Menganut Paham Marxisme, Ibarat Menumpang Perahu Bocor

Oleh Handaka Indra S.

Direktur Lazis alHaromain

Pengertian-EkonomiEuforia kebebasan berekspresi, berpendapat pasca reformasi benar-benar menjadi angin segar tumbuh dan berkembangnya kembali ideologi Marxisme. Sebuah ideologi yang bermuara pada tokoh sosiologi yang lahir tahun 1818 di Prusia, yaitu Karl Marx. Oleh Lenin, Marxisme dijadikan ideologi ajaran Komunis. Beberapa pendapat dan pandangan Karl Marx sebenarnya bertentangan dengan prinsip dasar negara kita, bahwa agama merupakan candu (opium) bagi manusia. Karl Marx juga mendukung pendapat Darwin bahwa nenek moyang manusia adalah kera (Teori Evolusi).

Sebagai seorang muslim, tentu kita sepakat jika pada era Orde Baru dilakukan pengawasan, pembatasan, dan bahkan pelarangan terhadap ajaran Komunis berikut dengan ideologinya yang kala itu menjadi ideologi dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Di negeri ini, PKI telah beberapa kali membuat makar. Tahun 1948 peristiwa pembantaian Kiai Mursyid beserta puluhan santrinya yang hingga saat ini tidak jelas kuburnya. Masih di tahun yang sama, rombongan Gubernur Suryo dihadang dan dibantai di hutan Kedungalar Ngawi. Puncak makar PKI adalah peristiwa penculikan, penyiksaan, dan pembantaian 7 Jendral di Lubang Buaya Jakarta. PKI saat ini memang sudah tidak ada, akan tetapi para penganut Marxisme yang menjadi ideologi Komunisme tidak kenal lelah selalu memperjuangkannya.

Pertengahan tahun 2015 lalu, sekelompok orang di Jawa Tengah menggelar konser musik lengkap dengan atribut kaos dan bendera warna merah yang bergambarkan palu dan arit. Lagu genjer-genjer yang cukup menggegerkan di tahun 65-an mereka nyanyikan. Tak pelak kegiatan itu pun dibubarkan oleh aparat. Pada era dimana arus informasi tidak dapat dibendung saat ini, mereka memanfaatkan betul perkembangan teknologi untuk menyebarkan ide dan pemikiran mereka di kalangan anak muda, kaum buruh, dan mahasiswa. Sebagai contoh, jika membuka situs di Google dengan kata kunci “Komunisme sebagai ideologi” akan muncul 115 ribu halaman. Jika dengan kata kunci “Komunisme Indonesia” akan muncul 575 ribu halaman. Ditambah lagi dengan atmosfir akademis di kampus-kampus yang mengedepankan kebebasan berpikir. Acap kali buku bacaan, kajian, dan diskusi tentang ideologi Marxisme dan ajaran Komunis mereka lahap mentah-mentah tanpa adanya filter dan arahan.

Salah seorang dosen pada PTN ternama di Malang menceritakan bahwa pemikiran Marxisme telah meracuni sejumlah mahasiswanya. Beberapa mahasiswa ke kampus dengan pakaian lusuh, dan ada yang mengenakan atribut palu arit. Pada saat orang tuanya dipanggil pihak kampus, orang tuanya yang sangat kuat identitas muslimnya pun sangat terkejut dan meminta maaf. Atmosfir kebebasan akademis di kampus harusnya diimbangi dengan penguatan nilai-nilai moral dan ajaran agama. Bukankah negara kita berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, yang sudah barang tentu tidak ada ruang bagi paham Marxisme dan atau Komunis?

Dalam batas kajian ilmiah tentu dibolehkan, akan tetapi harus ada arahan dan pendampingan. Dan seharusnya mereka yang melakukan kajian terlebih dulu mempelajari dan mendalami tentang agamanya sehingga tidak terjerumus pada pemikiran dan pemahan yang sesat. Ajaran Komunis sebenarnya sudah runtuh dan hancur, seiring dengan runtuhnya Rusia pada era 90-an. Sehingga sebenarnya orang yang menganut paham Marxisme ibarat orang yang manaiki kapal yang sudah bocor yang sudah barang tentu akan karam juga. Oleh karena itu, mempelajari Marxisme seharusnya memang hanya sebatas kajian ilmiah belaka dan tidak sampai menjadi sebuah pemahaman yang dipegang teguh. Alangkah ruginya jika kita melakukan hal yang demikian. Islam sebagai panduan hidup kita, terkandung di dalamnya ilmu yang sangat luas laksana lautan, dan menjadi panduan hidup di dunia dan akhirat. Itu saja kita enggan mempelajarinya, tetapi sebaliknya terhadap Marxisme yang jelas-jelas sudah kolaps kita semangat mempelajarinya. Nggak salah, tuh?

[]