleh menganggap remeh kebaikan kecil maka ia juga tidak boleh meremehkan keburukan atau kemaksiatan yang di mata sebagian masyarakat dianggap sebagai kemaksiatan ringan. Imam Ibnu Qoyyim berkata: “sesungguhnya satu keburukan itu akan mengundang saudara-saudaranya”. Jadi pesan sentral hadits di atas adalah kita tidak boleh meremehkan kebaikan sekecil apapun kebaikan itu. Sebagaimana kita harus membentengi diri kita dari kemaksiatan sekecil apapun kemaksiatan itu.

Semangat untuk melakukan sesuatu dari yang kecil tersebut bisa kita terapkan dalam mendidik anak-anak kita agar mereka terbiasa melakukan kebaikan sekecil apapun dan menjauhi perbuatan buruk sekecil apapun. Berikut beberapa hadits yang dapat menjadi motivasi bagi kita dan anak-anak untuk memperhatikan yang kecil-kecil.

  • Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bersabda, yang artinya: “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi.”

  • Dalam kitab Shahih Muslim, sahabat Abu Umamah al-Bahili RA meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang merampas hak seorang Muslim dengan sumpahnya, Allah akan menetapkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga.” Seorang sahabat kemudian bertanya, “Meskipun yang dirampas itu sesuatu yang kecil, wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu arak.”

  • Dari Abi Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW berabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum; maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari)

Sebaliknya biarpun sebuah kejahatan yang dilakukan, “menurut kita kecil” namun bisa berarti besar dimata Allah, selama orang tersebut tidak bertaubat sebelum dia wafat. Sebagai salah satu contoh adalah hadits diatas tentang pengambilan kayu Arak. Apalah arti sebuah “kayu arak”. Kayu arak adalah kayu yang biasa dipakai untuk bersiwak (gosok gigi), dan bagi orang Arab waktu itu, kayu arak adalah sesuatu yang nilainya sangat rendah. Ini artinya seseorang yang merampas hak orang lain kendati nilai harta itu sangat rendah, di akhirat nanti ia akan dimasukkan ke dalam neraka dan diharamkan masuk surga. Oleh karena itu, kita jelaskan kepada anak-anak, bila kita melakukan kesalahan, maka sangat dianjurkan dan diharuskan untuk bertobat, sebelum kita wafat, agar semoga Allah menerima Taubat kita. Dan  bila “kesalahan” kita berkaitan dengan orang  lain, kita diharuskan untuk mendapatkan ridho/maaf dari orang yang bersangkutan.

Semangat untuk memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita biasakan pada anak-anak antara lain adalah:

  • membuang sampah pada tempatnya; bila satu anak terbiasa membuang sampah pada tempatnya, dan bila ini diikuti dengan anak-anak dari keluarga yang lainnya, insyaAllah akan terwujud lingkungan yang bersih, yang bebas dari sampah yang berserakan.
  • meletakkan sesuatu pada tempatnya; bila anak kita terbiasa meletakkan sesuatu pada tempatnya, maka ia terbiasa dengan sesuatu yang teratur. Ketika ia membutuhkan barang yag diinginkan, ia dengan mudah mendapatkannya, tidak membongkar-bongkar sehingga menjadi berantakan.
  • Kebiasaan berinfaq walau hanya sedikit namun dilakukan dengan istiqomah, insyaAllah akan menumbuhkan jiwa empati pada sesama, membawa berkah pada diri dan keluarga mereka serta membawa kemaslahatan bagi orang lain.
  • membiasakan anak untuk menghindari “ghasab” (menggunakan barang orang lain tanpa ijin), karena perbuatan ghasab ini akan membuat pemilik barang kebingungan ketika membutuhkan barangnya tersebut, selain itu akan menimbulkan pertengkaran sesama teman.
  • menghindari sesuatu yang mubadzir, antara lain dengan mematikan lampu ketika sudah tidak digunakan, mengambil makanan, menggunakan air secukupnya.

Semoga dengan memperhatikan hal-hal yang kecil, kita dan anak-anak kita bisa menjadi orang yang tawadlu’, qona’ah , sabar dan mendapatkankan rahmat dan ridla Allah dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Wallaahu A’lam