Menggapai Kebersihan Hati

Oleh: K.H. Syihabuddin Syifa’

alumnus Ribath As-Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani, Khadimul Ilmi As-Syarifain

Bila kita bijak, mungkin kita akan menyadari betapa potensi kita untuk mengenal dan mencintai Allah Subhanahu wata’ala belumlah kita optimalkan. Penyebabnya tentu beragam, bisa jadi karena kita terlalu larut dalam rutinitas duniawi. Apalagi dengan aktivitas keseharian yang tidak disinari dengan pelita ilahi, akhirnya hati menjadi kotor.

MENGGAPAI KEBERSIHAN HATI

hn-akalhati.blogspot.co.id

Padahal hati merupakan aset paling berharga bagi setiap manusia dalam mengenal dan menjalin hubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala. Bila kita tidak hati-hati, banyak sekali kotoran yang akan melekat pada dindingnya yang fitrahnya bening nan jernih itu. Penyebabnya pun macam-macam, seperti: riya’, sombong, meremehkan orang lain, bangga diri, hasud, dengki, buruk sangka, marah, dan lain sebagainya. Untuk menjaga hati tetap jernih, kita harus membersihkannya dengan 3 hal, yakni:

 Pertama: latihan kejiwaan. Aspek ini yang diatur dalam konsep maqam (kedudukan). Ada maqam taubat, sabar, tawakal, ridla, qana’ah (nriman), syukur, mahabbah, dan ma’rifat. Untuk menggapai maqam-maqam ini dianjurkan untuk memulai menerapkan nilai-nilai tasawuf tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sangat bagus bila dibimbing oleh Murabbi (seorang guru).

 Kedua: latihan menjaga konsistensi (istiqamah) dalam beribadah, termasuk di dalamnya memperbanyak membaca wirid-wirid dan dzikrullah. Adapun wirid salah satu fungsinya adalah mencerahkan hati dan menghilangkan watak ataupun sifat tak terpuji dalam proses pengamalannya.

Dzikrullah juga berarti melakukan perbuatan-perbuatan baik fardhu maupun sunnah seperti setiap hari ada waktu untuk tilawatil qur’an, baca shalawat, menghadiri kajian-kajian keislaman, dan berdakwah. Karena yang terpenting dalam dzikrullah adalah membebaskan diri dari lalai dan lupa kepada Allah. Sehingga menurut seorang tabi’i agung, Said bin Jubair: “Setiap perbuatan yang didarmabaktikan untuk Allah Subhanahu wata’ala adalah termasuk dzikir.” (lihat: Biografi AsSayyid Muhammad Alawy AlMaliki, Fii Sabilil Hudaa war Rosyaad, hal. 32. Juga Fauzi Sanqrat, AtTaqarrub IlalLah, hal. 3).

Kecerdasan spiritual tidak berpusat di otak melainkan dalam hati. Dan hati harus senantiasa dijaga agar tetap jernih, bersih dari kotoran jiwa

 Ketiga: Berpuasa. Puasa yang bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi puasa dari segala kecenderungan nafsu dan akhlaq-akhlaq tercela. Jadi untuk mengoptimalkan fungsi ruhani (hati) kita harus serius mengusahakan ketiga hal tersebut secara terus-menerus.

Dalam ilmu tashawuf, kesungguhan diri ini disebutمجاهدتالنفس . Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

المجاهد من جاهد نفسه

“Mujahid (orang yang bersungguh-sungguh) adalah orang yang bermujahadah terhadap dirinya.

(H.R. Ahmad dan at-Tirmidzi).

Memang upaya untuk membersihkan jiwa (tazkiyatun nafsi) sejak dini harus dilakukan agar tidak terlena, bangga diri (ujub), dan penyakit-penyakit hati yang lain. Mereka yang bersungguh-sungguh dengan niat dan ketulusan akan ditunjukkan ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Dalam Q.S. al-Ankabut: 69, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

والذ ين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

“Dan orang-orang yang bermujahadah karena Kami, maka Kami akan menunjukkan jalan-jalan Kami.”

