Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Mengharap Syafa’at dengan Shalawat | LAZIS AL HAROMAIN

Mengharap Syafa’at dengan Shalawat

Oleh: M. Muhim Kamaluddin

Pengajar TPQ as-Sakinah, Jombang

Dikisahkan bahwa pada malam Rabi’ah al-Adawiyah (seorang tabi’in, sufi yang lahir pada sekitar 105H) dilahirkan ke dunia, tidak ada sesuatu barang berharga yang dapat ditemukan di dalam rumah orang tuanya.Ayahnya adalah seorang yang sangat  miskin. Si ayah bahkan tidak mempunyai minyak barang setetes pun untuk pemoles pusar puterinya itu. Mereka tidak mempunyai lampu dan tidak mempunyai kain untuk menyelimuti Rabi’ah. Si ayah telah memperoleh tiga orang puteri dan Rabi’ah adalah puterinya yang keempat. Itulah sebabnya mengapa ia dinamakan Rabi’ah.

Di tengah kemiskinan yang menghimpitnya itu, si istri berkata,“Pergilah kepada tetangga kita, dan mintalah sedikit minyak sehingga aku dapat menyalakan lampu.”

Sebenarnya si suami enggan meminta kepada sesama manusia.Akan tetapi demi menenteramkan hati istrinya, ia pergi ke rumah tetangganya. Sesampainya di depan rumah tetangganya, ia menyentuhkan tangan kanannya ke pintu rumah tetangga itu, lantas ia kembali pulang tanpa mengetuk pintu maupun berucap salam.

“Istriku, mereka tidak membukakan pintu rumah mereka,” kata sang suami kepada istrinya. Isterinya yang malang menangis sedih. Dalam keadaan yang serba memprihatinkan itu si suami tetap tegar dan bersabar. Ia mengadu kepada Allah dalam munajatnya yang panjang di tengah kegelapan malam. Tidak lupa ia memperbanyak shalawat kepada Baginda Muhammad shallallahu alaihi wasallam.  Rasa letih tidak ia hiraukan, sampai ia tertidur karena badannya yang payah. Ditengah tidur tersebut, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Nabi menghiburnya, “Janganlah engkau bersedih, karena bayi perempuan yang baru dilahirkan itu adalah ratu kaum wanita dan akan menjadi penengah bagi 70 ribu orang di antara kaumku.” Kemudian Nabi meneruskan, “Besok pergilah engkau menghadap ‘Isaaz-Zadan, Gubernur Bashrah. Di atas sehelai kertas, tuliskan kata berikut ini:

‘Setiap malam engkau mengirimkan shalawat seratus kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at empat ratus kali. Kemarin adalah malam Jum’at, tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaianmu itu, berikanlah kepada orang ini empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal.’”

Ketika terjaga dari tidurnya, ayah Rabi’ah mengucurkan air mata. Ia pun bangkit dan menulis seperti yang telah dipesankan Nabi kepadanya dan mengirimkannya kepada Gubernur melalui pengurus rumah tangga istana.

”Berikanlah dua ribu dinar kepada orang-orang miskin,” Gubernur memberikan perintah setelah membaca surat tersebut, “sebagai tanda syukur karena Nabi masih ingat kepadaku. Kemudian berikan empat ratus dinar kepada si Syaikh (ayah Rabi’ah) dan katakan kepadanya: ‘Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihat wajahmu. Namun, tidaklah pantas bagi seorang seperti kamu untuk datang menghadapku. Lebih baik seandainya akulah yang datang dan menyeka pintu rumahmu dengan janggutku ini. Walaupun demikian, demi Allah, aku memohon kepadamu, apa pun yang engkau butuhkan, katakanlah kepadaku.’”

Shahabat Nabi Senang Memperbanyak Shalawat

Dari kisah tersebut, kita dapat mengetahui bahwa sejak permulaan generasi Islam, memperbanyak membaca shalawat sudah menjadi kebiasaan dan menjadi kegemaran mereka. Sejak generasi sahabat, tabi’in, dan hingga sekarang ini. Seperti yang dilakukan sahabatUbay bin Ka’ab radhiyallahu anhu. Beliau meriwayatkan:

Aku bertanya,””Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya memperbanyak shalawat kepadamu. Lalu berapakah aku menjadikan waktuku untuk bershalawat kepadamu?”Beliau bersabda,“Terserah kamu.”Aku bertanya, “Seperempat?”Beliau bersabda,“Terserah kamu.Jika kamu menambahnya, maka itu lebih baik bagimu.” Aku bertanya, “Separuh?” Beliau bersabda,“Terserah kamu.Jika kamu menambahnya, maka itu lebih baik bagimu.” Aku bertanya,“Dua pertiga?” Beliau bersabda,‘Terserah kamu.Jika kamu menambahnya, maka itu lebih baik bagimu.” Aku berkata, “Jika demikian, seluruh waktuku akan aku gunakan untuk bershalawat kepadamu.” Beliau rosul shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اِذًا تُكْفَى هَمُّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

“Jikademikian, makatercukupikeinginan (duniadanakhiratmu) dandiampunkandosamu.” (H.R.at-Turmudzi)

BilanganSeratusHinggaTakTerbatas

Andaikan tidak ada perintah untuk bershalawat Nabi, tetaplah sebagai umat Nab shallallahu alaihi wasallam, kita wajib bershalawat kepada beliau, karena Allah dan para malaikat-Nya senantiasa terus-menerus bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lalu bagaimana pula bila ternyata shalawat Nabi itu diperintahkan oleh Allah dalamayatsuci al-Qur’an? Tentu lebih menguatkan lagi keharusan untuk bershalawat kepada beliau.

Allah memerintahkan kitauntuk menghaturkan shalawat kepada Nabi dalam surat al-Ahzab: 56.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Para ulama seringkali mengijazahkan untuk membaca shalawat Nabisedikitnya seratus kali setiap hari. Rahasia dibalikhalitu, para ulamaahlihikmah yang sudahmembuktikannya. Sepertihalnya ayah Rabi’ah al-AdawiyahdanIsa az-Zadan,GubernurBaniUmayyah,yang merutinkan shalawat seratus kali. Sedangkan kita kaum awam hendaknya mencontoh dan meneladani mereka.

Secara khusus, kita dianjurkan menambah porsishalawat itu pada hari Jum’at. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الْجُمُعَةِ فَمَنْ فَعَلَ ذَالِكَ كُنْتُ شَهِيْدًا وَ شَافِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Perbanyaklah membacashalawat kepadaku pada hari Jum’at dan pada malam Jum’at.Barangsiapa yang mengerjakannya, aku pasti akan menjadi saksi baginya dan memberi syafa’at kepadanya pada hari Kiamat.” (H.R. al-Baihaqi)

Saudaraku, semoga Allah memberikita pertolongan untuk dapat melanggengkan dan memperbanyak shalawat kepada kekasih-Nya. Karena dalam setiap kesulitan pasti ada jalan kemudahan, dan diantara jalan kemudahan yang paling mudah adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan sebesar-besar kemudahan yang sangat kita harapkan kelak di hari Kiamat adalah mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Wallahua’lamubish-shawab.