Di samping ketiga hal diatas, kita harus mengenal sifat-sifat setan agar tidak terjerumus kedalam godaannya, di antaranya disebutkan dalam al-Qur’an:

  1. Selalu melakukan tipu daya (al-Baqarah: 120)
  2. Selalu berupaya membawa kerugian (al-Baqarah: 119)
  3. Menyulut permusuhan dan emosi (al-Maidah: 90)
  4. Berusaha agar manusia lalai (al-‘An’am: 43)
  5. Senantiasa membuat fitnah (al-A’raf: 23)
  6. Mengelabui manusia dengan imajinasi dan khayal (al-A’raf: 27)
  7. Merusak hubungan sesama manusia (Yusuf: 100)
  8. Menipu manusia dengan keindahan amal (An-Nahl: 63)
  9. Menciptakan keragu-raguan (Thaha: 20)
  10. Mendorong kemubadziran (Al-An’am: 112)
  11. Memberikan harapan kosong (Al-Hajj: 52)
  12. Menghalangi jalan Ilahi (Al-Ankabut: 38)
  13. Mendorong kepada riba (al-Baqarah: 275)

Penjabaran tentang tipu muslihat setan bisa kita telaah dalam kitab-kitab tashawuf seperti: Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali atau mukhtasharnya Imam Abdullah bin Alawy Al-Haddad.

Saudara-saudara yang mulia…

 Kemelut batin yang melanda umat dewasa ini, merupakan rentetan dari entitas moral yang sedang mengalami penurunan. Akibat moral luhur yang tidak lagi menjadi tolok ukur dalam berperilaku sehari-hari. Yang mana bagi setiap pribadi muslim, pembentukan dan pendidikan karakter budi (tarbiyatul akhlaq) haruslah diutamakan.

Kecerdasan motorik biasa tidak menjamin sebuah generasi selamat dari kemelut yang muncul dalam diri dan lingkungan sosialnya. Dibutuhkan sebuah bentuk kecerdasan yang lain agar manusia mampu mengelola dan mengendalikan nafsu agar tidak terjadi kemelut batin. Bentuk kecerdasan yang dimaksud adalah spiritual. Kecerdasan spiritual tidak berpusat di otak melainkan dalam hati. Dan hati harus senantiasa dijaga agar tetap jernih, bersih dari kotoran jiwa. Kejernihan hati inilah yang membuat manusia mampu membedakan dengan tegas, mana yang haq, dan mana yang bathil. Sehingga nilai-nilai suci dan luhur tentang kehidupan akan tetap terpelihara.

Jika hati tidak lagi jernih, maka yang terjadi adalah pergeseran nilai dari nilai-nilai suci yang luhur bergeser menjadi hubbud-dunya. Hati semacam inilah yang membalik kebenaran ajaran yang dicontohkan dan diteladankan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam melalui akhlaq universal dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan inti ajaran tersebut adalah melapangkan jalan menuju kemuliaan di jalan Allah yang bisa kita gali dari ulama salaf yang shalih.

Tradisi mereka, para ulama-ulama tersebut terfokus pada pensucian hati dari kotoran-kotoran duniawi, hasrat syaithaniyah dan nafsu-nafsu yang rendah. Akhirnya mari kita renungkan firman Allah Subhanahu wata’ala di surat al-Isra’: 25,

ربّكم أعلم بمافي نفوسكم إن تكونوا صالحين فإنّه كان للأوّبين غفورا.

Ayat ini mengandung dua hal untuk menyempurnakan jati diri, meliputi:

  1. Kesalehan diri (shalahun nafsi) yang ditujukan pada ayat:   ربّكم أعلم بمانفوسكم
  2. Upaya mencapai kesalehan dengan banyak kembali pada Allah Subhanahu wata’ala yang ditunjukkan pada bagian ayat: فإنّه كان للأوّبين غفورا

 

Maka mari kita bertaubat dan banyak membaca istighfar dalam rangka menggapai kebersihan hati.

 

Wallahu a’lamu bish-shawaab.